My Bossy CEO

My Bossy CEO
Rossa Pergi



PoV Ryan Abraham


Aku menggelengkan kepalaku karena rasa mabuk yang aku rasakan. Aku melihat ke arah punggung Rossa yang berjalan menjauh dariku. Pipiku terasa panas karena dia menamparku tadi.


Kenyataan akan apa yang sudah aku lakukan, memukuli diriku sendiri. Aku lalu beralih ke arah bar dan duduk di sebuah kursi. Aku masih mengingat wanita itu tadi menyeret ku pergi bersamanya. Dia mulai menciumku dan mengatakan kepadaku bahwa Rossa tidak akan mengetahui tentang hal itu.


'Brengsek... Brengsek... Brengsek... Apa yang sudah aku lakukan?'


Aku lalu berlari mengejar Rossa sedikit tertatih. Tapi pikiranku sudah mulai jelas sekarang. Aku menghela nafas dan aku tidak bisa pergi terlalu jauh karena ada begitu banyak wanita yang menghalangi, Rossa sudah tidak terlihat.


"Tampan.... Dia sudah pergi. Habiskan saja malam denganku." Ucap wanita yang sama yang menggodaku tadi dengan suaranya yang terdengar begitu menggoda dari belakangku.


Lengannya yang ramping memeluk pinggangku.


"Menjauhlah dariku." Ucapku mendorongnya menjauh dari diriku.


Aku lalu masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang bisa membiarkan aku untuk bisa melepaskan dia pergi dariku.


Saat aku akhirnya tiba di gedung apartemen, aku langsung berlari ke lantai 10 apartemen ke arah apartemen kami dengan kepala yang terasa begitu berat.


"Apa yang kau lakukan?" Ucapku kepada seorang pria yang memindahkan memindahkan barang-barang keluar dari dalam apartemen Rossa.


"Kami mendapat sebuah panggilan dari Karina Rossa yang mengatakan bahwa dia harus mengosongkan apartemennya." Ucap pria itu melihat ke arahku dengan tatapan penasaran.


Aku menaruh tanganku di kepalaku merasa begitu frustrasi dan kemudian berlari dengan tanganku dalam posisi seperti itu. Ponselku berdering dan ada sebuah panggilan dari Papa.


"Iya Papa." Ucapku melihat ke sekeliling.


Jika aku mengendarai mobilku sekarang ke arah mana pun, itu pasti akan menjadi hal yang bodoh untuk aku lakukan karena aku masih merasa pusing.


"Rossa baru saja menelpon Papa. Dia mengatakan bahwa dia akan pergi ke luar negeri dan dia sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya sejak pagi tadi." Ucap Papa.


Aku pun mengangkat alisku merasa begitu bingung.


"Aku tidak tahu tentang hal itu. Kapan dia pergi?" Tanyaku.


"Dalam waktu beberapa jam lagi. Ryan, kenapa dia pergi secara tiba-tiba? Apakah kalian berdua...."


"Papa, aku akan bicara dengan Papa nanti." Ucapku menyela ucapan Papa.


Dia pasti sudah ada di airport sekarang. Aku harus bergegas. Aku lantas berlari ke lantai bawah dengan penuh keringat.


"Bandara Internasional." Ucapku kepada seorang sopir taksi.


"Ya Tuan." Ucap sopir taksi itu lalu bergegas mengendarai mobil menuju jalanan yang kosong.


Dia begitu mengebut membuatku duduk dengan tegang di kursi belakang. Mungkin Rossa pernah berada di taksi ini sebelumnya, itulah bagaimana dia belajar mengendarai mobil dengan begitu berbahaya.


"Kita sudah sampai Tuan." Ucap Sopir itu.


Aku pun keluar dari dalam taksi memberikan bayaran yang banyak untuknya karena sudah bisa membawaku dengan cepat ke bandara. Aku langsung berlari ke arah mobil lain saat aku melihat sebuah mobil SUV berwarna hitam menepi dan Rossa tampak keluar dari dalam mobil itu.


"Karina Rossa.... Jangan bergerak." Teriakku membuat dia berhenti, tapi kemudian dia kembali berjalan.


"Rossa...." Teriakku lagi menariknya kembali ke arah dadaku. "Kau tidak mengatakan kepadaku bahwa kau sudah menyerahkan surat pengunduran dirimu dan kau juga sudah membooking tiket pesawat mu." Ucapku.


"Ryan aku pikir kau akan..... Mmmm bagaimana kau bisa menemukanku?" Tanya Rossa dengan gugup padaku.


Dia tampak menyeka rambut ke belakang telinganya.


"Kau juga tidak menginginkan aku?" Ucapku memegang lengannya dan tidak membiarkan dia kabur dariku.


"Aku harus pergi Ryan. Aku harus pergi ke luar negeri." Ucapnya melihat ke arah orang-orang yang tengah memeriksa barang-barang bawaannya.


"Kau tidak bisa meninggalkan aku seperti ini Rossa." Ucapku.


"Ryan...." Ucapnya.


Dia lalu menarik ku dan menciumku dengan sangat dalam. Kami memisahkan diri dan nafas kami menyatu di hadapan kami.


"Aku harus pergi Ryan. Selamat tinggal." Ucapnya.


Aku melihat dia perlahan menjauh dariku. Kepalaku terasa begitu berat.


"Kau tidak bisa pergi Rossa...." Ucapku, tapi dia sudah menghilang dari hadapanku.


Bersambung....