My Bossy CEO

My Bossy CEO
Kancing Pakaian



PoV Karina Rossa


"Apa kau yakin?" Ucap Ryan.


Dia memegang tanganku dan mulai menjalankan jemarinya di atas lenganku menuju telapak tanganku sebelum menjatuhkan kancing dan menutup tanganku. Nafasku tercekat di tenggorokanku dan jantungku berdetak sangat kencang. Aku menarik tanganku dengan keras seolah tanganku terasa terbakar karena sentuhan darinya itu.


"Aku yakin." Ucapku.


"Aku seharusnya merusak gaun yang kau gunakan tari dengan kancing ini. Kenapa kau tidak mau mengakuinya." Ucap Ryan.


Aku merasa wajahku memanas.


'Apa yang sedang dia lakukan? Apa dia mencoba membuatku terlihat murahan di depan semua orang?'


Dia mendekat ke arahku saat aku menarik tanganku dari pegangannya.


"Kau brengsek!" Balasku dengan mengerutukkan gigiku sebelum dia menjauh melihat ke arah lainnya.


Bagaimana mungkin dia terlihat terkejut seolah akulah orang yang sudah merusak perjanjian diantara kami. Semua hal ini malah semakin membuatnya terlihat menjadi pria brengsek bagiku, tapi untuk mempertahankan reputasi ku di depan para eksekutif perusahaan ini, aku hanya bisa menundukkan kepalaku merasa malu karena aku tidak mau membuat masalah.


Meeting pun akhirnya dilaksanakan. Dengan kemarahan yang ada dalam diriku untuk Ryan, aku terus melihat ke arah bawah untuk tidak menghiraukannya yang menatapku. Sebisa mungkin aku tidak memperhatikan dirinya. Aku terus mengabaikan tatapan darinya itu.


Saat semuanya sudah selesai, aku lalu mengumpulkan semua barang-barang ku dan keluar dari ruangan meeting ini. Tapi seperti yang aku pikirkan, Ryan terus saja mengikuti ku berjalan menuju elevator sampai kami berdua akhirnya menatap satu sama lain dalam diam dalam perjalanan kami menuju ruangan kami.


'Kenapa lift ini tidak bisa berjalan dengan cepat dan kenapa seseorang di lantai yang sama butuh menggunakan lift yang sama?'


Ada banyak orang yang ada di dalam lift ikut masuk tadi bersama dengan kami. Diantara mereka semua, ada yang tengah mengobrol menggunakan ponsel mereka, ada yang tampak sibuk menata file mereka, dan ada juga yang tengah mendiskusikan rencana makan siang mereka nanti.


Saat kami tiba di lantai 11, elevator itu hampir penuh kapasitas. Saat pintu lift terbuka, ada 3 orang lagi yang memutuskan untuk ikut masuk. Hal itu membuat lift dipenuhi oleh orang-orang yang lantas membuatku terdorong mendekat ke arah Ryan dengan punggungku yang berada di dadanya dan bokongku berada di antara belalainya.


Aku merasakan seluruh tubuhnya membeku dan mendengar dia mengambil nafas yang dalam. Daripada harus menekan dirinya, aku mencoba melangkah sejauh mungkin yang aku bisa. Namun dia menarik ku ke arah dirinya lagi.


"Diam lah kau. Aku punya waktu dua detik untuk bisa langsung memukuli mu dengan sepatuku." Ucapku padanya.


Dia malah semakin mendekat kepadaku.


"Kenapa kau tiba-tiba menjadi wanita yang semakin begitu nakal dibandingkan biasanya." Ucapnya padaku.


Aku lantas membalikkan kepalaku dan berkata dengan suara yang berbisik.


"Aku mengerti bahwa aku menyakiti ego mu yang besar itu. Tapi kau hanya membuatku terlihat seperti wanita yang mau menghalalkan segala cara untuk menaikkan karirku di depan Papa mu itu." Ucapku kesal.


Dia melepaskan tangannya dariku dengan rahangnya yang tampak terbuka.


"Tidak bukan begitu." Ucapnya.


Dia lalu mengedipkan matanya kepadaku.


"Apa?" Ucapku kesal kepada pria brengsek itu.


"Aku hanya bermain-main saja." Balasnya.


"Bagaimana jika mereka mendengarkan mu tadi?" Ucapku.


"Tidak, mereka tidak mendengarkan apapun." Balasnya.


"Mereka bisa saja mendengarkan semuanya dan aku ini orang asing. Jika aku kehilangan pekerjaan ini, aku bisa selesai di sini dan aku bisa saja kembali ke daerah di mana aku berasal." Ucapku.


Bersambung....