
PoV Ryan Abraham
Karina mengendarai mobilnya mendekat ke arah klub di mana kami mengadakan sebuah pesta.
"Kau terlalu cepat." Ucapku memegang kursi mobil saat dia terus mengendarai mobil dengan sangat cepat bahkan dia melewati sebuah taksi dengan begitu cepat.
Aku melihat kearah sopir taksi itu yang tampak marah kepadanya.
"Wuuuussss...." Ucapnya saat melewati sebuah truk yang sangat besar.
"Rossa....." Teriakku seraya terus memegang kursi mobil lagi.
"Ya Tuhan, hari ini akan menjadi hari terakhirku di dunia ini." Ucapku ketakutan.
"Baiklah anak cengeng." Ucapnya lalu menepikan mobil ke arah klub yang begitu berisik.
Orang-orang sudah berbaris di sana dan aku pun bisa menghela nafas lega karena mobil akhirnya bisa berhenti melaju dengan begitu cepat.
Ternyata dia mengenakan pakaian yang cukup seksi di balik seragam wisudanya.
"Kau tidak akan mengenakan hal itu masuk ke dalam sana. Itu terlalu menggoda." Ucapku memegang lengannya saat dia mencoba untuk keluar dari dalam mobil.
"Hentikan aku kalau bisa Ryan." Ucapnya menyeringai dan berjalan keluar.
Aku melihat ke arahnya yang tampak begitu seksi.
"Sial!" Ucapku lalu mengikutinya. "Berhentilah berjalan dengan begitu menggoda." Ucapku lagi seraya menarik pinggangnya dan menatap ke arah pria yang melihat ke arahnya dengan tatapan mata yang terpesona.
"Rossa...." Teriak Sarah yang sudah terlihat mabuk. "Ayo menari..." Lanjutnya lagi.
Kami berdua ditarik menuju lantai dansa dan hampir saja seorang pria tinggi memegang bokong Rossa. Sebelum aku bisa bicara, Rossa sudah menendang ************ pria itu.
"Sialan, dasar kau wanita ******!" Ucap pria itu.
Para orang-orang yang menari perlahan mundur dan membuat lingkaran lalu menatap ke arah kami.
"Jika kau menggunakan pakaian seperti itu ke sebuah klub, jangan pikir bahwa kami para pria tidak bisa menjamah mu. Itu semua diterima di sini wanita ******." Ucap pria itu.
Rahang ku mengeras dan aku mengepalkan tanganku, tapi Rossa memegang pundak ku dengan sangat erat.
Aku menatap ke arah Rossa dengan begitu terpesona dengan kepercayaan dirinya. Beberapa saat dia melihat ke arah lain. Dia terlihat seperti orang lain. Dia merupakan sesuatu yang begitu baik di dunia ini yang pernah ada dalam hidupku.
Aku lalu menggelengkan kepalaku dan menghela nafas gugup lalu mengambil kotak kecil dari saku celanaku.
"Rossa...." Ucapku dengan suaraku yang sedikit gemetar.
"Iya...." Balasnya seraya berbalik menatapku dengan tersenyum.
Jantungku berdetak sangat kencang melihatnya tersenyum, atau mungkin ini karena alkohol yang aku minum? Aku sama sekali tidak tahu.
"Ini... Rossa, apakah kau mau menikah denganku?" Ucapku memperlihatkan sebuah cincin yang ada di dalam kotak ke arahnya.
Tapi tatapanku melihat ke arah lain karena aku begitu malu. Dia terdiam beberapa saat lalu mengambil kotak itu dari tanganku.
"Bagaimana mungkin kau mau menikah denganku? Apa kau tahu, ini adalah sebuah lamaran yang tidak romantis sama sekali." Ucapnya tertawa melihat ke arahku.
"Yang benar saja? Apakah itu berarti iya atau tidak? Jawablah Rossa!" Ucapku menarik.
Dia lalu mendekat ke arahku.
"Baiklah, iya. Aku akan menikah denganmu. Tapi aku harus mengenakan gaun pernikahan berwarna merah bukan putih. Aku pasti akan terlihat begitu cantik dan semua orang ingin menikah denganku." Ucapnya dan aku berhenti bergumam dan langsung menciumnya.
Dia balas menciumku dan seolah di dunia ini hanya ada kami berdua. Semuanya terasa begitu pelan dan lembut.
Cinta yang ada, terasa begitu nyaman dalam perjalanan kami di dunia yang sebenarnya kejam ini. Tanganku berada di telinganya. Ibu jariku mengusap pipinya dan nafas kami menyatu bersama. Jemarinya mengusap punggungku dan menarik ku mendekat sampai tidak ada jarak diantara kami dan aku bahkan bisa merasakan detak jantungnya di dadaku.
"Aku sangat mencintaimu." Ucapku padanya.
"Sama denganku, aku juga mencintaimu. Tapi, bisakah seseorang melamar dengan cara yang lebih romantis di dalam sebuah hotel? Aku ingin merekamnya dengan kamera." Ucap Rossa menyandarkan kepalanya di dadaku.
"Diam lah Rossa." Ucapku merasa malu.
Kami berdua lalu tertawa kecil.
Bersambung....