
Saat kami sampai di lobi, semua karyawan yang sudah datang melihat ke arah kami dengan tatapan yang menggemaskan.
"Apakah kalian akhirnya bersama Tuan Abraham?" Ucap seorang karyawan yang berjalan mendekat dan meminta kami menunggu di lift.
"Terry, kau bukanlah seorang karyawan yang digaji untuk bergosip. Jadi...."
Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku karena Rossa mulai bicara. Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan, karena itu pasti akan menyakitkan.
"Iya kami pada akhirnya bersama. Aku akhirnya berkata iya." Ucap Rossa memberikan tatapan kepadaku yang membuatku merasa gemetar karena pesonanya itu.
Kami lalu masuk ke dalam lift.
Pintu lift lalu tertutup.
Rossa terus mengingatkan aku tentang penjepit dasi yang harus aku kenakan.
"Aku tidak akan selalu ada di sini selamanya bersamamu." Ucap Rossa.
Aku pun hanya bisa melihat ke arahnya.
Dia akan mendapatkan gelar Master bisnisnya secepatnya dan akan keluar dari perusahaan Abraham Media secepatnya dan aku akan belajar untuk hidup tanpa dirinya. Aku memikirkan bagaimana aku bisa melakukan semua itu.
Aku baru saja kembali dari Prancis 9 bulan yang lalu sejak Papa jatuh sakit dan mulai bertingkah sebagai pemimpin dari keluarga kami.
Rossa adalah orang kepercayaan Papa dan Papa lah yang merekomendasikan dirinya kepadaku dan aku pun mengambilnya sebagai asistenku karena aku pikir dia memang memiliki potensi yang hebat dan dia memang melakukannya dengan baik menjadi asistenku. Tapi dia juga berhasil menarik bagian dari dalam diriku untuk terpesona padanya.
Tentu saja aku tidak bisa menahan diriku untuk tertarik kepadanya. Dia memiliki aura yang hanya dimiliki beberapa orang. Tapi hubungan pekerjaan benar-benar harus professional. Jadi aku harus kejam kepadanya dan mencoba untuk membuatnya menjauh dariku.
"Apakah anda mendengar ku Pak Ryan?" Ucap Rossa kepadaku saat pintu terbuka.
"Ti... Iya." balas ku dengan cepat dia menatapku dengan marah.
"Rossa, Ryan."
Sebuah suara yang terdengar begitu familiar datang dari ruangan ku.
"Om Ben...!" Teriak Rossa langsung berlari mendekat memeluk Papaku dengan sangat bahagia.
Aku melihat ke arahnya dan sedikit tersenyum.
"Kau anak yang kurang ajar. Tidakkah aku memberitahumu untuk memperlakukan bintangku ini lebih baik." Ucap Papa menatap ke arahku dengan tatapan mematikan.
Aku hanya bisa menunduk mendapati Papa yang melihatku seperti itu.
"Rossa sayang, pergilah lakukan pekerjaanmu, bersemangat lah dan Catherine mau aku mengundangmu untuk makan malam nanti. Dia mau memperkenalkan mu dengan seseorang." Ucap Papa pada Rossa.
Rossa tersenyum bahagia dan berjalan keluar dari dalam ruangan ku. Aku hanya bisa menatap punggungnya.
"Jangan melihat ke arah wanita seperti itu." Ucap Papa berteriak padaku.
...****************...
PoV Karina Rossa
Aku bisa mendengar percakapan antara Ryan dan Tuan Betrand Abraham dari luar ruangan mereka. Aku biasa memanggil Tuan Betrand Abraham, dengan sebutan Om Ben.
"Papa hentikan itu." Ucap Ryan yang terdengar jelas dari koridor.
"Kau.... kenapa kau tidak bisa mencoba untuk bersikap lebih baik kepada Rossa?" Ucap Papa.
Aku mendengar suara Om Ben. Om Betrand adalah orang terdekat yang aku miliki sebagai figur seorang Papa. Aku adalah mantan asistennya tapi dia jatuh sakit dan Ryan pun mengambil posisi dirinya.
"Jika saja sikapnya sebaik skill PowerPoint yang dia buat, aku bisa mempertimbangkan hal itu." Ucap Ryan.
Aku melihat ke arah matanya melalui dinding kaca dan dia menyeringai ke arahku.
'Oh Tuhan, dia begitu tampan.'
Tapi dia benar-benar seorang...
"Jika saja aku tidak tahu lebih baik, aku akan berpikir bahwa kalian berdua adalah pasangan orang tua yang penuh dengan percekcokan."
Aku terbatuk mendengarkan hal itu, aku benar-benar ingin untuk meminum air untuk menyegarkan tenggorokanku.
"Papa yang benar saja! Wanita itu bahkan tidak tahu bagaimana membuat secangkir kopi yang benar, rasanya seperti lumpur." Ucap Ryan.
Aku menatap ke arah Ryan dengan wajah yang kesal melalui dinding kaca. Padahal aku selama ini membuat kopi yang sangat enak untuknya
"Papa mendengar rumor bahwa kalian berdua sudah bersama sekarang." Ucap Om Ben.
Jantungku terasa berhenti berdetak.
Bersambung....