
Ethan mengantar Riana pulang, dia juga menawarkan Riana makan di pinggir jalan seperti biasanya. Tapi Riana menolak, dia banyak diam sejak di cium oleh Ethan dengan paksa. Ethan pun menurut, dia mengantar Riana sampai depan rumahnya.
Tanpa berkata apa-apa, Riana keluar dari mobil Ethan dan langsung pergi meninggalkan Ethan. Ethan hanya menatap kepergian Riana tanpa menoleh padanya.
"Cih, dasar nih gadis susah juga di taklukkan. Meski sudah aku cium tapi sikapnya itu benar-benar bikin aku penasaran. Baiklah, aku akan langsung melamarmu saja. Aku tidak peduli kamu marah-marah padaku setelahnya, tapi aku yakin kamu juga menyukaiku Riana." kata Ethan menatap kepergian Riana.
Hingga Riana masuk dan menutup pintunya tanpa peduli padanya, Ethan tersenyum miring. Dia lalu menjalankan mesin mobil dan melajukannya pergi meninggalkan rumah Riana.
Sedangkan Riana sendiri berdiri di balik pintu. Memejamkan matanya, dan meraba bibirnya, kemudian dia remas bibir itu.
"Kenapa dia memaksa begitu sih?" ucap Riana.
Dadanya berdetak lebih kencang karena ingatannya masih melekat ciuman tadi di mobil. Dia pun tersenyum, merasa aneh dengan hatinya itu. Apa benar dia cemburu dengan Natasya?
"Kenapa dengan laki-laki itu? Memaksa ciuman, rasanya aneh." kata Riana masih meraba bibirnya itu.
Lama dia berdiri di balik pintu itu, dia pun masuk ke dalam kamarnya. Menetralkan hatinya yang masih saja tidak karuan, dia letakkan semua tas dan juga melepas sepatunya. Melihat ponselnya ada pesan baru masuk, di ambilnya ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan.
'Tugasmu besok harus selesai!'
Riana mengerutkan dahinya, dia mengingat tugas apa yang di berikan Ethan padanya. Tapi seingat dia, tidak ada tugas di kantor yang harus di kerjakan besok.
"Dia kirim pesan apa sih? Membingungkan." ucap Riana.
Dia meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan dari sang bos. Pergi keluar dari kamar dan menuju kamar mandi, dia sangat lelah tapi sangat menegangkan baginya. Sejak pulang dan langsung masuk ke dalam rumah kontrakannya, Riana lupa dengan rasa lapar sejak sore itu.
Baru sekarang dia merasakan lapar di perutnya, sampai mencuci mukanya dia percepat. Setelah selesai, dia langsung pergi ke dapur untuk membuat mie instas goreng. Di campur telur dan sosis dan juga sayuran.
Dia makan mie instan hanya ketika darurat dan malas untuk keluar dari rumah mencari makanan. Untuk layanan pesan antar terlalu lama dia menunggu, jadi lebih enak membuat mie instan sendiri saja. Lebih praktis menurutnya.
_
Pagi hari, Riana pergi ke rumah pak Wijaya. Seperti biasa dia harus meladeni Ethan, membangunkan laki-laki itu dan menyiapkan baju kantornya. Di depan pintu gerbang sudah di sambut oleh satpam, sampai di dalam di sambut oleh nyonya Hana atau dengan pak Wijaya.
Dia sebenarnya malu, tapi Ethan yang memaksanya. Dan lama kelamaan dia pun terbiasa, pak Wijaya dan nyonya Hana juga sepertinya biasa saja jika bertemu Riana di pagi hari. Tidak merasa aneh atau pun kaget.
Riana melangkah naik tangga, di tenangkannya hatinya yang sejak tadi tidak karuan. Dia melangkah pelan, jika bukan untuk menyelesaikan tugasnya tinggal beberapa hari lagi. Dia malas datang ke rumah bosnya itu, tapi dia berpikir tanggung tunggu beberapa hari dia selesai jadi asisten pribadi Ethan.
Tok tok tok.
"Masuk aja mbak, biasanya langsung masuk." kata mbok Sri yang baru keluar dari kamar sebelah Ethan.
"Eh, iya mbok. Barangkali di kunci kamarnya." kata Riana.
"Ngga mungkin mbak, den Ethan setiap pagi menunggu di bangunin sama mbak Riana." kata mbok Sri lagi.
Riana tersenyum kaku, dia lalu mendorong daun pintu. Dan benar saja, memang setiap pagi tidak di kunci. Meski tidak di kunci, tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar Ethan. Riana melangkah pelan, dia merasa tiba-tiba canggung ketika melihat Ethan masih tergolek di ranjangnya.
Mengingat semalam ciuman paksa di mobil, membuat pipi Riana menghangat. Dia berhenti, membuang muka ke samping. Ragu kali ini dia mendekat ke ranjang Ethan untuk membangunkan laki-laki itu.
Lama dia berpikir, tapi akhirnya Riana mendekat juga. Berdiri di depan Ethan yang masih terpejam matanya, Riana menatap wajah tampan sang bos. Meski tertidur, Ethan terlihat tampan.
Ethan seolah sudah menebak dengan aroma parfum Riana, dia membuka matanya dan menarik pinggang Riana. Sontak saja Riana kaget, dia berusaha bangun. Tapi di tahan oleh laki-laki itu.
"Kamu wangi." ucap Ethan.
Dia bangun dan duduk. Riana pun berdiri cepat dan merapikan bajunya, rasanya kesal dan malu campur aduk di benaknya.
"Kenapa selalu memaksa sih?" tanya Riana.
"Aku tidak memaksa. Hanya ingin mencium bau parfummu. Parfummu wangi, aku suka." kata Ethan.
Dia beranjak dari ranjangnya, lalu pergi menuju kamar mandi dengan kolor yang dulu pernah Riana lihat sewaktu di mobil tanpa sengaja. Dan kembali rona merah pipi Riana mengingat peristiwa itu, kolor Ethan yang menonjol sewaktu dia mengambil ponselnya yang jatuh.
"Duh, kenapa sih aku ini." ucap Riana.
Dia beralih segera untuk menetralkan hatinya dengan menuju ruang ganti baju. Mengambil baju kantor Ethan dan juga sepatunya, lalu dia letakkan baju setelan kantor itu di atas ranjang.
Dia duduk di kursi meja kerja Ethan, mengambil buku bacaan sambil menunggu bosnya selesai mandi.
_
_
*********************