My Bossy CEO

My Bossy CEO
Bertemu Lagi



PoV Ryan Abraham


4 tahun kemudian..


Aku berjalan di jalanan kota yang tidak pernah tidur ini dengan mengenakan setelan berwarna hitam dan mantel yang panjang. Sekarang cuacanya begitu dingin di negara ini karena sedang turun salju.


Aku berpikir bahwa aku akan bertemu dengan Rossa. Kami pernah sedikit berkomunikasi sejak dia pergi tapi kami sudah benar-benar kehilangan sentuhan kami.


Sejujurnya perasaanku kepadanya tidak pernah mati, tentu saja. Meski orang tuaku terus saja memaksaku untuk menikah dengan seorang wanita yang begitu berkelas, aku akan tetap menginginkan Rossa.


Aku masuk ke dalam sebuah bangunan kaca yang merupakan bagian dari perusahaan Abraham di kota yang berada di negara Paman Sam ini.


"Selamat siang Tuan, kami sudah mengatur sebuah mobil untuk membawa anda pergi ke hotel. Apa anda ingin pergi sekarang?" Ucap seorang pria yang tampak tersenyum kepadaku.


"Tentu saja." Balas ku tersenyum.


Aku lalu mulai melangkah mengikuti dirinya menuju sebuah mobil mengkilap yang sudah menungguku.


"Silakan Tuan." Ucap sekretaris ku membuka pintu mobil untukku.


"Istirahatlah hari ini Mike." Ucapku penutup pintu mobil itu beberapa saat kemudian kami pun dibawa menuju pusat kota ke sebuah hotel.


"Silakan Tuan ucap sekretaris ku itu dengan penuh sopan membuka pintu untukku.


Aku berjalan masuk ke dalam hotel itu.


"Sir this way please, Mr Abraham." (Tuan tolong lewat sini Tuan Abraham.) Ucap seorang wanita menyapaku.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Would you like to eat first or go directly to your room? You must be tired." (Apakah anda ingin makan lebih dulu atau langsung pergi ke kamar Anda? Anda pasti lelah.) Ucap wanita itu lagi dengan sopan dan tersenyum.


"I will eat." (Aku akan makan.) Balas ku dengan singkat.


Aku lalu mengikutinya ke arah ruang makan yang begitu besar di mana ada 5 pasangan yang tengah makan di sana.


"Please sit, someone will come to serve you." (Silahkan duduk, seseorang akan datang untuk menyajikan makanan untuk Anda.) Ucap wanita itu berbalik dan berjalan menjauh dari meja tempat aku duduk.


Aku berbalik dan momen saat aku melihat kearah sana, dia sama seperti sejak dia pertama kali pergi meninggalkan aku.


Matanya yang tampak begitu familiar, rambutnya yang sekarang berwarna hitam denhan bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung dan dia tampak mengenakan pakaian berwarna merah dan celana yang menutupi kakinya yang jenjang itu.


"Nona Rossa." Ucapku menatap ke arah wanita yang ada di depanku itu.


"Sungguh suatu hal yang menyenangkan untuk bertemu denganmu lagi." Ucapnya kepadaku mengangkat tangannya dan menjulurkan nya padaku untuk berjabat tangan.


"Ini sudah sangat lama." Bisik ku kepadanya membuat bibirnya tersenyum sempurna.


"Bisakah aku duduk bersamamu?" Ucapnya kepadaku terlihat menunjuk ke arah kursi kosong yang ada di depanku.


"Silahkan." Ucapku secara langsung melepaskan tangannya menyadari ada cincin yang aku berikan di jemarinya itu.


"Kau mengenakannya?" Ucapku terkejut melihat cincin itu.


Aku memang memasukkan cincin itu ke dalam saku mantel yang dia gunakan saat dia meninggalkanku di bandara 4 tahun yang lalu.


"Tentu saja aku menggunakannya." Ucapnya yang hampir membuatku ingin melompat.


"Tentu saja kau melakukannya." Balas ku tersenyum dan melihat dia memperbaiki pakaiannya.


Rossa tertawa dengan lembut menaruh tangan di wajahnya.


"Apakah ada sesuatu yang lucu Nona Rossa?" Tanyaku melihat dia yang terus menatapku.


"Apakah kau?" Ucapannya terhenti tampak memikirkan sesuatu. "Merindukan aku?" Ucapnya lagi bertanya padaku.


Aku mendekat ke arah meja langsung memegang rambutnya yang lembut itu yang sangat aku rindukan dengan bibirnya yang terus tampak mengenakan lipstik berwarna merah


"Aku sangat merindukanmu." Ucapku padanya.


Bersambung ...