My Bossy CEO

My Bossy CEO
Koma



PoV Ryan Abraham


Aku membuka mata dengan hal pertama yang aku lihat adalah, aku berada di dalam ruangan yang berwarna putih dan begitu bersih. Ada sebuah selang kecil dan jarum yang tertancap di tanganku. Kepalaku terasa begitu sakit dan sangat pening.


"Nak, akhirnya kau bangun." Ucap Mama dengan suara yang terdengar begitu terisak.


Setelah itu Mama langsung merebahkan tubuhnya di dadaku, langsung memelukku.


"Dimana....." Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena tenggorokanku yang terasa begitu mengering dan membuatku terbatuk.


"Ini, minumlah air ini dulu nak." Ucap Mama seraya memberikanku air dengan sebuah sedotan agar memudahkan ku untuk bisa meminumnya.


Air terasa serat masuk ke dalam tenggorokanku saat aku berusaha menelan cairan bening itu.


"Apa yang terjadi?" Ucapku saat akhirnya aku bisa leluasa berbicara.


Wajah Mama berubah sendu dan matanya mulai berair dan ekspresinya tampak begitu sedih.


"Kau terlibat kecelakaan satu minggu yang lalu, dan bahkan itu bisa dikatakan sebagai percobaan pembunuhan. Kau bisa diselamatkan dari hal yang fatal oleh Rossa dengan menjadikan tubuhnya sebagai pelindung dirimu dan kau pun bisa menunduk. Tapi, sekarang dia berada dalam kondisi koma." Ucap Mama.


'Rossa tengah koma? Apa-apaan ini?'


"Dimana dia sekarang? Antar aku untuk menemuinya." Ucapku dan berusaha bangkit dari atas tempat tidur.


Tapi seorang perawat langsung menahan tubuhku agar tidak turun dari atas tempat tidur.


"Tuan Ryan, tidak baik bagi anda untuk bangun dengan kondisi anda yang masih lemah seperti ini." Ucap perawat itu padaku dan terus berusaha untuk menahan ku agar tidak turun dari tempat tidur.


"Sayang, kami sudah mengurus semua biaya rumah sakit Rossa. Jadi kau tidak perlu merasa khawatir." Ucap Mama seraya mengusap kepala ku.


"Aku tidak perduli dengan uang Mama...! Aku...."


Suaraku mulai gemetar. Aku mencintainya dan aku tidak mau dia berada dalam kondisi koma seperti ini.


Sorot mata Mama melembut menatapku.


"Oh Ryan, kami akan membawamu untuk menemuinya. Tapi ingatlah untuk tetap berhati-hati." Ucap Mama.


Ucapan Mama itu seolah memiliki arti yang lain.


"Lalu apalagi yang Mama tunggu?" Ucapku menaikkan suaraku.


Aku didorong menuju sebuah ruangan yang lebih besar dengan tempat tidur yang juga sangat besar dimana disana ada berbaring tubuh kecil milik Rossa. Tubuhnya dipenuhi dengan alat-alat medis berupa kabel dan selang-selang lainnya.


"Apakah dia akan baik-baik saja?" Tanyaku dengan sedih.


Hatiku begitu terluka dengan melihat kondisinya yang seperti itu. Aku lalu mendongak menatap dokter yang tampak ragu.


"Dia masih memiliki sebuah harapan. Jadi sekarang tergantung dirinya yang harus berjuang sendiri." Ucap dokter itu setelah cukup lama terdiam.


"Biarkan aku bicara dengannya." Ucapku.


Aku lalu didorong mendekat kearahnya. Setelah itu, aku mulai memegang tangan Rossa yang terlihat begitu pucat.


"Rossa...." Ucapku berharap bahwa dia akan membuka matanya.


"Rossa...." Ucapku lagi, namun kali ini dengan suara yang gemetar.


"Jika kau melihat sebuah cahaya yang begitu terang dari ujung koridor rumah sakit sialan ini, kau harus segera berlari sejauh mungkin dari cahaya itu." Ucapku dengan tawa yang gemetar berbarengan dengan air mataku yang akan mengucur deras.


"Rossa... Kau tidak bisa meninggalkan aku dengan urusan pekerjaan yang begitu menyebalkan itu. Aku tidak akan bisa mengganggumu lagi jika kau pergi." Ucapku seraya membuat lingkaran dengan jemariku mengusap telapak tangannya.


"Rossa, kau harus menjadi orang yang sukses, dan menakjubkan. Jadi kau tidak boleh mati. Aku berjanji bahwa aku akan menunggumu meski kau harus pindah. Ku mohon...." Ucapku dengan begitu terluka yang membuat air mataku tak bisa ku bendung lagi dan langsung mengucur deras ke pipiku.


"Oh Ryan...." Ucap Papa tiba-tiba dari belakangku dengan suara yang juga terdengar sedih seraya mengusap pundak ku.


"Rossa adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa melalui semua ini. Dokter juga mengatakan bahwa dia bisa bangun kapanpun itu." Lanjut Papa.


"Aku akan membunuh orang yang mencoba untuk menyakitinya. Aku bersumpah untuk membunuhnya." Ucapku dengan terisak saat aku melihat perawat menyuntikkan sesuatu pada Rossa.


"Kau.... Dimana orang tua Rossa?" Ucap seseorang dengan suara yang terdengar cukup familiar bagiku berasal dari pintu ruangan Rossa.


Disana ada tiga orang pria dan satu orang wanita yang bertubuh tinggi menatapku dengan penuh kemarahan. Andrew, adik tiri Rossa mendekat ke arahku dan menaikkan suaranya.


"Kau adalah bosnya, bukan begitu? Aku akan membunuhmu. Saudari kami segalanya bagi kami. Kau...."


"Hei, apa yang membuat semua orang terus berteriak, sialan sekali. Dan kenapa Ryan menangis?"


Bersambung....