My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
78. Ekspart 3



Semuanya sudah lega, kini mereka kembali akrab. Bu Sarmi senang karena dia mempunyai cucu juga dari anaknya Riana. Pak Juli pun ikut senang, kini anak mereka sudah bahagia dengan laki-laki pilihannya dan sekarang punya anak laki-laki yang lucu.


"Aku sungguh bahagia mas, ibu sama bapak akhirnya bisa bersama. Meski harus berbagi dengan bu Naimah." kata Riana ketika mereka berbaring di ranjang Riana.


Sewaktu renovasi rumah ibunya Riana, Ethan sengaja membeli ranjang besar juga untuk kamar Riana. Agar suatu waktu mereka pulang kampung, bisa muat untuk tidur berdua. Apa lagi sekarang ada anaknya di tengah-tengah mereka, jadi lebih leluasa keduanya tidur saling memeluk.


"Aku juga ikut senang sayang, ibu dan bapak bersama lagi. Kupikir kejadiannya tidak akan seperti ini. Dan kamu tahu, aku kenal bapak lebih dulu sewaktu di kapal itu." kata Ethan.


"Di pesawat maksudnya?" tanya Riana.


"Ya, bapak menasehatiku banyak sekali. Tapi tak di sangka kini jadi mertuaku." kata Ethan.


"Emm, sewaktu kamu pergi ke Inggris itu?"


"Ya, aku bertemu dengannya di kapal satu bangku sewaktu berangkat dan satu bangku lagi ketika pulang. Beliau memberi nasehat sangat berharga, nyatanya pak Rudy itu adalah mertuaku." kata Ethan.


"Sebenarnya, aku tidak ingin seperti ini mas. Tapi, itu urusan bapak dan ibu. Biar mereka sendiri yang menghadapinya, terkadang kasihan sama ibu. Tapi juga kasihan sama bu Naimah, mereka harus berbagi suami. Aku tidak akan bisa seperti itu mas." kata Riana.


"Mereka menerimanya karena takdir juga sayang. Bapak juga mungkin tidak mau seperti itu. Punya istri lagi, tapi kemudian tiba-tiba harus ingat kalau sebenarnya sudah punya istri dan anak. Dan kamu harus tahu sayang, aku tidak akan mendua meskipun banyak perempuan cantik mendekat padaku. Atau keadaanku sama seperti bapak, tidak akan menikah lagi." kata Ethan mempererat pelukannya pada Riana.


"Yakin akan seperti itu?" tanya Riana menguji ucapan suaminya itu.


"Yakin, karena aku akan selalu ingat namamu dan Emir dalam benakku." kata Ethan lagi.


Riana tersenyum, dia percaya dengan ucapan suaminya. Karena memang antara dua hati yang saling mencintai akan selalu mengingat satu sama lain meskipun dalam keadaan lupa ingatan.


_


Satu bulan setelah menikah, keadaan rumah tangga ibunya dan bapaknya baik-baik saja. Begitu juga dengan bu Naimah dan bapaknya juga.


Riana senang, dia akan bersikap seperti biasanya. Berpura-pura tidak ada yang terjadi ketika bu Naimah berkunjung ke rumahnya untuk menemui anaknya Emir.


Perempuan tua itu sangat senang sekali menemani Riana mengasuh anaknya yang kini sudah menginjak tiga bulan. Bayi laki-laki yang mulai menggemaskan karena sudah berceloteh sendiri.


"Dia sudah besar ya, ibu jadi gemas melihatnya." kata bu Naimah.


"Iya bu, sekarang saja kalau minum asi ngga bisa sebentar. Paling cepat itu setengah jam, aku sampai lelah karena harus memberi asi sama Emir." kata Riana.


"Ngga apa-apa, kan bagus juga buat tumbuh kembang Emir. Kamu sabar saja ya." kata bu Naimah menimang Emir.


"Iya bu, makanya kalau malam haru mas Ethan yang ganti memberi asi di botol susu." kata Riana.


"Ya, harus kerja sama yang baik sama suami." kata bu Naimah lagi.


Riana tersenyum, dia takjub dengan bu Naimah. Meskipun dia belum pernah mengalami hamil dan mempunyai anak, tapi dia tahu benar bagaimana bekerja sama dengan suami dalam mengasuh dan menjaga anak.


"Bapak pergi keluar kota lagi ya bu?" tanya Riana.


"Ya, setiap pergi keluar kota selalu lama pulangnya. Kadang satu minggu baru bisa pulang, katanya banyak kendala di jalan." jawab bu Naimah.


Riana diam, dia melihat ada raut wajah sedih pada bu Naimah. Rasanya sangat sedih dan kecewa jika harus tahu kalau bapaknya kembali lagi pada istrinya. Riana merasakan betapa sedih dan sepinya di tinggal pergi sampai satu minggu lamanya.


"Ibu merasa kesepian ya kalau bapak harus kirim barang keluar kota?" tanya Riana.


"Iya. Kadang ibu merasa takut." kata bu Naimah.


"Takut apa bu?" tanya Riana.


"Takut kalau bapakmu itu kembali mengingat masa lalunya." kata bu Naimah.


Riana diam, hatinya kelu mendengar ucapan bu Naimah. Tapi dia tidak bisa berkata apa-apa dan tidak bisa menanggapi kekhawatiran bu Naimah itu.


"Ibu jangan berpikir macam-macam. Jaga kesehatan ibu saja, kalau ibu merasa takut sendiri di rumah, ibu bisa menginap di rumahku. Mas Ethan pasti senang kalau ibu sesekali menginap di sini." kata Riana.


Bu Naimah hanya tersenyum saja, dia menatap Riana. Dalam benaknya, anak dari suaminya itu memang sangat baik, dia menyesal dulu menyembunyikan kekhawatirannya tentang bapaknya itu.


"Riana, maafkan ibu ya." kata bu Naimah.


"Maaf karena apa bu?" tanya Riana.


"Karena ibu pernah tidak suka kamu mengungkit cerita lama tentang bapak." kata bu Naimah lagi.


"Sudah berlalu bu, sekarang justru aku senang ibu mau datang kemari. Jangan di ungkit lagi." kata Riana.


Bu Naimah kembali tersenyum, dia menidurkan anak Riana. Lalu mendekat pada anak dari suaminya itu.


Satu minggu sudah berlalu, bu Naimah masih belum menyadari keadaan di mana pak Juli sudah kembali ingatannya. Hanya saja, bu Naimah merasa ada yang berbeda dengan suaminya itu.


Rasa takutnya kini mulai muncul, tapi dia tidak mau berpikir jelek pada pak Juli. Berhari-hari pergi keluar kota dan kembali dengan wajah ceria, itu yang selalu bu Naimah lihat dari wajah suaminya.


Biasanya akan ada cerita kurang mengenakan atau ada keluh kesah, tapi pak Juli tidak pernah melakukan itu lagi. Entah dia lupa kalau bu Naimah sekarang lebih takut akan kehilangan dirinya.


Pikirannya semakin hari semakin besar akan ketakutannya itu. Hingga akhirnya dia jatuh sakit, pak Juli pun harus merawat istrinya selama bu Naimah sakit.


"Ngga bu, bapak jaga kamu saja di rumah." jawab pak Juli merasa bersalah selama ini ada yang kurang perhatian dirinya karena dia sedang bahagia dengan bu Sarmi.


"Pak, jika ibu tiada. Apa bapak akan kembali lagi sama istrimu di kampung itu?" tanya bu Naimah tiba-tiba saja.


"Kamu itu ngomong apa bu? Jangan pikirkan itu, jaga kesehatannya. Kata dokter jangan banyak pikiran agar bisa sembuh lagi dari sakitnya." kata pak Juli.


"Ibu baik-baik saja pak. Hanya saja, ibu merasa bersalah menahan bapak tetap di sini ibu." kata bu Naimah.


Pak Juli diam, dia semakin merasa bersalah karena belum jujur kalau sebenarnya dia sudah mengingat kembali. Bahkan dia sudah menikah lagi dengan istrinya dulu.


"Bapak yang salah bu, bapak banyak salah sama ibu. Sering meninggalkan ibu sendiri selama berhari-hari." kata pak Juli.


"Ngga pak, itu kan kerjaan bapak. Masa harus di tunda karena masalah ibu yang tinggal sendiri. Riana malah menawarkan pada ibu, kalau bapak pergi keluar kota ibu bisa menginap di rumahnya." kata bu Naimah lagi.


Ucapan bu Naimah semakin membuat pak Juli merasa bersalah, dia sedikit terisak. Tapi di tahan agar tidak benar-benar menangis. Ingin jujur tapi dia tidak tega dengan keadaan istrinya yang sedang sakit, dia berjanji akan jujur setelah bu Naimah sembuh dari sakitnya. Tapi, apakah itu terlalu lama?


"Bu, maafkan bapak." kata pak Juli pelan.


"Maaf kenapa pak? Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Bu Naimah tiba-tiba terbatuk kencang dan tanpa henti. Membuat pak Juli panik, dia mengambi air minum dan memberikannya pada istrinya. Setelah minum, justru bu Naimah semakin terbatuk kencang. Bahkan sampai mengeluarkan darah.


"Bu, kita ke rumah sakit." kata pak Juli.


"Ngga usah pak, itu batuk biasa saja kok." kata bu Naimah.


"Biasa bagaimana? Ibu batuk sampai mengeluarkan darah, sebenarnya ibu itu sedang sakit apa? Apa ibu menyembunyikan penyakit ibu dari bapak?" tanya pak Juli.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Ngga pak, ibu cuma batuk saja, uhuk! Uhuk!"


"Kita ke rumah sakit, jangan membantah lagi bu!" kata pak Juli.


Pak Juli lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi. Bu Naimah menunggu sambil terbatuk hebat. Tiba-tiba bu Naimah jatuh pingsan, pak Juli pun kaget. Dia lalu membopong istrinya itu, lalau segera membawanya ke rumah sakit. Dia panik dan takut kalau sesuatu terjadi pada istrinya.


Mobil melaju dengan kencang, sesekali pak Juli melihat istrinya itu. Dia benar-benar takut sekali, takut jika bu Naimah pergi dalam keadaan tidak tahu kalau dirinya sudah sadar dari amnesianya.


"Jangan membuatku takut, Naimah. Tetaplah hidup." kata pak Juli semakin panik.


Tak lama mobil pun sampai di rumah sakit, pak Juli langsung membuka dan membawanya ke ruang UGD untuk segera di tangani. Perawat menyambutnya, tapi mereka heran. Pasien yang di bawa pak Juli itu sudah tidak bernapas lagi.


"Maaf pak, ibunya sudah meninggal." kata perawat itu.


"Apa?! Tadi saya lihat dia masih bernapas suster!"


"Ya, ibunya meninggal sewaktu di jalan. Kepalanya masih hangat, jadi mungkin baru masuk rumah sakit ibu sudah menghembuskan napas terakhir." kata perawat lagi.


Pak Juli diam, dia memeriksa hidung bu Naimah. Memang sudah tidak ada napasnya lagi, lalu dia memeriksa tangannya dan memang sudah dingin. Pak Juli terpaku, dia tidak percaya kini istrinya itu meninggalkannya.


Pak Juli pun mengabari Riana kalau bu Naimah sudah tiada.


"Halo pak, ada apa malam-malam menelepon?"


"Ibu meninggal Riana." ucap pak Juli.


"Apa?! Ibu meninggal? Ibu siapa?"


"Naimah."


_


Selama berkabung, pak Juli hanya diam saja. Sudah satu bulan dia merasa kesedihan karena istrinya yang selama sebelas tahun menemaninya sudah tiada.


Kini dia sudah berada di rumah bu Sarmi, setelah satu bulan tinggal di rumah di kota itu. Dia pulang kampung, berkumpul dengan bu Sarmi dan Nino. Tapi rasa sedihnya masih dia rasakan, bu Sarmi mengerti akan kesedihan suaminya itu.


"Aku hanya menyesal tidak memberitahunya tentang kesadaranku, Sarmi. Dia belum tahu aku sudah kembali mengingatnya, dia juga belum tahu aku menikah lagi denganmu." kata pak Juli.


"Mungkin dia sudah merasakannya pak, seorang perempuan itu peka akan sikap suaminya yang berbeda. Tapi dia diam saja, jadi lebih baik mengalah dari pada bapak merasa bingung harus melakukan apa." kata bu Sarmi menenangkan suaminya.


"Ya, mungkin. Tapi tetap saja aku merasa bersalah sama dia, di akhir hidupnya aku masih saja berbohong dan dia tetap percaya padaku." kata pak Juli lagi.


"Itulah takdir pak, ibu di pertemukan lagi dengan bapak selama enam belas tahun berpisah. Dan ibu sudah ikhlas kalau bapak memang sudah meninggal karena longsor itu. Dan akhirnya kini, kita bisa bersama lagi." kata bu Sarmi.


Pak Juli menatap istrinya itu, banyak hal yang membuatnya tidak tahu kini jadi lebih tahu. Kalau sebenarnya istrinya itu sangat kuat, dia memutuskan tidak menikah lagi dengan yang lain, sedangkan dia? Sudah menikah lagi, dan kini dia harus kehilangan istrinya semasa amnesia.


Takdir memang tidak ada yang bisa menebaknya, apa lagi mengetahuinya. Sesuatu yang di berikan oleg Tuhan, tidak bisa kita tolak. Maka jangan menganggap hal yang seharusnya bisa di perbaiki di anggap takdir. Tapi hal yang tidak bisa di cegah oleh manusia itulah takdir Tuhan yang nyata.


>>>>>>>>>>>>>>>> the end <<<<<<<<<<<<<<<<<


\=>> benar-benar ekspart panjang ya agar bisa selesai dengan bahagia, dan sudah habis. Terima kasih buat semuanya, bisa mampir ke novel author selanjutnya..😊