My Bossy CEO

My Bossy CEO
Kesepakatan



PoV Karina Rossa


Sekarang kami berdua sudah berada di dalam mobil milik bos ku.


Aku terus saja menatap ke arah bos ku yang bodoh itu tengah mengendarai mobilnya yang mewah itu dengan bodoh.


"Bos apa bos pikir kita ini seperti pasangan yang hanya melakukan hubungan diatas ranjang saja?"Tanyaku dengan santai kepadanya.


Pak Ryan melihat ke arahku dan menyeringai.


"Apa kau ingin kita memiliki hubungan yang seperti itu?" Ucapnya balik bertanya padaku.


Aku melihat ke arah mobil yang melintas.


Pria di sampingku ini memang benar-benar hebat dalam hubungan ranjang dan itu semua sangat menakjubkan bagiku.


Aku memikirkan tentang bagaimana cara dia memperlakukan aku dengan begitu lembut saat kami beradegan panas. Aku menghela nafas dengan panjang setelah membayangkan hal itu.


"Bisakah anda berhenti untuk bersikap menggoda seperti itu pada saya?" Ucapku kepadanya dengan mengangkat alisku.


Semua itu bukan karena aku membenci komentar pintar darinya, tapi dia benar-benar harus untuk berhenti membuat aku terpesona kepadanya. Aku menggelengkan kepalaku saat aku mengingat hari pertamaku bekerja dengannya. Dia memang seorang pria yang begitu menggoda dan mempesona. Pesona yang dia miliki bahkan dapat memikat semua wanita manapun. Terutama yang bekerja di perusahaan miliknya yang setiap hari harus melihatnya. Dan semua itu sungguh menyulitkan bagiku.


Para wanita yang tergila-gila akan pesona bos ku ini entah kenapa terus mencoba untuk menggangguku di hari pertama aku bekerja sebagai sekretaris. Mereka mulai mencoba untuk membully ku di hari pertama aku bekerja. Tapi, jangan sebut aku sebagai Karina Rossa yang tangguh, jika aku akan menerima begitu saja perlakuan buruk mereka.


Aku heran pada semua wanita yang tergila-gila pada bos ku ini. Apa yang mereka begitu idamkan untuk menjadi wanita dari bos ku ini. Meski harus aku akui bahwa di memang pria yang tampan, tapi sikapnya begitu menjengkelkan. Andai saja aku bisa menukar pekerjaan ini dengan salah satu wanita yang tergila-gila padanya itu, maka aku pasti akan menyerahkan pekerjaanku ini dengan mereka secara sukarela.


Aku masih ingat, pada hari pertama aku mulai bekerja sebagai sekretarisnya. Hari itu setelah aku selesai mengenakan sebuah pakaian yang baru karena seorang wanita ****** yang tergila-gila pada bos ku itu menumpahkan kopi di tubuhku, bos ku yang brengsek ini malah memintaku untuk mengambil sesuatu dari basemen yang membuatku sangat ketakutan karena ada banyak tikus di sana.


Aku wanita yang hebat, kuat, Karina Rosa yang tangguh dan juga nakal. Tapi tikus, benar-benar membuatku sangat ketakutan. Aku harus berlari keluar dengan begitu ketakutan dari basemen itu.


"Aku bukanlah pria yang selalu jahat kepadamu Rossa." Ucapnya padaku.


Ucapannya itu menyadarkan aku dari pikiranku yang sibuk memikirkan tentang masa lalu saat aku bekerja pertama kali sebagai sekretarisnya.


"Apa kau ingat saat kau merusak stocking yang kau gunakan? Sat itu kau berpikir bahwa aku adalah Sarah dan memintaku untuk mengambilkan kau stocking yang baru. Aku pun melakukannya dengan sukarela." Ucap Pak Ryan.


Aku melihat ke arahnya dengan terdiam.


"Tidak heran stocking yang anda bawa itu begitu penuh renda Pak Ryan Anda adalah pria yang mesum." Ucapku.


Dia lalu menatap ke arahku dengan tajam.


"Panggil aku Ryan. Aku merasa begitu tua saat kau memanggilku dengan sebutan Pak seperti itu. Lagi pula, kau tidak perlu bicara begitu formal denganku saat kita sedang tidak di kantor seperti ini." Ucapnya.


Aku lalu melihat ke arahnya. Menatapnya dari samping, yang membuatnya terlihat begitu sempurna. Aku merasa cemburu melihat rahangnya yang terlihat begitu sempurna.


"Anda memang tua. Anda kan lebih tua 4 tahun dari saya." Ucapku terus menatap ke arah wajahnya.


"Apa kau memanggilku pria tua? Bukankah aku sudah katakan padamu untuk jangan bicara terlalu formal denganku seperti itu." Ucapnya kepadaku.


"Mungkin saja. Apa yang bisa kau lakukan akan hal itu Kakek?" Ucapku.


Aku lalu tertawa setelah melihat ekspresi di wajahnya yang tampak kesal itu.


"Kau kejam, tunggulah sampai kita tiba di apartemen nanti." Ucapnya dengan suara yang serak.


"Tunggu dulu! Jadi apakah kita ini benar-benar akan menjadi teman yang saling keuntungan satu sama lain?" Ucapku tertawa lalu menyandarkan kepalaku di kursi.


Setelah aku tertawa, aku melihat ke arah wajahnya yang tampak sangat sangat serius.


"Apa kau berpikir bahwa aku ini tengah bercanda?" Tanya Pak Ryan kepadaku tampak penasaran.


Aku pun mengangguk dan tertawa lagi.


"Tentu saja. Aku kan tidak bisa tidur dengan bos ku begitu saja." Ucapku dengan memikirkan semua rumor yang mungkin saja tercipta jika orang-orang tahu aku tidur dengan bos ku sendiri.


"Kenapa tidak? Apa kau takut?" Ucapnya menggodaku dengan suara seperti bayi.


Aku kesal kepadanya dan mengangkat daguku.


"Aku tidak takut!" Ucapku.


Dia melihat ke arahku dengan menyeringai.


"Kalau begitu ayo kita lakukan Rossa. Kita tidak punya waktu banyak di dunia ini." Ucapnya dengan menyeringai kepadaku.


Aku berpura-pura tidak menghiraukannya. Aku memang wanita yang nakal. Tapi aku tetap saja tidak mau reputasi ku rusak hanya karena orang-orang akan bergosip tentang aku yang menghalalkan segala cara untuk bisa menaikkan karirku dengan menjadi partner ranjang bos ku sendiri.


"Aku tidak butuh bantuan seseorang untuk bisa sukses, terutama dari bos ku." Ucapku membuat ekspresi yang merasa jijik.


Aku begitu terkejut saat Pak Ryan, maksudku si Ryan itu tertawa.


"Omong kosong apa yang ada di dalam kepala kecilmu itu? Aku ini seorang pria yang terhormat." Ucapnya.


Aku mendengus kesal. Tapi dia tidak menghiraukan aku.


"Aku tidak akan membantumu lagi karena aku sudah melakukannya. Jika kau mau, kita bisa membuat sebuah peraturan kecil seperti sebuah kontrak." Lanjutnya padaku lagi.


Aku memikirkan hal itu untuk beberapa saat. Kami hanya akan melakukan hubungan diatas ranjang tanpa ada perasaan tertarik apapun dan tentu saja semua itu akan kami rahasiakan dari seluruh dunia.


Akhirnya aku bisa membuat ada senyuman cerah di bibirku.


"Setuju." Ucapku padanya.


Bersambung....