My Bossy CEO

My Bossy CEO
Pertunangan



PoV Karina Rossa


Mama membantuku mengenakan gaun pertunanganku, sementara hair stylist mulai begitu sibuk. Sarah juga tampak begitu sibuk dan semua itu terlihat di ekspresi yang ada di wajahnya.


"Mama ini terlalu ketat." Teriakku saat Mama menarik korset yang aku kenakan yang membuat aku terasa susah bernafas.


"Bertahanlah." Ucap Mama kesal padaku.


Aku lalu melihat kearah seorang gadis muda yang tengah mengecat kukuku dengan warna pink. Itu pasti akan sangat indah dan tampak begitu menonjol, sangat kontras dibandingkan dengan gaun pertunanganku yang berwarna putih.


"Dia bukanlah wanita tercantik di dunia ini." Ucap Andrew tertawa saat dia masuk ke dalam ruangan ganti ku.


Mama langsung memukulnya dengan perlahan.


"Pria bodoh." Ucap Mama. "Ucapkan dulu kenapa kau ada di sini?" Tanya Mama kepada Andrew.


"Ryan sudah siap." Ucap Andrew mengusap lengannya bekas pukulan Mama.


"Kami akan segera di sana. Katakan saja padanya untuk menunggu." Ucapku bersabar menunggu hair style untuk melakukan yang terbaik dengan rambutku.


"Baiklah." Ucap Andrew lalu pergi.


Setelah Andrew pergi, Mama mulai tampak serius.


"Ryan adalah pria yang baik untuk mu sayang." Ucap Mama.


Aku menatap Mama yang tampak serius dengan air mata yang memenuhi matanya.


"Mama begitu bahagia kau akhirnya bisa menemukan seseorang yang begitu baik sayang." Ucap Mama lagi dengan mencium pipiku kemudian secara tiba-tiba mendorongku ke arah koridor.


Aku lalu berjalan mengenakan high heels ku pergi ke arah Ryan yang tampak menatap ke arah pintu dengan memegang segelas minuman. Dia tidak menyadari kehadiranku. Sementara para pelayan berlari dari ruangan itu saat seorang pria berteriak pada mereka.


Ryan tampak langsung menatap ke arahku yang masuk ke dalam ruangan itu dan momen itu juga, tidak ada orang lain di dalam ruangan itu kecuali kami berdua.


"Rossa..."


Aku tidak mendengar suaranya, tapi aku hanya melihat pergerakan bibirnya yang menyebutkan namaku. Aku kemudian langsung mendekat ke arah dadanya dan mulai merasakan detak jantungnya.


"Ryan...." Ucapku tersenyum langsung memeluknya.


Aku tidak akan pernah merasa bosan terhadap dirinya.


"Aku harap akan ada banyak makanan nanti..." Ucap Ryan yang membuat aku bingung. "Untuk memuaskan perutmu yang besar itu." Lanjutnya.


Aku melihat ke arahnya tampak bingung.


Telinganya mulai memerah karena rasa malu.


"Maafkan aku istriku." Ucapnya lalu mencium pipiku dan meminta maaf.


"Itu sudah cukup." Balasku langsung menariknya dan dengan penuh hasrat menciumnya.


Saat kami melepaskan ciuman kami, semua orang melihat ke arah kami.


Beberapa saat kemudian...


Selama 3 sampai 4 jam kami menyapa para tamu undangan, makan dan minum dengan bahagia. Tak lupa menari dengan irama yang dilantunkan. Andrew mulai menyanyi beberapa lagu yang terdengar tidak merdu di telingaku dan hal itu yang membuat para orang tua tampak marah. Namun para anak muda merasa begitu ceria dengan lagu itu.


'Aku sama sekali tidak mengerti, apa enaknya lagu ini.'


Papa lalu berbicara di pengeras suara dan memberikan pesan kepada kami semua.


"Dia sudah mulai melupakan diriku, Rossa ku." Ucap Papa dengan tangis palsu yang membuat semua orang mulai terdengar tertawa.


Semuanya berjalan begitu mulus dan begitu bahagia. Tapi tentu saja seseorang akan mencoba untuk mengacaukan semuanya.


Pintu ruangan pesta pertunanganku yang tadinya tertutup, tampak terbuka dengan dipaksa dan memperlihatkan para keluarga dari suamiku dan seorang wanita yang berusia sekitar dua puluhan tahun.


"Mama... Papa dan wanita itu..." Ucap Ryan melihat ke arah orang-orang yang masuk ke dalam ruangan pernikahan kami dengan tanpa ekspresi di wajahnya.


"Karina Rossa!" Ucap Om Ben, Papa Ryan.


Dia begitu bergegas mendekat ke arahku dan yang membuatku terkejut dia malah memelukku.


"Aku begitu bahagia karena kau mau menikah dengan putraku." Ucapnya padaku.


Aku dengan canggung membalas pelukannya.


"Aku juga Om." Ucapku kepada pria yang biasa aku panggil Om Ben.


Dia tersenyum menatapku.


"Kau harus mulai memanggilku Papa." Ucap Om Ben.


Dia kemudian menatap istrinya dengan tatapan mematikan.


"Ryan, dengarkan Mama. Kau akan menikah dengan Marissa dan bukannya dengan wanita memalukan ini. Dia bukanlah menantu Mama." Ucap Mama Ryan.


Bersambung....