
PoV Karina Rossa
Aku melihat ke arah pria tampan yang ada di depanku. Jantungku tiba-tiba terasa begitu tenang dan bibirku langsung tersenyum mendengarnya yang mengatakan bahwa dia ternyata merindukan aku.
"Itu bagus." Ucapku melihat ke arahnya tertawa.
Semua ini terasa begitu sangat lama.
"Execuse me miss Rossa." (Permisi Nona Rossa.) Ucap seseorang yang berasal dari belakangku.
"Oh yes!" Balas ku bertanya dengan sopan ke arah wanita muda yang berdiri di sana.
Dari tampilannya, dia mungkin adalah seorang mahasiswa.
"May I have your autograph? You are my role model and I think, you are really amazing!" (Bolehkah saya mendapatkan tanda tangan anda? Anda adalah idola dan panutan bagi saya dan saya pikir Anda begitu menakjubkan!)" Ucap wanita itu padaku.
"Sure!" (Tentu saja.) Balas ku tersenyum dengan cepat.
Aku kemudian membubuhkan tanda tanganku di atas sebuah kertas yang dia berikan kepadaku dan setelah itu, aku melihatnya langsung berlari menjauh dariku.
"Jadi kau tampaknya sangat terkenal sekarang?" Ucap Ryan dengan suara yang terpesona menatap ke arahku.
"Terkenal? Aku lebih cocok disebut dengan populer." Ucapku seraya langsung melipat tanganku di dada.
"Kau juga begitu ramah." Ucapnya kepadaku dengan tersenyum.
"Beberapa hal tidak akan pernah berubah." Ucapku.
...----------------...
Beberapa menit kemudian semuanya terasa begitu aneh terjadi padaku karena entah bagaimana Ryan dan aku sudah berada di dalam sebuah kamar. Kami saling memeluk satu sama lain. Bibirnya yang hangat berada di bibirku.
Dia mencium bibirku dengan penuh hasrat. Bibirku pasti akan bengkak besok.
Bibirnya mulai menjelajah ke leherku.
"Kau tampak sangat....." Ucapannya terhenti saat dia membuka kancing pertama dari pakaianku, "seksi..." lanjutnya setelah membuka kancing kedua. "Sangat seksi dengan menggunakan pakaian seperti ini." Ucapnya.
Dia langsung membuka semua pakaian itu dari tubuhku dan mulai mencium dadaku.
Aku kemudian mulai melonggarkan dasinya.
"Aku sangat merindukanmu Ryan." Ucapku dengan mataku yang menghangat dan ingin mengeluarkan air mata.
Tapi aku dengan cepat menghapus air mata itu untuk tidak mengacaukan atmosfer yang ada diantara kami.
Aku benar-benar termenung saat aku merasakan sesuatu yang basah di hadapanku. Aku pun menyadari bahwa Ryan tengah menangis.
"Aku minta maaf. Aku hanya merindukanmu." Ucapnya sembari terisak.
"Tidak apa-apa Ryan. Aku juga merindukanmu." Ucapku mencium air mata yang ada di wajahnya.
"Bisakah kita menikah, maksudku secepatnya...." Ucapnya padaku dengan matanya yang tampak berbinar.
"Aku tidak keberatan.... Aduh...!" Ucapku merasa sakit saat dia memelukku dengan sangat erat membuat dadaku tertekan di dadanya. "Aku juga bahagia." Ucapku tersenyum.
Aku lalu mencium bibirnya yang tipis lalu menaruh tanganku di dagunya yang lembut itu.
"Apakah kau berhubungan dengan seseorang saat aku tidak ada di sana bersamamu?" Tanyaku melihat ke arah wajahnya yang tampan itu.
Dia tidak mengatakan apapun beberapa saat. Dia hanya terus menatapku. Dia akhirnya bisa membuat aku menghela nafas lega saat dia tampak menggelengkan kepalanya.
"Hanya kaulah satu-satunya untukku Rossa." Bisik nya mencium telingaku dengan lembut.
Dia kemudian beralih mencium ke arah leherku.
"Saat kita menikah nanti, kau harus menggunakan namaku di belakang namamu. Maksudku benar-benar namaku. Artinya namamu harus menjadi Ryan Rossa." Ucapku melihat ke arah pria yang ada di atas tubuhku itu.
Pipinya tampak memerah.
"Iya Nyonya." Ucapnya lalu membenamkan wajahnya di dadaku.
Kami tetap berada dalam posisi seperi itu untuk beberapa saat dan aku menyadari bahwa Ryan ternyata sudah tertidur. Maksudku dia benar-benar mendengkur di atas tubuhku. Dia pasti begitu kelelahan. Aku pun membiarkan dia tertidur dan aku hanya bisa tersenyum ke arah wajahnya.
Bersambung.....