
PoV Karina Rossa
Aku tidak tahu apa yang merasuki diriku. Tapi aku benar-benar melakukan hubungan itu dengan bos ku sendiri dan itu merupakan pengalaman pertama kalinya bagiku, tapi kami malah melakukannya di dalam mobil.
Setelah kelelahan bernapas karena hubungan yang panas itu, aku lalu kembali duduk di kursi ku merasa puas dengan diriku sendiri. Aku baru saja melakukan hubungan yang begitu hebat dan sekarang aku yakin bahwa pria ini akhirnya tidak akan mengganggu aku lagi.
Aku melihat ke arah Pak Ryan. Dia menatapku dan tiba-tiba menekan tombol akselerator jendela. Jadi kami bisa langsung melihat mobil yang lewat.
'Apa yang membuat pria brengsek ini tiba-tiba marah?'
Aku memutar mataku malas dan memperbaiki pakaian yang aku gunakan.
"Turun dari mobil!" Ucapnya tiba-tiba menatap ke arahku dengan matanya yang tampak marah.
Aku melihat ke arah luar. Di sana tidak terlalu gelap dan jaraknya cukup untuk bisa berjalan sampai ke apartemen.
"Baiklah." Ucapku.
Pria kekanak-kanakan ini membalas apa yang aku lakukan sebelumnya untuknya sekali. Kenapa dia terus saja bersikap seperti ini.
Dia bahkan pernah membuatku naik ke lantai 17 untuk pergi ke ruangan pertemuan karena aku menjatuhkan beberapa file secara tidak sengaja. Saat itu, aku harus merasakan kakiku yang sakit sepanjang hari.
Dia marah kepadaku sekarang.
'Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memohon ampunan seperti para wanita yang ada di dalam televisi?'
Aku tentu saja menolak melakukan hal itu dan turun dari dalam mobil membawa tasku dan menenteng heels merah ku. Saat aku sudah turun dari dalam mobil, dia langsung mengendarai mobilnya meninggalkan aku sendirian.
Aku benar-benar kesal kepada pria brengsek itu. Aku lalu mulai berjalan ke arah gedung apartemenku dengan menaruh earphone di telingaku dan memainkan musik.
Aku akhirnya sudah masuk ke dalam apartemenku dengan masih memegang heels yang aku gunakan tadi di pesta. Aku tidak melepaskan earphone dan langsung melepaskan resleting gaunku. Aku terus menari dengan lingerie merah yang aku gunakan.
Aku melangkah ke arah dapur di mana aku menyimpan alkohol. Aku lalu menuangkan alkohol itu dari dalam botol ke dalam sebuah gelas.
"Iya... aku benar-benar ingin melihatmu menari." Ucapku dengan menyanyi.
Aku tiba-tiba merasakan bahwa ada seseorang yang berdiri di belakangku. Aku lalu berbalik menatap wajah orang itu.
"Bos!"
Pak Ryan juga tengah berdiri di balkon apartemennya. Aku menatap ke arah pria itu. Dia juga tampak minum dengan tubuhnya yang terlihat begitu seksi karena tak mengenakan kemejanya yang membuat otot dadanya terlihat jelas. Aku menutup hidungku seolah aku merasa hidungku berdarah.
"Sekretaris Rossa...." Ucapnya dengan ekspresi yang marah di wajahnya setelah itu tiba-tiba ekspresi di wajahnya berubah kosong.
Aku menghela nafas dan melambaikan tanganku.
"Selamat siang Pak Ryan." Ucapku. "Eehh tunggu dulu, bukankah ini sudah malam." Ucapku lalu tertawa dan semakin meminum alkohol yang ada di tanganku.
Pria brengsek itu melihatku dan tampak terpesona.
"Sekretaris Rossa, apa kau butuh bantuan?" Ucapnya.
Aku mengerutkan alisku.
"Aku mungkin saja bodoh. Tapi aku tidak mabuk." Ucapku padanya.
Pak Ryan menutup mulutnya seolah mencoba untuk tidak tertawa. Aku lalu menatap ke arahnya.
"Jangan menertawakan aku brengsek." Ucapku yang marah dan mencoba untuk terlihat dingin saat berjalan meninggalkan dia.
Aku mendengar suara tawanya dari luar, saat aku dengan cepat masuk ke kamarku dan berbaring di tempat tidurku yang lembut.
Bersambung...