
PoV Ryan Abraham
Aku tertawa melihat seorang gadis yang ada di dalam album foto itu. Dia terlihat begitu bahagia dan menggemaskan bersama teman-temannya. Aku berpikir bagaimana dia bisa begitu dingin dan nakal seperti sekarang ini.
Saat aku membuka pintu kamarnya setelah dia terus berteriak, Rossa langsung mengambil album foto itu dari tanganku dengan wajahnya yang terlihat kesal.
"Kau pria brengsek, aku membencimu." Ucapnya membuang album foto itu menjauh.
Aku menyeringai mendekat ke arahnya. Seolah tubuhnya memiliki magnet dalam tubuhku dan jujur saja aku benci karena dia memiliki begitu banyak pengaruh dalam diriku.
Dia melihat ke arahku dengan mata menggemaskan seperti seekor kucing dan aku berharap bahwa dia akan mengeong kepadaku seperti kucing besarnya, Choko itu. Aku merenggangkan tanganku, lalu mengarahkannya ke dalam pakaian yang ia kenakan. Tanganku bergerak ke arah bra yang dia gunakan. Dia mulai terdengar bernafas dengan berat.
"Bos.... Apa yang kau lakukan?" Ucapnya dengan suara yang terdengar begitu menggoda dengan nafasnya yang mengenai telingaku.
Bulu halus yang ada di leherku mulai berdiri. Aku melihat ke arah wanita seksi yang ada di sampingku ini.
"Apa yang kau pikirkan yang akan aku lakukan sekretaris Rossa?" Ucapku berbisik kepadanya membuat dia memberikan senyuman lebar ke arahku.
Dia lalu mendorongku, jadi sekarang dia berada diatas tubuhku.
"Aku suka posisi seperti ini." Ucapnya mulai menggerakkan tangannya di dadaku.
Perutku mulai merasa geli saat dia menyentuhnya dan aku mulai merintih. Tangannya mulai bergerak turun dan semakin turun kebawah. Tepat saat dia hendak membuka kancing celanaku, dia lalu berhenti.
"Apa-apaan ini? Kau pikir apa yang kau lakukan?" Ucapku kepadanya dengan suara yang menahan hasrat dalam kegembiraan ku.
Tapi aku benar-benar merasa frustrasi, dan dia hanya tersenyum tanpa bersalah dihadapanku.
"Aku?" Dia menjilati bibir bawahnya.
Aku mendesis kesal, kemudian menarik dia mendekat kearahku dan menekan bibirnya yang hangat kearah bibirku yang dingin ini.
Aku mendengar nafasnya yang begitu terengah-engah, dan setelah semuanya terasa begitu lama, kami menarik satu sama lain, bernafas begitu berat. Matanya tampak penuh dengan hasrat.
"Aku mengantuk." Ucapnya secara tiba-tiba jatuh disisi lain tempat tidur.
Aku melihatnya bernafas dengan perlahan dengan tubuhnya yang tenang, tapi panas dari tubuh bagian bawahku tidak mau padam.
"Aku tahu aku wanita yang nakal." Ucapnya tertawa dan berbalik untuk memelukku.
Aku memutar mata malas, lalu tidur dengan begitu nyenyak.
...----------------...
Aku bangun dengan grogi melihat ke sekeliling merasa sedikit aneh karena berada di kamar yang berbeda. Rossa tengah memelukku seperti seekor ular dengan kakinya berada di kakiku dan wajahnya ada di dadaku. ku berpikir apa yang harus aku lakukan dengan posisiku saat ini.
Rambut Rossa yang lembut mengenai pipinya yang tampak pucat. Sebagian rambutnya juga berada di seluruh bantal, dengan bibirnya yang tampak terbuka dan dia terdengar mendengkur perlahan. Aku dengan pelan tertawa melihat sekretaris ku yang galak itu ternyata seperti itu saat tertidur.
Aku menyeka rambutnya menjauh dari keningnya. Aku mulai memijat keningnya dengan jemariku yang mati rasa. Dia mengeluarkan suara menguap dan semakin memelukku. Aku melihat ke arahnya dengan penuh rasa tergoda.
'Ini sangat menyebalkan!'
Entah kenapa aku merasa bahwa aku menyukai sekretaris ku sendiri dan untuk sekedar hanya bisa dekat dengannya aku sampai harus membuat sebuah perjanjian dengannya hanya untuk bisa melakukan hubungan diatas ranjang.
Aku menguap dan membenamkan wajahku di rambutnya yang wangi itu.
'Benar-benar menyebalkan!'
Bersambung...