My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
46. Besok Menikah



"Kenapa kalian lama sekali??!"


Teriakan itu mengagetkan Riana, dia menoleh ke arah suara yang dia kenal betul. Dan tentu saja dia terkejut, kenapa ibunya ada di rumahnya sekarang?


"Bu, kenapa ada di sini? Kapan datang? Kok ngga bilang sih sama Riana?" pertanyaan Riana membuat Ethan tersenyum lebar.


Dia berdiri dan melepas rangkulannya pada sekretarisnya itu. Ibunya masih diam menatap Riana kesal karena sejak tadi di dalam mobil tidak boleh keluar. Dan menunggu Ethan selesai bicara dengan Riana.


"Bu, lama banget sih. Nino ngantuk nih. Hooaaaam." ucap Nino yang baru masuk ke dalam rumah Riana.


Semakin bingung Riana dengan adanya ibu serta adiknya malam-malam begini. Dia menatap Ethan tajam.


"Kamu yang ajak ibu dan Nino kemari?" tanya Riana.


"Ya, karena besok ada acara penting. Jadi aku bawa ibu dan adikmu itu. Kamu senangkan?" jawab Ethan.


"Iya, tapi aku bingung saja. Kenapa tiba-tiba begini." ucap Riana curiga.


"Huh! Kamu itu bukan hanya keras kepala, tapi juga tidak peka, Riana!" ucap ibu Sarmi mendengus kesal.


Dia berjalan meninggalkan Ethan dan Riana yang masih diam. Menyusuri rumah kontrakan Riana itu, Nino mengikuti ibunya membawa tas besar.


Riana menatap Ethan yang masih tersenyum bahagia. Dia pun ikut tersenyum.


"Kamu membuatku merasa aneh, bos." kata Riana.


"Ya, harus melakukan seperti itu agar sekretarisku ini peka dan merasa kehilanganku." kata Ethan.


"Ish! Kamu kehilangan semua klienmu, mereka aku tolak semua yang mau kerja sama dengan perusahaanmu. Kamu tidak ada kabar, di rumah bahkan sepi sekali tidak ada orang." kata Riana tampak kesal.


"Mama dan papa sedang berlibur, mereka mengajak semua pembantu dan satpam juga." kata Ethan.


"Jahat banget sih ngerjain aku." kata Riana sedikit manja.


"Hahah! Aku membiarkanmu merasa kehilanganku, agar aku merasa di cintai olehmu. Meski kamu selalu menolak dan mengelaknya." kata Ethan.


Riana tersenyum malu, dia merangkul pinggang Ethan. Rasanya dia benar-benar sangat bahagia, Ethan mencintainya dan dia akan mematahkan prinsipnya untuk tidak berpacaran dengan bosnya itu.


"Riana."


"Ya?"


"Riana."


"Apa sih?" tanya Riana mendongak menatap Ethan.


Cup.


Ethan mengecup bibir Riana cepat, agar gadis itu tidak lagi menolaknya dan menamparnya.


"Ish! Kamu mencurinya." kata Riana.


"Hahah!"


Riana menunduk malu, Ethan mendekap erat tubuh Riana. Dia harus segera pulang, tapi rasanya enggan untuk pergi dari gadis yang dia cintai itu.


"Aku pulang." kata Ethan.


"Hemm, pulang?"


"Ya, apa aku tidak boleh pulang? Kalau begitu, lebih baik aku tidur saja denganmu." kata Ethan menggoda Riana.


Riana mendorong pinggang Ethan dengan kencang hingga laki-laki tinggi itu jatuh di kursi sofa. Riana cemberut, dia pun duduk menjauh dari Ethan.


"Hei, kenapa kamu mendorongku?"


"Pulang sana!" ucap Riana ketus.


Dia bersiap untuk pergi, mendekat pada Riana yang sedang duduk sambil bersedakap. Dia mengecup kening Riana pelan dan lama.


"Kamu tidur yang nyenyak ya, besok hari yang sangat penting." kata Ethan.


"Besok libur, memang mau ada rapat penting apa?" tanya Riana.


"Sudahlah, nanti juga kamu tahu kok. Aku pulang dulu." kata Ethan lagi.


Dia berbalik dan pergi meninggalkan Riana yang diam membisu karena terpaku Ethan mencium keningnya. Tanpa mengantar Ethan keluar dari rumahnya, Riana pun menunduk dan tersenyum. Senyuman bahagia karena Ethan begitu mencintainya.


"Jadi begini rasanya bahagia punya orang yang mencintai? Aku bahkan sibuk dengan pekerjaanku, sampai tidak tahu yang namanya bahagia karena ada yang mencintai." ucap Riana.


Riana masih duduk di kursi, Nino datang dengan membawa bantal guling di tangannya. Duduk di sebelah Riana dan menggeser kaki kakaknya itu.


"Kenapa sih kamu?!" kata Riana.


"Ngantuk kak, ngga ada tempat buat tidur. Kamar cuma satu." kata Nino.


Riana pun bangkit, dia melihat adiknya sudah terbaring di sofa. Mulutnya selalu menguap beberapa kali karena mengantuk. Dia lalu pergi menuju kamarnya, di sana dia melihat ibunya menata bantal berjejer untuk dua orang. Untungnya ranjang itu muat dua orang, jadi dia dan ibunya tidur satu ranjang dengannya.


"Kamu kok ngontrak rumah cuma satu kamar sih ambilnya, kalau ibu sama Nino menjenguk ngga ada kamar lagi." kata bu Sarmi.


"Ini yang paling murah bu, cuma ada satu kamar, tuang tamu dan dapur serta kamar mandi. Aku pikir cukup untukku sendirian di kota ini." kata Riana.


"Ya, tapi sempit tempatnya. Mending di rumah di kampung, ada halaman rumah luas. Kalau kurang lebar bisa di perbesar, sebulan lalu nak Ethan menawarkan rumah ibu di renovasi. Katanya mau di perbesar." ucap bu Sarmi.


"Lalu, sudah di renovasi bu?" tanya Riana.


"Ya, semingguan lalu. Bagian belakang di buat dapur yang bagus, ada kitchensetnya kata tukangnya. Bagus banget." kata bu Sarmi menceritakan apa yang di lakukan oleh Ethan minggu lalu.


"Jadi dia menepati janjinya merenovasi rumah ibu." ucap Riana.


"Sudah kamu cepat tidur, besok kamu menikah lho sama nak Ethan." kata ibunya Riana menyuruh anaknya tidur.


"Apa? Menikah?!" tanya Riana kaget.


"Iya. Katanya besok menikah di hotel, pestanya juga di hotel." kata ibunya lagi.


"Tapi bu, dia ngga bilang apa-apa tadi." kata Riana bingung.


Dia ingat kalau Ethan tadi mengatakan besok ada acara penting. Di tanya apa itu, tapi dia malah tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Ethan, sialnya lagi laki-laki itu belum mengaktifkan nomornya.


"Aargh! Kenapa sih ini orang?! Selalu saja buat aku kesal." ucap Riana masih terus menghubungi nomor ponsel Ethan.


"Kamu jangan marah-marah terus Riana, dia baik kok. Mau menikah dengan kamu yang anak orang tidak punya, ayah dan ibunya juga baik. Mereka ramah dan tidak malu sama ibu yang miskin ini." kata bu Sarmi.


"Ya tapi kan ngga begini juga bu. Kenapa aku tahu dari ibu sekarang?" tanya Riana.


"Tadi nak Ethan bilang buat kejutan katanya. Jadi dia ngga bilang, ibu aja katanya jangan bilang sama kamu. Tapi keceplosan." kata ibunya berbaring di ranjang, dia juga sudah mengantuk.


Justru Riana bukannya mengantuk, dia malah kesal sekali pada Ethan. Memberi kejutan dengan cara seperti itu membuatnya semakin kesal. Dia belum mempersiapkan segalanya, belum lagi setidaknya dia harus spa dan ke salon.


"Seenaknya aja ya dia itu. Besok aku akan ke rumahnya pagi-pagi sekali, awas saja kalau dia masih saja mendadak seperti besok itu." ucap Riana semakin kesal.


Dia membaringkan tubuhnya di samping ibunya yang sudah mendengkur. Matanya mencoba di pejamkan, tapi tetap tidak bisa. Hingga satu deringan ponselnya mengagetkannya. Dengan cepat dia mengambil ponselnya dan berteriak kencang.


"Ethaaan!"


"Halo sayang, kamu kangen padaku?"


_


_


*****************