
PoV Karina Rossa
Aku membuka mataku dengan kebisingan yang tiba-tiba memenuhi ruangan. Kepalaku terasa begitu berat dan sangat pusing. Mataku langsung tertuju pada Ryan dengan rambutnya yang acak-acakan dan matanya yang tampak memerah, lalu pandanganku beralih pada saudaraku yang tampak begitu terkejut.
"Kau bangun!!" Teriak Mama dengan suaranya yang memenuhi ruangan ini.
Tapi sebelum Mama dan yang lainnya mendekat, Ryan sudah lebih dulu memberikan ciumannya pada bibirku. Dia menciumku dengan begitu intens dihadapan semua orang. Aku mencoba untuk mendorongnya agar tak terus menciumku karena begitu malu.
"Waahh, ini sangat menarik." Ucap Mama melihat kearahku dengan wajah yang cukup terkejut. "Morgan, cepat ambil gambar wajahnya yang merona malu itu. Cepat ambil gambarnya." Ucap Mama pada saudaraku yang lainnya seraya tertawa.
"Mama, jangan! Awas kau Morgan kalau kau sampai berani melakukannya. Ini sangat memalukan." Ucapku.
"Wah, sepertinya kalian berhubungan cukup dekat." Ucap Nyonya Abraham dengan sedikit terbatuk.
"Mama...!" Teriak Ryan seperti anak kecil.
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka memperlihatkan sosok Aldo yang begitu berkeringat masuk dengan membawa sebuah kotak kecil.
"Aldo, kau tidak diizinkan untuk muncul disini. Kenapa kau masih mengganggu kakak ku?" Ucap Morgan.
"Andrew, Morgan, aku sangat mencintai kakak kali...."
"Jangan pernah berani untuk meneruskan kalimat mu itu." Ucap Ryan dengan ekspresi begitu marah.
Meski matanya tampak memerah karena tangisan tadi, sekarang sorot matanya langsung berubah penuh kemarahan.
"Ma, apa Mama membawa pop corn? Ada film seru yang akan segera tayang." Ucapku seraya memperbaiki posisi kepalaku yang bersandar di bantal.
Ryan menatapku dengan tajam, tapi dia juga kemudian mengusap kepalaku dengan lembut.
"Menikahlah." Ucap kedua Papa kami yang juga ikut masuk ke dalam ruangan itu.
"Pergilah Pa!" Ucapku dengan suara yang terdengar kesal.
"Wah, setelah kau mendapatkan pria muda, tampan dan kaya, kau mencampakkan Papa begitu saja. Ingat Papa lah orang yang akan mengantarmu ke pelaminan." Ucap Papa menggodaku.
"Eheemm...!" Ucap Aldo yang berdeham.
"Aku meminta makanan yang cocok untukmu dari perawat, dan mereka memberikan ini. Aku bisa menyuapi..."
"Diam lah!" Ucap Ryan yang langsung mengambil makanan itu dari tangan Aldo.
Setelah itu, Ryan langsung menyuapi aku sesendok penuh sup yang dibawa Aldo tadi.
"Terlalu panas!" Ucapku dengan membuat wajah yang tampak kesal.
"Makanan apa yang kau berikan pada putriku? Setidaknya berikan dia makanan yang layak, dasar bodoh." Ucap Mama.
"Ma, aku rasa pihak rumah sakit lah yang memberikan...."
"Lihatlah dirimu itu. Kau tampak begitu kurus kering. Kau bahkan terlihat kuning. Kau tidak makan dengan benar!" Ucap Mama protes. "Dan kau! Kau membuatnya bekerja dengan sangat keras. Dia hanyalah gadis kecil. Kau bahkan tidak memberikannya waktu yang cukup untuk bisa mengunjungi Mamanya yang sakit ini." Ucap Mama pada Ryan.
"Mama ayolah! Yang benar saja Ma...." Ucapanku terhenti saat Mama menatapku tajam.
"Hah, kami semua akan membelikan mu makanan yang bergizi. Ayo semuanya keluar kita cari makanan." Ucap Mama.
Mama lalu berjalan keluar diikuti semua orang lainnya di belakang Mama dan hanya meninggalkan aku dan Ryan berduaan di dalam ruangan itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Ryan seraya memijat kepalaku dengan lembut.
"Aku baik, bagaimana denganmu sendiri? Aku tidak bisa melindungi mu dari hal yang terburuk." Ucapku merasa bersalah.
"Aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Bagaimana dengan mu? Apa kau tahu, kau bisa saja meninggal." Ucap Ryan seraya mencium leherku dengan lembut.
"Aku tidak tahu, kau bisa mendapat kekasih yang baru, mungkin?" Ucapku santai lalu langsung menggigit sandwich yang ada dihadapanku.
"Diam lah." Ucap Ryan langsung merebahkan kepalanya di dadaku.
"Hei, dadaku sakit. Cepat bangun...!" Ucapku seraya mendorongnya menjauh.
Bersambung.....