
PoV Ryan Abraham
Ini sudah beberapa hari sejak kami makan bersama di rumahku waktu itu dan Rossa saat ini belum juga kembali ke rumah dari rumah sakit sepanjang hari. Karena dia begitu sibuk, aku merencanakan sesuatu yang spesial untuknya. Aku sebenarnya bukanlah seorang pria yang begitu hebat dalam hal romantis tapi aku akan mencoba yang terbaik.
Aku mendengar pintu terbuka dan tampak Rossa masuk ke dalam rumah. Dia terlihat kedinginan dan langsung melompat naik ke atas sofa dengan menghela nafas begitu keras.
"Mama memaksa bahwa aku harus menghabiskan waktuku dengan orang lain. Saudaraku yang bodoh itu juga setuju." Ucapnya.
Aku lalu berjalan mendekat ke arahnya dan menjulurkan tanganku kearahnya dengan perasaan penuh bahagia.
"Apa?" Ucapnya kesal melihat kearah tanganku tapi tidak meraih tangan ku.
Dia malah memegang rambutnya yang tampak sedikit basah itu karena di luar tadi gerimis.
"Ayolah kita akan pergi ke suatu tempat." Ucap ku kepadanya dan memegang tangannya yang dingin.
"Aku tidak akan keluar." Ucapnya menutupi tubuhnya dengan sebuah selimut.
Aku hanya bisa menghela nafas dengan sikapnya yang kekanakan itu.
"Rossa...." Ucapku mencoba untuk terdengar memerintahkan nya.
Dia hanya mengeluarkan lidahnya ke arahku.
"Aku akan duduk disini dan menonton berita." Ucapnya melipat lengan di dadanya.
"Rossa ini malam tahun baru. Apa kau tidak mau menghitung mundur?" Tanyaku kepadanya.
"Berita akan menghitung tepat saat 10 detik nanti." Balasnya.
Dia kembali menutup tubuhnya dengan selimut.
"Tidak, ayo pergi sekarang." Ucap ku begitu frustrasi.
"Tidak." Ucapnya seperti seorang anak kecil.
Aku dengan marah langsung mengangkatnya dan menggendongnya dengan selimutnya dan berjalan keluar.
"Lepaskan aku. Aku tidak akan pernah bicara denganmu lagi." Ucap Rossa dengan marah.
"Kita lihat saja nanti." Balasku langsung memasukkannya ke dalam mobil ku.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Rossa tanpa melepaskan selimut dari tubuhnya.
Dia lalu melepaskan jaket tebalnya dan memperlihatkan gaun berwarna hitam yang dia gunakan.
"Hentikan air liur mu itu terus menetes. Dasar mesum." Ucapnya melihat keluar jendela bahkan walaupun dia tahu di luar sana tampak gelap.
"Dasar mesum." Ucapnya.
"Wanita nakal." Balasku.
"Pria brengsek." Ucapnya dengan menguap.
"Diam lah, kita hampir sampai." Ucapku mengendarai mobil perlahan ke arah sebuah tempat parkir kecil.
"Ayo pergi." Ucap ku dan menyadari bahwa Rossa sudah tertidur di sampingku.
"Kau benar-benar seekor kucing yang suka tidur." Ucapku menghela nafas.
Aku lalu berjalan ke arah sisinya mengangkat tubuhnya dengan perlahan.
"Ikan?" Ucapnya mengigau dalam tidurnya.
Aku menggelengkan kepalaku dan membawanya masuk ke dalam gedung itu naik melalui tangga.
"Tuan Ryan semuanya sudah diatur untuk anda." Ucap seorang pria memperlihatkan ke arah sebuah pintu kepadaku.
Aku mendorong pintu itu menaruh Rossa di atas sebuah matras di atas atap gedung itu. Dia membuka matanya mengusap air liur yang ada di sudut bibirnya.
"Di mana aku sekarang?" Tanya Rossa melihat kearah sekeliling dengan kebingungan.
"Kita akan melihat kembang api." Ucapku berbaring di sampingnya dan menaruh lenganku di bawah kepalanya.
"Disini dingin. Apa kau sudah gila membawa kita ke tempat terbuka seperti ini." Ucap Rossa dengan mengerutkan alisnya.
"Aku jauh lebih menyukaimu saat kau tidak bicara." Ucapku dengan bercanda tetap menatap kearah langit.
"Kau malah lebih suka saat mulutku bicara kotor, dasar pembohong." Ucapnya lalu menggelitik perutku yang membuatku tertawa dengan keras.
"Hentikan.... hentikan..." Ucap ku bernapas dengan kesusahan.
Aku lalu melihat ke arah ponsel ku.
"Tiga..."
"Dua...."
"Satu...." Teriak Rossa saat kembang api mulai menyala.
Bersambung....