My Bossy CEO

My Bossy CEO
Menolak



PoV Karina Rossa


"Lepaskan aku." Ucapku.


Tapi Ryan terus saja menghujani aku dengan ciumannya yang penuh hasrat. Dia bahkan mulai meraba tubuhku yang membuatku tak dapat menahan rintihan yang keluar begitu saja dari mulutku.


Aku terus saja memberontak tidak mau membuat diriku kalah dari sentuhan yang Ryan berikan padaku. Tapi dia semakin mengganas bahkan dia berusaha merusak pakaian yang aku gunakan. Aku berusaha bertahan, namun kekuatannya jauh lebih kuat dibandingkan aku.


Dengan sekali tarikan dia berhasil membuka gaun yang aku gunakan dan merusaknya.


"Puaskan aku!" Titahnya.


"Tidak." Teriakku.


Aku berusaha melawan. Aku tidak mau lemah dihadapannya. Aku merapikan pakaianku dan berbalik hendak berjalan keluar dari ruangan ku. Aku ingin mengganti pakaianku karena gaunku ini sudah rusak.


"Rossa, berhenti!" Teriak Ryan.


Aku berhenti melangkah tepat di depan pintu ruangan ku.


"Kembali kemari dan puaskan aku. Ini perintah dariku." Ucapnya.


Aku berbalik menatapnya. Tubuhnya tampak tegang. Sorot matanya dipenuhi hasrat.


"Aku bukan wanita murahan!" Ucapku.


Aku lalu berjalan keluar berusaha tidak memperlihatkan bahwa aku tengah gemetar dan tengah menahan hasrat yang ada dalam diriku. Jujur saja, aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan godaan dari sentuhan yang dia berikan. Jika aku tidak keluar dari sini saat ini juga, maka aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.


...****************...


PoV Ryan Abraham


'Sial sekali!'


Aku merasa begitu kacau saat Rossa meninggalkan aku 30 menit yang lalu.


Selama 9 bulan selama ini setiap harinya, setiap pagi aku terus membayangkan tentang Karina Rossa. Aku menginginkan dirinya. Aku sangat menginginkannya lebih dari wanita manapun yang pernah aku lihat dalam hidupku. Tapi satu-satunya masalah adalah kami tidak bisa berdiri bergandengan satu sama lain dengan rukun.


Hanya dengan menyebutkan namanya saja sudah membuatku bergairah.


'Kenapa aku tidak bisa menahan diriku sendiri?'


Aku selama ini sudah menahan diriku hampir selama hampir 1 tahun dan itu semua bisa bekerja. Aku terus menjaga jarak bersikap begitu keras kepadanya agar bisa menahan diriku untuk tidak tergoda padanya. Sekarang aku malah membuat perjanjian bodoh dengan dirinya.


Aku yakin bahwa jika aku bisa memilikinya sekali saja itu akan sangat memuaskan dan segala keinginanku akan berakhir. Aku pasti akhirnya bisa memiliki ketenangan tapi di sinilah aku sekarang. Aku menjadi seperti seorang pria yang bodoh.


Ryan Abraham, sebenarnya tidak pernah bertingkah seperti pemuda yang penuh hasrat dan aku bukanlah pria yang berkencan dengan sembarang wanita manapun di kantorku.


Sebenarnya semuanya berjalan begitu baik sebelumnya. Sebelum aku kehilangan kontrol akan diriku terhadap Rossa.


Rossa tampak berjalan menuju ruangan dengan memakai gaun baru yang dia ambil dari lemari rahasia miliknya.


'Tunggu dulu, itu tidak mungkin gaun itu bukan?'


Gaun itu adalah gaun paling seksi yang pernah aku lihat dia gunakan untuk bekerja. Dia lalu membuka mantel yang dia gunakan. Gaun itu berwarna putih dengan bahan yang membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas dan begitu indah dan juga sangat seksi. Aku menghela nafas dan meremas rambutku dengan frustrasi.


'Kenapa wanita ini terus saja membuat aku tergoda padanya.'


"Ryan, Rossa...' Ucap Papa datang melalui pintu.


Henry berjalan bersama dengan Papa dan wajahnya tampak tersenyum.


"Apa kita sudah bersiap untuk memulainya?" Tanya Henry.


Rossa tampak tersenyum kepada mereka. Dia tampak membawa dua file. Satu diberikan kepada mereka, dia kemudian berjalan mendekat ke arahku dan memberikan satu file lainnya padaku. Aku mengambil file itu darinya dengan mendengus kesal dan tidak melihat ke arahnya.


Aku masih kesal karena kejadian tadi. Aku tidak bisa melampiaskan hasrat ku padanya dan sekarang dia malah semakin menggodaku.


...****************...


PoV Karina Rossa


Ryan tampak marah kepadaku dia mengambil file itu.


"Oh ya Rossa, aku menemukan ini di lantai." Ucap Henry.


Aku mendekat ke arah Henry yang memperlihatkan dua buah kancing berwarna silver yang ada di dalam telapak tangannya.


"Maukah kau bertanya pada orang di sekeliling dan melihat apakah mereka kehilangan ini. Kancing ini kelihatan cukup mahal." Ucap Henry lagi.


Aku merasa wajahku menghangat. Aku benar-benar melupakan tentang gaunku yang rusak karena Ryan merusaknya tadi.


"Hmmm.... tentu." Balasku.


"Henry, bisakah aku melihat itu sebentar." Ucap bos keras kepala ku itu tiba-tiba berbicara mengambil kancing itu dari tangan saudaranya.


Dia lalu menatap ke arahku dengan menyeringai.


"Rossa bukankah kau memiliki gaun dengan kancing seperti ini?" Ucapnya padaku.


Aku dengan cepat melihat sekeliling ruangan. Henry dan Om Ben sedang terlihat mengobrol hal lainnya. Tentu saja itu pasti tentang apa yang terjadi di antara aku dan Ryan.


"Tidak." Ucapku tegas mencoba untuk terdengar bicara dengan sejujur mungkin. "Aku tidak punya kancing seperti itu." Balas ku lagi padanya.


Bersambung....