
PoV Ryan Abraham
Aku melihat ke arah wanita yang ada di depanku dengan rahang yang terbuka dan akhirnya aku mengetahui apa yang dia takutkan.
"Aku minta maaf." Ucapku.
Aku melihat semua karyawan berjalan keluar dari dalam lift sampai hanya tersisa kami berdua saja.
"Ini tidak akan berhasil dengan baik diantara kita. Aku lebih memilih menjadi seorang tahanan dibandingkan dengan menjadi seorang wanita ******." Ucapnya dengan tegas memegang file yang ada di tangannya mendekat ke arah dadanya.
Aku membuka dan menutup mulutku dan tidak punya clue apapun yang bisa aku katakan kepadanya.
"Kau tidak perlu mengatakan apapun. Aku....."
Aku langsung menaruh tanganku di mulutnya dan mengambil sebuah kertas dari dalam file yang ada di tangannya dan menaruhnya di kamera CCTV yang ada di dalam lift dan menekan tombol merah di lift itu tanpa membiarkan dia mengatakan apapun. Aku langsung mengangkat lengannya ke atas kepalanya dan langsung menekan bibirku ke arah bibirnya.
...****************...
PoV Karina Rossa
Ucapan kasar yang ingin aku katakan menghilang begitu saja di udara saat aku merasakan bibir tipisnya menekan bibirku.
Sekali, dua kali, sampai aku akhirnya merasakan bibirnya dan menyadari aku tidak akan pernah merasa cukup akan dirinya. Dia berada di mana-mana, di punggungku, di lenganku, di seluruh tubuhku. Tiba-tiba ciumannya menjadi lebih kuat dan lebih dalam dengan perasaan yang aku tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya.
Tentu saja aku pernah merasakan perasaan aneh yang aku bagikan dengan kekasihku. Ada tiga orang saat aku berada di masa sekolah menengah, enam orang di saat kuliah. Tapi mereka tidak pernah memberikan aku ciuman yang penuh hasrat seperti yang dilakukan Ryan saat ini dan setiap kali kami melakukannya.
Ryan lalu menjauh dariku, dia tampak bernafas dengan terengah-engah. Dia menunduk kemudian bibirnya mengenai pipiku mengusapnya dengan perlahan dan menyentuh tubuhku dengan tangannya yang gemetar itu.
Itu adalah sensasi yang paling erotis yang pernah aku rasakan dalam hidupku.
"Jika kau mau aku untuk berhenti melakukan hal ini, katakan kepadaku sekarang." Bisik nya.
Aku tetap terdiam dan Ryan pun melanjutkan apa yang dia lakukan padaku. Dia mengusap bibirnya di pipiku.
"Atau aku harus berhenti sekarang?" Ucapnya lagi saat bibirnya mengenai tulang pipiku.
Aku tetap diam.
Dia lalu melihat ke arahku dengan ekspresi yang penuh cinta di matanya.
"Aku menghargai dan menghormatimu Rossa, lebih dari Mamaku sendiri. Aku rasa kau adalah seorang wanita yang paling kuat yang pernah aku temui dan aku tahu dirimu. Aku tahu bahwa kau bukanlah wanita sembarangan yang bisa melakukan apapun untuk menaikkan karirmu, apalagi dengan menjadi wanita ******." Ucapnya.
Bulu yang ada di leherku terasa berdiri dan berakhir dengan menatap ke arah Ryan yang ada di depanku. Ekspresi yang ada di wajahnya memperlihatkan kejujuran, dan juga perhatian. Tapi di antara semuanya adalah harapan. Harapan bahwa semua ini bisa berhasil diantara kami.
"Katakan sesuatu kepadaku. Apakah kau bersedia mencoba semua ini? Aku tidak peduli tentang perjanjian yang kita buat beberapa hari yang lalu. Aku hanya ingin bersamamu dan biarkan aku bersamamu." Ucapnya.
Aku melihat ke arah wajahnya dengan ekspresi yang begitu serius.
'Siapa yang bisa mengetahui bahwa Tuan Ryan Abraham, pria brengsek ini bisa begitu romantis.'
Aku mengangguk dengan pipiku yang terasa menghangat.
"Baiklah." Ucapku yang membuat sebuah senyuman muncul di wajahnya.
"Aku tidak bisa mendengar mu Rossa." Ucapnya dengan suara yang menggoda.
Aku memutar mataku malas dan meninju perutnya yang membuat Ryan langsung terlihat kesakitan.
"Sorry." Ucapku dengan menelan ludahku membuat dia tertawa.
Kami melompat saat ponsel Ryan berdering dengan nada yang terdengar begitu menjengkelkan. Ryan lantas menjawab panggilan itu.
"Iya... iya... kami baik-baik saja, jangan khawatir." Ucap Ryan.
Aku yakin itu pasti seorang teknisi dari gedung ini karena Ryan tadi dengan sengaja menekan tombol darurat.
"Iya liftnya berhenti secara tiba-tiba." Ucap Ryan lagi.
Aku melihat dia yang tampak gugup dengan jakunnya yang naik turun.
"Jangan khawatir, kami akan ada di lantai atas beberapa saat lagi." Ucapnya lagi.
Bersambung....