
PoV Karina Rossa
Aku melihat ke arah Ryan penuh cinta, dengan senyuman yang sempurna di wajahku. Aku kemudian menatap ke arah cincin berlian mahal yang melingkar di jemari manis ku. Cincin yang baru saja diberikan Ryan padaku.
"Kau mabuk Ryan. Aku pikir kau bisa mentoleransi alkohol dengan minum cukup banyak. Ternyata aku salah." Ucapku memegang punggungnya untuk membantunya berdiri.
"Aku hanya sedikit mabuk. Aku masih bisa mengemudi." Protesnya mencoba untuk berdiri dengan tegak.
"Aku masih mau hidup selama 50 tahun lagi. Jika aku membiarkanmu mengemudi dalam kondisi seperti ini, maka aku bisa mati hari ini juga." Ucapku lalu bersandar di tembok yang tampak usang itu.
"Iya Nyonya Ryan Abraham." Ucap yang tersenyum ke arahku mencium sudut bibirku.
"Mesum!" Ucapku tersenyum simpul. "Aku harus buang air kecil, biarkan aku pergi." Ucapku dengan pipi yang merona lalu melepaskan tanganku dari telapak tangannya yang besar itu.
"Cepatlah." Ucapnya dengan menguap dan menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Aku akan segera kembali." Ucapku lalu berjalan menjauh darinya.
Beberapa saat kemudian, aku berbalik dari kamar mandi dan melihat di mana Ryan berada. Tapi dia tidak ada di sana. Aku tidak tahu bahwa keputusanku untuk meninggalkannya pergi ke toilet adalah hal yang paling tidak pernah aku sangka tentang kejadian yang akan terjadi selanjutnya.
"Sarah, apa kau melihat Ryan?' Tanyaku dengan khawatir kepada sahabatku yang benar-benar mabuk yang tampak tengah bergelayut manja di leher seorang pria tampan itu.
"Oh Rossa.... lihatlah spesimen pria tampan yang aku temukan ini." Ucap Sarah tertawa menunjuk ke arah pria itu.
'Ah wanita ini benar-benar membuang waktuku saja.' ucapku dalam hati.
Aku lalu kembali berkeliling dan bertanya-tanya pada orang yang berada di dalam klub itu.
"Hei apakah kau pernah melihat pria ini?" Tanyaku kepada seorang wanita yang tengah menari seraya memperlihatkan ponselku padanya.
"Oh iya, aku melihatnya. Dia pergi lewat sana, tapi...."
"Terima kasih." Ucapku menyela ucapan wanita itu dan berlari ke arah ke mana dia menunjuk.
Ternyata di sana ada 6 kamar yang sepertinya kamar yang dikhususkan untuk melakukan hubungan ini. Setiap kamar terdengar banyak sekali suara rintihan dari dalamnya.
Aku berusaha menenangkan pikiranku.
'Ryan tidak mungkin masuk ke dalam salah satu kamar ini dan pingsan disana kan? Atau jangan-jangan dia malah melakukan sesuatu?'
Pertanyaan itu terasa sangat menggangguku. Aku memutuskan untuk memeriksa setiap kamar itu. Aku mendobrak pintu dengan kasar menyela aktivitas yang tengah dilakukan sepasang pria dan wanita yang tengah melakukan hubungan diatas ranjang.
Sampai kamar kelima, aku belum juga melihat Ryan.
"Aku punya seorang tunangan. Aku benar-benar tidak tertarik."
"Ayolah tampan! Ini hanya hubungan satu malam saja. Tunangan mu tidak akan mengetahuinya." Ucap seorang wanita dengan suara yang begitu menggoda.
Aku hendak memutar gagang pintu itu. Tapi aku menahan diriku, hanya untuk menunggu apa respon dari Ryan.
"Dia tidak akan tahu!"
Aku mendengar suara Ryan yang terdengar begitu jelas. Aku tidak percaya dia mengatakan hal itu. Itu berarti dia memang berniat melakukan hubungan itu dengan wanita lain.
'Dia tengah mabuk Rossa! Dia pasti sedang bercanda.' ucapku dalam hati meyakinkan diriku bahwa Ryan tidak akan mungkin melakukan semua itu padaku.
"Baiklah." Ucapku menghela nafas alu membuka pintu itu.
Aku langsung begitu terkejut melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Dia baru saja mau melamar ku 2 menit yang lalu dan sekarang dia malah melakukan hubungan itu dengan wanita lain. Aku menarik nafas dalam dan menahan air mataku dan mendorong pintu itu dengan keras.
Ryan tampak tengah menurunkan celana dari wanita itu turun pinggangnya. Bibirnya tengah berada di dada wanita itu. Sementara wanita itu sibuk menyentuh setiap inci tubuhnya, termasuk apa yang bersembunyi dibalik celananya.
"Ryan Abraham.... kita sudah berakhir. Kita benar-benar putus." Ucapku dengan tenang kepada pria yang berasa di atas tempat tidur dengan wanita lain itu.
Ryan memalingkan kepalanya dari dada wanita itu. Wajahnya tampak begitu terkejut melihatku.
"Rossa.... Aku...."
"Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan lagi diantara kita berdua. Tolong kemasi barang-barang mu dari apartemenku." Ucapku.
Suaraku terdengar begitu tajam dan aku berusaha mengabaikan rasa sakit yang ada di dalam dadaku dan langsung membuang cincin yang baru saja diberikannya sebagai lamaran tidak romantisnya itu padaku ke atas tempat tidur dimana dia tengah berada bersama dengan wanita lain.
"Rossa......" Teriaknya.
Aku tidak menghiraukannya dan berjalan menjauh dari sana. Aku menyumpahi diriku sendiri dengan memikirkan bahwa Ryan Abraham akan benar-benar bisa bersama denganku selamanya. Aku merasa begitu kesal memikirkan betapa bodohnya aku ini.
"Rossa aku bersumpah bahwa aku mabuk. Aku tidak...."
Sebuah tangan memegang tanganku dari arah belakang. Aku langsung menghempaskan tangannya dan menarik tanganku lalu menampar pipinya dengan sangat keras. Meninggalkan tanda merah di pipinya. Bahkan tanganku terasa sakit dan memanas setelah menamparnya.
"Menjauhlah dariku Ryan Abraham." Ucapku.
Tiba-tiba ponselku berdering dengan suara nada yang familiar.
"Karina Rossa di sini...." Ucapku.
"Nona Rossa, Mama anda berada dalam kondisi kritis. Tolong segera datang ke rumah sakit...."
Bersambung....