My Bossy CEO

My Bossy CEO
Menuju Aprteman



PoV Ryan Abraham


Aku menyeringai ke arah wanita yang duduk di sampingku.


"Setuju." Ucapnya.


Aku sama sekali tidak terkejut dengan keputusannya itu.


Karina Rossa memang tidak pernah gagal dalam membuat sebuah kesepakatan yang adil. Aku menepikan mobil ke gedung apartemen kami dengan perlahan. Aku keluar dari dalam mobil lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuknya seperti seorang pria gentleman biasanya lakukan.


Dia tertawa dan keluar dari dalam mobil.


"Wah, lihat siapa yang akhirnya belajar sebuah tata krama untuk menghadapi seorang wanita." Ucapnya.


Aku melihat ke arahnya dan dia langsung menaruh jemarinya ke arah bibirnya seolah mengunci bibirnya itu.


Aku mengambil kunci imajinasi dari tangannya dan membuangnya sangat jauh.


Aku langsung menariknya ke arah lift. Dia memberikan aku sebuah tatapan menggoda dan aku menatapnya dengan gemas.


Pintu lift perlahan tertutup dan aku mengambil nafas dalam mencoba mengontrol hasrat yang ada dalam diriku.


Tangan Rossa secara tidak sengaja menyentuhku terlalu dekat kebagian sensitif ku. Aku mengambil nafas dalam saat dia menunduk memberikanku pemandangan dari bagian belakang tubuhnya. Aku mengalihkan tatapan mataku melihat ke arah dinding lift.


"Pemandangan yang indah, bukan Ryan?" Ucapnya melihat ke arahku seraya mengikat tali sepatunya.


Aku menelan ludah untuk tidak melihat ke arahnya. Dia tampak menggoyangkan boko*ngnya


'Kau bisa melakukannya Ryan. Tidak ada wanita yang bisa begitu mudah menggoda mu.' ucapku dalam hati.


Aku melihat ke arahnya dan aku benar-benar tidak bisa menahan diriku lagi. Aku menariknya ke arahku dan dia tidak bisa bergerak lagi. Aku lalu membuat dia berada dalam pelukanku.


"Pak Ryan, kenapa kau melakukan ini? Aku tengah mengikat tali sepatuku." Ucapnya bertingkah polos.


Aku mendorongnya ke arah dinding dengan marah dan langsung menciumnya dengan begitu kasar. Mulutnya terbuka seolah mengundangku untuk memperdalam ciumanku. Aku lalu memegang tangannya dan menaruhnya ke belakang dan langsung mencium dagu bawahnya. Dia pun mengeluarkan suara rintihan yang membuat aku menyeringai.


"Inilah yang kau dapatkan karena sudah menggodaku." Ucapku.


Dia kembali merintih dan kemudian pintu lift tiba-tiba terbuka.


"Oh sial!" Ucapnya saat seekor kucing yang berukuran sangat besar berlari ke arah kami.


"Halo bayi kecil kesayanganku." Ucapnya menciumi kepala kucing itu.


Aku begitu bingung melihat kucing monster itu mendadak bertingkah lembut kepadanya.


"Ryan ini adalah Choko. Choko ini Ryan. Dengar, kau tidak bisa menggigitnya kecuali aku memintamu melakukannya. Oke." Ucap Rossa kepada kucing yang sangat besar itu.


Aku lalu menatap ke arah Rossa.


Kucing itu mengeram melihat ke arahku dengan marah seolah mengetahui bahwa aku terus menatap ke arah tuannya dengan penuh hasrat.


"Choko sayang, apakah saudaramu yang bodoh itu memberikanmu makan?" Tanya Rossa pada kucing itu lagi.


Kucing itu merengek lalu menjilat tangan Rossa dengan tatapan wajah yang sedih. Aku memutar mataku malas.


"Ayo kita pergi. Kau juga Pak Ryan. Aku akan memberimu makan." Ucap Rossa melihat kearahku. "Aku bersumpah bahwa aku mencium aroma sesuatu yang gosong dari rumahmu kemarin." Ucapnya menyeringai ke arahku, membuatku memutar mataku lagi.


"Kenapa bisa ada binatang buas di sini?" Ucapku menatap ke arah Choko itu.


Maksudku, Choko memang seekor kucing. Tapi ukurannya jauh lebih besar dari kucing normal. Dia bahkan terlihat seperti seekor singa. Aku menatap Choko yang menatapku balik dengan rambut dan telinganya yang terangkat seolah jika aku mengatakan kepadanya bahwa Rossa menyukai aku lebih dibandingkan dirinya.


Aku menatap ke arah kucing bodoh itu dengan kesal.


"Oh iya, dia berada di rumah Mama ku beberapa hari saat aku pindah kemari dan Mama sekarang berada di rumah sakit." Ucap Rossa dan mengambil ponselnya.


"Aku sudah mendapatkan seorang dokter pribadi yang hebat untuk menangani Mamamu karena aku bisa menjadi orang yang baik juga." Ucapku menyeringai ke arahnya melihat ekspresinya yang tampak terkejut itu.


"Terima kasih.... Oh ya Tuhan, terima kasih banyak." Ucapnya dengan begitu bahagia.


Aku sangat terkejut saat dia langsung memelukku dengan sangat erat.


"Wah dengan caramu yang memeluk seperti ini, seorang pria tidak akan bisa bernafas." Ucapku.


Dia lalu menarik dirinya sendiri dan meminta maaf dengan matanya tampak berair.


"Apa kau begitu sedih karena kau tidak bisa memelukku?" Ucapku mencoba bercanda kepadanya mencoba untuk membuat suasana tidak terlalu serius.


Rossa dan kucing besar itu menatap ke arahku. Aku memutar mataku malas melihat ke arah mereka lalu berbalik masuk ke dalam rumah untuk menyembunyikan rona merah di wajahku.


Bersambung....