My Bossy CEO

My Bossy CEO
Apakah Akan Berlanjut



PoV Ryan Abraham


Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Perusahaan tengah sibuk mendekorasi kantor untuk perayaan natal yang akan datang hanya beberapa hari lagi. Beberapa hari juga akan ada perayaan tahun baru. Rossa tampak berlari dengan semua barang-barangnya berupa dokumen dan file rencana pekerjaan untuk tahun depan.


Kami memang punya cukup waktu untuk mengobrol, bekerja, pulang ke rumah dan segera tidur bersama. Aku berharap hari ini akan berbeda karena aku memiliki kebutuhan khusus yang harus dipenuhi olehnya.


Rossa tertidur dengan cepat di kursi mobil yang ada di sisiku. Kami menutupi hubungan kami kepada semua orang keluarga kami dengan baik. Semuanya berjalan begitu lancar.


Mama Rossa juga sudah menjalani kemoterapi dan aku yakin dia akan baik-baik saja kurang dari 1 tahun.


Aku lalu melihat ke arah wanita yang mendengkur dengan lembut di sisiku saat aku mengendarai mobil dan memutar mataku malas. Dia terlihat seperti harimau di luarnya, tapi dia benar-benar seperti seekor kucing yang lembut di dalamnya. Aku lalu mencubit hidungnya dengan keras.


Kami akhirnya tiba di apartemen.


"Bangunlah kucing nakal." Godaku kepadanya.


Aku lalu melepaskan seat belt yang dia gunakan seraya memberikan sebuah ciuman di pipinya. Dia menguap dan membuka pintu mobil, lalu langsung berjalan masuk ke dalam elevator yang ada di garasi. Aku mengikuti dirinya dengan memegang beberapa file dari perusahaan.


File itu adalah bukti bahwa hubungan kami ini tidak akan bertahan selamanya.


Aku mencoba mengalihkan pikiran negatif ku itu dan berlari mengejar Rossa. Semua yang aku inginkan ada di sini dan aku tidak mau merubah apapun lagi.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Rossa padaku melihat ke arahku dengan khawatir.


Hal lain yang aku pelajari tentang dirinya adalah dia begitu protektif seperti seekor induk ayam yang protektif terhadap anak-anaknya.


"Iya Mama." Ucapku tersenyum.


Dia membalas senyumanku yang membuat lesung pipinya tampak jelas. Matanya melembut dan aku langsung mendorongnya ke arah dinding lift. Dia tersenyum ke arahku membuat giginya yang rapi itu terlihat jelas. Aku memegang mantel yang dia gunakan dan langsung menciumnya dengan penuh hasrat.


"Oh Ryan...." Ucapnya menghela nafas.


"Ke mana semua ini akan berlanjut?" Tanya Rossa padaku dengan menundukkan kepalanya


Aku mengerti dengan pertanyaannya itu. Aku benar-benar ingin terus bersamanya. Aku secara emosional sudah tertarik kepadanya. Aku ingin tenggelam di dalam matanya. Aku ingin berbagi semua momen yang aku miliki dengannya. Aku ingin menjalani ribuan tahun bersama dalam hidupnya. Tapi dia tidak akan menerima perasaanku ini, bahkan jika dia memiliki perasaan yang sama. Dia mau mengejar karirnya untuk lebih tinggi dari apa yang dia dapatkan sekarang.


"Aku tidak tahu." Ucapku.


Setelah beberapa saat terdiam, mataku memperlihatkan kesedihan yang sama dengan yang dia punya. Aku tahu bahwa dia harus memilih antara karirnya dan aku yakin bahwa dia pasti akan memilih karirnya. Jika aku menjadi dia, aku pasti akan melakukan hal itu juga.


"Katakan kau akan mengingatku saat aku pergi nanti, saat kau sudah move on dariku." Ucapnya.


Ting!


Pintu lift terbuka dan aku langsung berjalan keluar berpura-pura tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Tapi tangannya yang kecil itu memegang ku untuk kembali lagi berbalik kepadanya.


"Katakan kepadaku Ryan." Ucapnya.


Aku memilih untuk tetap diam.


"Aku tidak mau untuk menyesali dengan apa yang sudah kita lakukan. Aku ingin berbohong kepada diriku sendiri dan mengatakan bahwa semua ini tidak berarti dan semua ini bukanlah yang aku inginkan selamanya." Ucapnya dengan suara yang terdengar sedih.


Aku melihat ke arahnya dengan tatapan serius dan juga sedih di wajahku.


"Aku akan melakukannya." Ucapku dengan suara yang lembut.


"Ayolah. Ayo cepat, kita harus menghangatkan diri kita." Ucapnya .


Aku lalu memegang tangannya dengan erat. Aku harus melewati waktu yang aku punya dengan penuh cinta bersama dengan dirinya.


Bersambung....