
PoV Author
Acara pernikahan berlangsung dengan penuh khidmat, dilanjutkan dengan resepsi yang berjalan dengan penuh kemeriahan dan juga kekeluargaan. Rossa dan Ryan duduk di sudut ruangan resepsi pernikahan mereka itu melihat semua orang tertawa dan menari.
Rossa tampak tertawa karena melihat bibir Ryan yang tertutup oleh lipstik dari bibirnya.
"Berhentilah tertawa." Ucap Ryan menarik Rossa untuk duduk di atas pangkuannya.
"Kita sudah menikah." Ucap Ryan tampak bahagia melihat ke arah cincin yang ada di jemari mereka.
"Iya, kita sudah menikah." Balas Rossa mencium Ryan dengan bahagia, matanya tampak berbinar.
"Apa kau menangis?" Tanya Rian mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Rossa.
"Tentu saja tidak." Balas Rosa dengan cepat. "Kau hanya berhalusinasi saja." Lanjut Rossa.
"Tentu saja." Ucap Ryan dengan wajah yang datar.
Dia tampak menahan tawanya.
"Jika kau tertawa, kau akan tidur di lantai di hari pertama pernikahan kita." Ucap Rosa.
Ryan langsung terdiam.
"Aku tidak akan melakukan apapun Nyonya Abraham." Ucap Ryan langsung mencium Rossa.
"Idiot." Ucap Rossa mengacak rambut Ryan.
Sebenarnya Rossa memang menangis. Dia menangis terharu karena begitu bahagia, pada akhirnya dia bisa menikah dengan orang yang dicintainya dan sekarang hanya ada satu hal yang ingin ditunjukkan Rossa kepada Ryan suaminya itu.
"Ayo ikut denganku." Ucap Rosa gugup karena dia tidak tahu apakah hal itu adalah hal yang baik atau hal yang buruk.
"Baiklah." Ucap Rian tertawa mengikuti Rossa ke arah kamar mereka.
Orang-orang berkedip ke arah mereka saat mereka melewati orang-orang itu. Tentu saja mereka semua berpikir bahwa Ryan dan Rossa akan melakukan malam pertama pernikahan mereka.
Ryan tampak bingung saat Rossa memberikannya sebuah file dengan sebuah kotak kecil di atasnya.
"Buka itu." Ucap Rossa dengan suara yang gemetar.
"Kau hamil." Ucap Ryan dengan suara yang gemetar.
Rossa merasa ketakutan jika Ryan akan tidak menyukai hal itu. Rossa berpikir bahwa semua ini pasti terlalu cepat bagi Ryan.
"Kau hamil?" Ucap Ryan lagi.
Rossa tetap terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa.
"Karina Rossa.... kau hamil?" Teriak Ryan kemudian dia langsung memeluk Rosa dengan sangat erat.
Rossa masih bingung dengan apa yang harus dia katakan pada suaminya itu. Dia benar-benar takut.
"Kapan kau mengetahuinya? Kenapa kau tidak mengatakan kepadaku sebelumnya? Apakah aku....?"
Rossa mulai menangis karena perasaan lega. Pipinya basah karena air matanya.
"Kenapa kamu menangis Rossa sayang?" Tanya Ryan khawatir seraya mengusap air mata Rossa.
"Ini karena dirimu, aku takut kau berpikir bahwa ini terlalu cepat." Ucap Rossa.
"Tentu saja ini tidak terlalu cepat sayang. Kita akan memiliki anak perempuan atau anak laki-laki atau mungkin saja kembar dan kita akan menjadi orang tua yang menakjubkan untuk anak kita." Ucap Ryan.
"Kau tahu, aku takut jika kau tidak akan menerima semua ini." Ucap Rossa lagi.
"Bagaimana kau bisa berpikir bahwa aku tidak akan menerima semua ini?" Ucap Ryan.
Rossa hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Ryan.
"Aku akan memiliki anak dari wanita yang aku cintai. Kenapa aku harus merasa seperti itu. Anak kita itu pasti akan mewarisi kecantikan dan ketampanannya dari kedua orang tuanya." Ucap Ryan tersenyum.
"Aku mencintaimu Ryan." Ucap Rossa tersenyum kepada suaminya.
"Aku juga mencintaimu Rossa dan tentu saja bayi kita." Balas Ryan.
...TAMAT...