My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
62. Tamu



Riana tidak bisa mencegah ibunya untuk pulang cepat, bahkan Nino sampai merengek agar tinggal dua hari lagi di rumah kakaknya itu saja tidak di kabulkan oleh ibunya itu.


"Pokoknya ibu pulang besok!" kata bu Sarmi.


"Bu, sebenarnya ada apa sih sama ibu? Kenapa ibu jadi aneh begini." kata Riana.


"Sudahlah Riana, ibu tidak mau mengingat masa lalu. Ibu ingin pulang!" kata ibu Sarmi lagi.


"Siapa yang menyuruh ibu untuk mengingat masa lalu? Apa ada yang mengingatkan ibu tentang masa lalu? Masa lalu apa?" tanya Riana semakin penasaran pada ibunya.


"Maafkan ibu Riana, ibu hanya tidak ingin berhalusinasi. Tapi ibu hanya ingin pulang ke rumah ibu." kata bu Sarmi hampir terisak.


Tentu saja Riana di buat heran, ada apa sebenarnya dengan ibunya?


Sejak pulang dari mall itu, ibunya jadi diam dan sering di dalam kamarnya saja. Riana mendekat, dia beejongkok di pangkuan ibunya.


"Bu, apakah sewaktu di mall itu ibu lihat sesuatu atau orang yang membuat ibu jadi begini?" tanya Riana.


Ibu Sarmi menatap anaknya, perempuan itu pun terisak dan menangis. Riana kaget, apa yang di rasakan ibunya itu. Tapi dia membiarkan ibunya untuk menangis, mungkin itu caranya untuk menumpahkan perasaannya di hatinya.


Setengah jam ibunya menangis, akhirnya berhenti. Riana menunggu ibunya mau bercerita, mengambilkan tisu untuknya


"Riana, kamu masih ingat wajah bapakmu?" tanya bu Sarmi.


"Ngga bu, waktu bapak kena longsor kan aku masih kecil. Jadi aku tidak ingat wajah bapak." kata Riana.


"Hik hik hik, ibu seakan melihat bapakmu Riana. Makanya ibu antara percaya dan tidak, ibu ingat betul peristiwa longsor itu. Memang tidak di temukan jasad bapakmu, tapi di tempat itu ada lima orang tidak terselamatkan jasadnya termasuk jasad bapakmu juga. Makanya ibu jadi heran, atau memang hanya mirip saja." kata bu Sarmi.


"Yang ibu maksud itu siapa? Apa ada orang yang mirip dengan bapak?" tanya Riana.


"Ya, entah itu mirip atau dia memang bapakmu. Ibu masih ragu, tapi ibu ingat betul bapakmu punya tanda lahir di pelipisnya. Dan sewaktu di mall itu ibu lihat seperti bapakmu." kata bu Sarmi.


Riana diam, kini dia mengerti kenapa ibunya sepulang dari mall itu jadi diam dan menyendiri di kamarnya saja. Ternyata ibunya bertemu dengan orang yang mirip dengan bapaknya. Dia sendiri tidak ingat dengan bapaknya itu wajahnya seperti apa karena dia masih kecil.


"Apa ibu yakin itu wajah mirip bapak?" tanya Riana memastikan.


"Ibu ngga yakin juga, tapi ibu ingat kalau bapakmu itu ya punya tanda lahir di pelipisnya." kata bu Sarmi.


"Lalu, ibu mau mencarinya?" tanya Riana.


"Kamu itu, ya ngga Riana. Dan ibu dengar dan ibu lihat waktu itu dia punya istri. Kan mana mungkin itu bapakmu." kata bu Sarmi lagi.


"Mungkin hanya mirip saja bu. Sudahlah, ibu jangan bersedih lagi. Sekarang tenangkan pikiran ibu, jangan memikirkan suami orang." kata Riana bercanda.


"Ish! Siapa yang memikirkan suami orang? Ibu hanya kaget saja." kata bu Sarmi kesal.


Riana tersenyum, dia lalu memberikan ibunya minuman.


"Nih, ibu barangkali haus. Kan tadi habis menangis."


"Riana!"


"Heheh!"


Ibu Sarmi menatap tajam pada anaknya, tapi akhirnya dia mengambil gelas yang di sodorkan anaknya itu. Lalu menenggaknya hingga habis.


_


Setelah bercerita kemarin, ibu Sarmi akhirnya mau mengundurkan jadwal kepulangannya esok harinya. Dia juga ingin bersenang-senang juga di rumah Riana itu, kemarin besannya datang ke rumah Riana untuk menemuinya dan mengobrol. Sejenak dia lupa dengan laki-laki yang dia temui di mall itu.


Hari Minggu ini, rencananya mau jalan-jalan ke tempat wisata dan pulangnya ke restoran untuk makan siang. Ketika mereka semua bersiap untuk berangkat pergi ke tempat wisata.


Tiba-tiba di depan pintu pagar, satpam sedang bicara dengan seorang di depan. Entah itu siapa, tapi tak lama mobil masuk ke dalam halaman rumah Ethan. Berhenti di depan kemudian keluar laki-laki tua dan di susul oleh istrinya juga.


"Waah, besae juga ya rumah nak Ethan ini." kata istrinya.


"Iya bu, aku juga baru tahu." kata suaminya itu.


"Mbok Sri, tuan Ethan ada?" tanya satpam.


"Ada kayaknya di kamarnya. Kenapa memangnya?" tanya mbok Sri.


"Ada tamu di luar mau ketemu sama tuan Ethan." kata satpam.


"Suruh masuk saja, nanti saya kasih tahu den Ethannya."


"Oke."


Satpam pun pergi dari dapur, dia keluar untuk memanggil tamu itu. Setelah di ajak ke dalam rumah dan di suruh menunggu di ruang tamu, satpam keluar lagi ke tempat pos jaganya.


Sedangkan mbok Sri naik ke lantai atas memberitahu Ethan kalau ada tamu di ruang tamu menunggunya.


Tok tok tok.


Mbok Sri mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka. Muncul Riana yang sudah siap untuk pergi jalan-jalan dengan suami, ibu dan adiknya itu.


"Ada apa mbok Sri?" tanya Riana.


"Itu, non Riana. Ada tamu yang ingin ketemu sama den Ethan." jawab mbok Sri.


"Siapa?" tanya Riana.


"Sepertinya sih suami istri dan sudah tua orangnya." kata mbok Sri.


"Suami istri, sudah tua? Siapa?" tanya Riana heran.


"Saya tidak tahu non, mungkin ada perlu dengan den Ethan." kata mbok Sri lagi.


"Ya sudah, nanti aku kasih tahu mas Ethannya."


"Iya non."


Mbok Sri pun turun lagi, dan Riana masuk lagi ke kamarnya. Memberitahu suaminya kalau ada tamu di bawah.


"Mas, ada tamu di bawah." kata Riana.


"Tamu siapa?" tanya Ethan memakai kaosnya.


"Ngga tahu, coba saja kita turun yuk. Barangkali dia orang penting." kata Riana lagi.


"Emm, tapi nanti jalan-jalannya bagaimana?"


"Ya ke bawah saja dulu, nanti kan tahu siapa tamunya. Kalau penting mungkin aku sama ibu dan Nino saja yang pergi. Kamu di sini temani tamunya kan."


"Padahal aku juga ingin ikut jalan-jalan sih. Ya sudah, ayo kita turun sayang." kata Ethan.


Keduanya pun keluar dari kamarnya, mereka turun untuk menemui tamu yang di maksud. Mereka penasaran siapa tamunya itu.


Sampai mereka di ruang tamu, Ethan dan Riana kaget siapa tamunya itu. Keduanya saling pandang. Lalu Ethan tersenyum senang, sedangkan Riana hanya diam. Dia menatap laki-laki tuanya dan beralih ke istrinya. Keduanya tersenyum ramah, Riana pun ikut tersenyum.


"Selamat pagi nak Ethan." sapa laki-laki tua itu dengan ramah.


Belum di jawab pertanyaan itu, suara pertanyaan dari arah ruang tengah menuju ruang tamu itu, membuat semuanya menatap ke arahnya.


"Riana, jam berapa kita jalan-jalannya?"


_


_


*******************