
Usia kandungan Riana sudah menginjak sembilan bulan, dia merasa senang karena sebentar lagi anaknya lahir ke dunia. Ethan juga sudah mencari sekretaris baru untuk sementara selama istrinya itu cuti.
Entah itu akan selamanya cuti atau dua tahun lagi akan masuk jadi sekretarisnya lagi. Tapi yang jelas, Ethan sangat antusias untuk menyambut kelahiran anak pertamanya itu.
Setiap malam dia selalu memeluk Riana dan mengobrol dengan bayi dalam perut istrinya, meski Riana sudah tidur. Justru dengan di peluk olehnya dan di elus perutnya membuat Riana jadi nyaman dan mudah tertidur.
"Kamu harus cepat lahirnya ya sayang, biar nanti mama tidak kesakitan. Papa ngga mau nanti mama kesakitan karena mengeluarkanmu." kata Ethan bicara pada perut.
"Kamu ngomong apa sih mas, yang namanya melahirkan itu sakit. Kecuali di sulap langsung keluar." kata Riana yang tiba-tiba matanya terbuka.
Sejak tadi dia berusaha tidur tapi merasa geli dengan tangan Ethan yang tiba- tiba turun ke bawah. Apa lagi ucapan suaminya yang membuatnya lucu.
"Ya kan, aku ngga mau kamu kesakitan sayang. Cukup yang enak-enak aja aku kasih sama kamu." kata Ethan kini tangannya mulai menjalar kemana- mana.
"Ish, itu tangan kenapa lari kemana-mana?" tanya Riana yang mulai terbuai itu.
"Memancing sayang, biar dia bisa lahir dengan cepat." kata Ethan.
"Duh bukan seperti ini mas, eeuh." ucap Riana.
Ethan tersenyum, dia tidak menyudahi tangannya yang bermain di tubuh Riana. Semakin lama semakin panas, hingga keduanya pun akhirnya melakukan percintaan. Di saat pelepasan terakhir, Riana merasa perutnya keram.
"Aduh, perutku sakit." ucap Riana.
Ethan kaget, dia memegangi perut Riana, melitah wajah Riana meringis dia pun panik. Segera dia memakai baju dan mengambilkan baju untuk Riana.
"Kamu mau melahirkan sayang?" tanya Ethan membantu Riana memakai baju.
Setelah selesai, kini Ethan memapah istrinya untuk turun ke bawah. Dia menyuruh Riana menunggu di bawah, dia sendiri mengambil tas untuk persiapan melahirkan dan juga kunci mobilnya.
"Ayo kita ke rumah sakit, itu mungkin anak kita akan keluar sayang." kata Ethan dengan sigap.
Dia memapah Riana keluar dari rumah dan segera mengeluarkan mobil dari garasinya. Langsung membawa Riana masuk ke dalam mobil. Dia benar-benar cemas, tapi masih bisa mengendalikan emosinya agar tetap tenang menghadapi istrinya yang kesakitan.
Mobil sudah meluncur menuju rumah sakit, Ethan benar-benar cemas dengan Riana. Riana masih meringis, sesekali memegangi tangan suaminya lalu menggigit bibirnya menahan rasa sakit.
"Aduuh, mas sakiit!" ucap Riana.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit. Aku cari rumah sakit terdekat aja." kata Ethan.
Dia mulai panik melihat napas Riana sudah tidak beraturan. Apa lagi merintih dan kembali memegangi perutnya. Di tambah sepertinya air ketuban Riana sudah pecah, bercampur darah pula. Ethan makin panik, dia terus melajukan mobilnya.
Akhirnya sampai juga di rumah sakit terdekat, Ethan langsung masuk mobilnya ke rumah sakit itu. Dia menghentikan mobil tepat di depan UGD dan meminta perawat di sana segera membawa Riana yang mau melahirkan.
"Suster, cepat istri saya mau melahirkan." kata Ethan.
Dia membopong Riana masuk UGD, di bantu oleh perawat di sana. Air ketuban Riana sudah pecah sejak tadi, perawat segera membawa Riana ke ruang bersalin. Riana semakin tidak kuat untuk segera mengeluarkan bayinya, dia mengejan.
Sepanjang jalan dia mengejan beberapa kali, suster melarangnya untuk mengejan. Menunggu dokter kandungan menanganinya.
"Euuuh!" Riana mengejan.
"Bu, tunggu dulu. Tahan ya, kita akan lakukan dengan dokter. Jangan mengejan dulu." kata susternya.
"Saya tidak kuat, bayi saya pengen keluar terus suster. Eeuuuh!" ucap Riana.
Dia sudah tidak terkendali, saat memasuki ruangan bersalin dan dokter sudah datang. Ternyata bayinya langsung keluar, dokter kaget. Dengan cepat dia langsung menanganinya, meminta suster menyiapkan peralatan bersalin.
"Cepat ambil alat-alatnya, bayinya sudah keluar. Yang lain ambil perlengkapan untuk bayinya, aku akan menarik bayinya keluar sempurna." kata dokter.
Sejak tadi Ethan memperhatikan apa yang di lakukan dokter dan perawat yang begitu sibuk mendadak. Dia melihat istrinya sudah terkulai lemah, napasnya naik turun dan matanya sayu menatapnya.
"Mas, anakku sudah lahir lebih dulu. Bagaimana dia?" tanya Riana lemah.
"Tenang sayang, anak kita sudah di tangani. Ternyata dia sudah tidak sabar untuk keluar, dia keluar sebelum masuk ruangan ini. Terima kasih sayang, kamu benar-benar mama yang hebat. Cup." kata Ethan ikut terharu dengan keadaan itu.
Dia sangat bahagia, dia melihat anaknya sudah di potong tali pusarnya lalu di bawa keluar untuk di bersihkan. Sementara itu, Riana harus mengeluarkan sisa-sisa darah dan kantong bayi di dalam perutnya itu. Di bantu oleh dokter untuk mengeluarkannya, terlebih harus merapikan jalan lahir Riana itu.
"Bapak keluar dulu ya, boleh lihat anaknya di tempat bayi. Nanti di azanin." kata dokter pada Ethan.
"Iya dok, tapi apakah istri saya baik-baik saja?" tanya Ethan.
"Bagaimana bapak ini, istri anda tidak baik-baik saja. Harus di rawat dan di operasi kecil, jangan takut. Nanti istrinya baik-baik saja kok." kata dokter dengan senyum mengembang.
Meski Ethan tidak mengerti apa yang di katakan oleh dokter, tapi dia akhirnya mengangguk lalu keluar dari ruang persalinan itu. Dia akan menuju ruangan khusus bayi, ingin melihat anaknya yang baru lahir itu. Rasa bahagia tak terkira, hingga lupa memberitahu kedua orang tuanya dan mertuanya.
_
_
*********************