
PoV Ryan Abraham
Rossa berhenti berjalan dan untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di matanya.
"Anak sialan! Apa yang kau lakukan di sini?"
Aku begitu terkejut sekaligus bingung saat CEO dari Calvin enterprise berteriak kepada Rossa.
"Aku... Aku...."
Rossa melihat ke sekeliling seolah dia tengah merasa begitu canggung dengan semua yang terjadi. Pria yang berdiri di depan Rossa itu langsung menampar wajahnya.
"Dasar kau anak sialan! Beraninya kau muncul di depanku." Teriaknya lagi.
Aku begitu marah melihatnya berlaku kasar kepada Rossa dan aku refleks langsung meninju wajah pria paruh baya itu.
"Dengan segala rasa hormat! Kau tidak punya hak untuk menyentuh seseorang yang berada di bawah perlindunganku. Tolong tinggalkan tempat ini jika kau tidak tahu peraturan yang ada Tuan." Ucapku dengan penuh kemarahan.
"Wanita ****** ini memiliki darahku di dalam tubuhnya. Tentu saja aku bisa menyentuhnya." Ucap pria itu dengan tajam yang membuat Rossa ketakutan.
Aku menatap pria itu dengan tajam dan menyadari bahwa dia memang terlihat mirip dengan Rossa. Mulai dari hidungnya yang mancung terlihat sama dengan hidung yang dimiliki Rossa, bentuk telinganya dan juga matanya yang besar.
Rossa tampak berdiri tegak, dia menunjukkan bahwa dia kini bertindak berani.
"Tuan Calvin, pengadilan menyatakan bahwa kita berdua merupakan orang asing saat aku berusia 10 tahun. Tolong jaga bicara anda dan untuk anda Pak Rian, saya menyarankan kita tidak perlu menandatangani kontrak dengan perusahaannya. Attitude yang dia punya tidak terlihat baik dan juga pantas untuk bekerja sama dengan kita." Ucap Rossa.
Aku langsung menganggukkan kepalaku dan melingkarkan lenganku di pinggangnya.
"Tentu saja Rossa." Ucapku.
Pria itu tertawa seperti seorang maniak.
"Dasar kau wanita ******. Kau mungkin bisa kabur bersama dengan ibumu yang murahan itu dan juga saudaramu. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi." Ucap pria itu tertawa lagi dan meninggalkan tempat pesta itu membuat beberapa orang menatap ke arahnya.
Rossa tampak nyaman dengan tanganku yang ada di pinggangnya dan bahkan mendekat ke arah tubuhku seolah dia lupa bahwa dia membenciku.
Aku pun menyeringai.
"Apa kau mulai merasa nyaman sekretaris Rossa?" Ucapku.
Dia lalu menatap ke arahku dengan tajam.
"Ini adalah sentuhan anda yang paling dekat dengan tubuh saya Pak. Jadi ayo lepaskan jika anda masih mau tangan anda utuh." Ucap Rossa.
Aku bertingkah ketakutan.
"Baik Nyonya." Ucapku. "Jadi maniak itu adalah pendonor sperm*?" Tanyaku penasaran.
Rossa meringis, "Sayangnya dia itu bukan hanya pria brengsek tapi juga sangat kasar. Lihat ini." Ucap Rossa yang menunjukkan tato kupu-kupu di punggungnya itu. "Ini adalah bekas saat dia menyayat punggungku dengan pecahan botol alkohol yang hampir saja membunuhku. Bekas lukanya tidak bisa dihilangkan, jadi aku membuat tato untuk menutupinya. Itu adalah malam paling menakutkan dalam hidupku." Ucap Rossa.
Aku lalu menyentuh tato itu dengan lembut.
"Tidak heran kau begitu kasar kepadaku." Ucapku padanya.
Dia tertawa dan aku menatapnya dalam diam. Itu adalah tawa yang sesungguhnya, tawa yang begitu tulus dan bukan tawa yang palsu seperti yang biasa aku lihat selama ini.
"Kenapa Anda melihat saya seperti itu? Berhati-hatilah saya mungkin berpikir bahwa anda menginginkan yang lebih dari tubuh saya." Ucapnya.
Aku memutar mataku malas.
"Siapa yang tertarik kepadamu. Kau wanita yang begitu nakal." Ucapku.
Dia menatap ke arahku lagi.
"Ayo kita pergi Tuan yang selalu tampil sempurna." Ucapnya.
Aku pun hanya bisa mengikuti dirinya.
Orang-orang menatap ke arah kami dan tampak terpesona terutama kepada Rossa. Kami ini berada dalam lingkaran bisnis yang begitu terkenal dan Rossa memang tidak bisa dilawan saat kami mendapatkan klien yang tidak baik dan dia juga satu-satunya wanita yang bisa mendekat ke arahku dan memerintahkan aku.
Aku tertawa kecil memikirkan semua itu. Asistenku itu memang benar-benar seekor kucing liar.
"Aku berpikir bagaimana kau bertingkah jika kau mabuk." Ucapku.
Dia menyeringai kepadaku.
"Baiklah ayo pergi minum." Ucapnya.
Aku menatap ke arahnya bingung.
"Kau mau pergi untuk minum di siang hari seperti ini?" Ucapku.
Dia menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja. Tidak ada waktu yang spesifik di mana seseorang harus mabuk bukan?" Ucapnya.
Ucapannya itu memang masuk akal.
"Ayo kita pergi ke apartemen saya. Saya punya alkohol di sana." Ucapnya.
Aku pun setuju dan dia tersenyum padaku lalu masuk ke dalam mobilku tanpa menunggu diriku. Wanita ini benar-benar sesuatu.
Kami lalu pergi ke apartemen dalam diam. Rossa melihat ke arah ponselnya beberapa kali.
"Ada apa?" Tanyaku kepadanya saat dia melihat ke arah ponselnya untuk yang ke sepuluh kalinya.
"Saya merasa seolah akan terjadi sesuatu yang buruk." Ucapnya lalu bersandar setelah memasukkan ponsel ke dalam tasnya. "Atau saya mungkin hanya terlalu berpikir berlebihan." Ucapnya seolah dia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Terserah apa yang kau katakan Rossa." Ucapku.
Dia kemudian mulai menaruh tangannya di jendela. Aku menelan ludah saat mataku tidak sengaja melihat gaunnya terbuka sedikit dan memperlihatkan kedua pahanya yang mulus itu.
"Kau.... Tidakkah kau tahu bahwa kau mencoba untuk menggoda seseorang." Ucapku.
Aku lalu mengambil dua bantal, lalu menaruh salah satunya di pangkuanku dan yang satunya lagi di pangkuannya untuk menutupi pahanya.
Dia menyeringai kepadaku dan kemudian dengan sengaja menarik gaunnya turun yang memperlihatkan bra yang dia gunakan. Aku menelan ludah membuat jakunku mulai naik turun.
"Sekretaris Rossa, hentikan itu." Ucapku melihat ke arah luar jendela mencoba mengalihkan perhatianku.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya.
"Oh lihat macet! Tepat waktu...." Ucapnya.
Aku menghela nafas.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapku kepadanya dengan suara yang gemetar karena dia langsung duduk di atas tubuhku.
Dia hanya menyeringai, entah apa yang sudah merasuki dirinya hingga membuatnya bisa bertingkah seperti ini.
"Rossa...." Ucapku gemetar.
Aku mencoba untuk memperingatkannya tapi aku juga merasa penuh hasrat dengan godaan yang dia lakukan terutama saat dia tersenyum kepadaku.
"Kaca jendelanya gelap. Jadi tidak akan ada orang yang bisa melihat kita." Ucapnya.
Mataku membelalak.
"Apa kau yakin, kau menginginkan hal ini?" Tanyaku kepadanya.
Dia menyeringai dengan licik kepadaku.
"Ini hanya satu kali permainan Pak." Ucapnya.
Setelah aku mendengarkan hal itu, aku langsung menarik pakaiannya turun dan memperlihatkan tubuhnya, hal itu membuat aku semakin menggila.
"Kau benar-benar wanita penggoda." Ucapku berbisik di telinganya menyebabkan dia gemetar. "Jangan menangis setelah hal ini nanti kucing kecil." Ucapku.
Bersambung....