My Bossy CEO

My Bossy CEO
Datang Bulan



PoV Karina Rossa


"Oh ya Tuhan kau aneh! Kenapa kau terus menatapku saat aku tertidur." Ucapku lalu terbangun dengan perlahan.


Rambutku begitu berantakan dan mataku terasa membengkak. Aku mengedipkan mataku dengan grogi ke arah bos ku yang tampan itu. Dia melihat ke arahku dengan penuh terpesona dan membuka bibirnya yang seksi itu dan nafasku berada di dadanya mengantisipasi apa yang akan dia katakan.


"Kau mendengkur dengan sangat keras." Ucapnya menyeringai.


Aku menatapnya dengan tajam.


"Tidak bisakah kau menjadi orang yang gentleman sekali saja." Ucapku menghela nafas dan merasa frustrasi lalu bangun memicingkan mataku.


Sepertinya sekarang waktuku datang bulan dan aku merasa perutku begitu sakit. Ternyata apa yang aku pikirkan memang benar, saat Ryan melempar sebuah bantal ke arah bokongku dan berteriak seperti seorang anak kecil.


"Kau berdarah! Apakah kau datang bulan? Haruskah aku melakukan sesuatu?" Ucapnya dengan begitu gugup yang membuatku tidak bisa menahan diriku ingin tertawa.


Tapi aku mulai bertingkah sedikit berlebihan. Aku mulai memalsukan air mataku agar turun ke pipiku.


"Bi.... Bisakah kamu memberikan pembalut untukku." Ucapku dengan suara yang terdengar begitu memohon.


Aku begitu terkejut karena dia langsung bangun dan mulai mengenakan pakaiannya.


"Merk apa yang biasa kau pakai?" Tanya Ryan kepadaku dengan cepat membuatku menatap ke arahnya tajam.


"Kau pikir aku ini orang bodoh dan tidak menyimpan pembalut di rumah?" Ucapku.


Aku lalu membuka laci di mana aku menyimpan sebuah kotak yang sangat besar berisi berbagai macam produk pembalut.


"Kau!" Ucapnya terdengar kesal dari belakangku.


Aku lalu menatap ke arahnya.


"Apa? Seharusnya kau bahagia." Ucapku.


Aku lalu mengambil beberapa barang pergi ke kamar mandi untuk aku bawa bersamaku dan sebelum aku menutup pintu kamar mandi, aku melihat ekspresi aneh dari wajah Ryan. Aku menggelengkan kepalaku dan menutup pintu kamar mandi dengan keras.


...****************...


PoV Ryan Abraham


Aku begitu marah pada diriku sendiri karena bertingkah seperti suami yang penuh perhatian pada Rossa. Aku marah dan terus saja marah pada diriku sendiri dengan mencengkram bantal biru yang ada diatas tempat tidur seperti anak kecil yang tengah mengalami tantrum.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Ucap Rossa dengan suara yang terdengar dingin dari belakangku dan aku berbalik menatap ke arahnya.


Dia tampak menggunakan pakaian berwarna hitam dan celana yang ketat.


"Aku tidak..."


Aku tidak menyelesaikan ucapanku karena melihat wajah Rossa yang tampak pucat dan ada keringat di pelipis dan wajahnya.


Aku berhati-hati memegang kepalanya dan dia menaikkan alisnya melihat ke arahku.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Aku sudah melalui semua ini sejak aku masih remaja. Ini hanya sakit sedikit saja." Ucap Rossa memutar matanya dengan wajah yang menahan sakit.


"Bisakah kau bekerja hari ini?" Tanyaku kepadanya dengan khawatir.


Aku melihat ke arah tangannya yang tengah memegang perutnya. Dia menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dengan perlahan.


"Aku akan meninggalkanmu jika kau tidak keluar dalam waktu 5 menit." Teriaknya dari luar.


Aku langsung berlari ke arah kamar mandi.


Beberapa saat kemudian...


Aku keluar dengan mengenakan setelan serba hitam yang Rossa bawa dari apartemenku. Rambutku masih berantakan dan belum disisir. Aku melihat Rossa tengah memberikan makan kepada Choko, kucingnya dan dia tengah makan pisang di waktu yang bersamaan.


"Akhirnya. Ayo cepat." Ucap Rossa melihat ke arahku.


Dia lalu tampak panik melihat ke arah jam yang ada ditangannya.


"Cepat lah, kita akan terlambat Nyonya D akan membunuhku." Ucapnya.


Aku menatapnya dengan bingung. Untuk apa dia takut terlambat jika dia bersama denganku.


"Akulah bosnya. Kita bisa terlambat." Ucapku.


Dia menatapku tajam.


"Tapi aku ini seorang pegawai bukan bos sepertimu oke. Ayo cepat." Ucapnya.


Kami dengan cepat berlari ke arah garasi dan menuju mobilnya yang berwarna putih. Aku duduk di kursi pengemudi sebelum dia bisa duduk lebih dulu.


"Dasar bodoh." Umpatnya


"Wanita dungu." Balasku.


"Brengsek!" Umpatnya lagi.


"Wanita sialan." Balasku lagi.


"Gigolo..." Ucapnya yang membuatku membelalakkan mataku.


Kami terus saling menyumpahi sampai kami akhirnya tiba kantor.


Bersambung....