My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
71. Keakraban Riana Dan Bu Naimah



Setelah pertemuan keempat orang itu, kini Riana merasa lega. Dia senang karena pak Rudy memang adalah bapaknya yang di kabarkan hilang tertimbun longsor. Ternyata tidak begitu ceritanya, pak Rudy alias pak Juli itu menyelamatkan diri dari longsor, dan dia sampai jatuh terantuk batu.


Sehingga jatuh ke sungai, lalu di temukan oleh sepasang suami istri. Dia di rawat hingga sembuh, tapi tidak bisa mengembalikan ingatannya lagi. Sampai di nikahkan dengan anak sahabatnya yang baru beberapa bulan di tinggal suaminya.


Ibu Naimah, kini istri bapaknya Riana. Ibu itu tidak mau pak Juli meninggalkannya, karena selama sebelas tahun dia bersama dengan nama baru meski orang yang sama dengan suami bu Sarmi.


Tapi Riana merasa bersalah sebenarnya jika hasil tes DNA dia sembunyikan dari ibunya. Dia berjanji tidak akan memberitahu ibunya mengenai kebenaran bahwa pak Rudy atau pak Juli adalah bapaknya atau suami dari ibunya.


"Mas, apa sebaiknya ibu di beritahu?" tanya Riana.


"Kami kan janji tidak akan kasih tahu ibu, membiarkan keadaannya seperti ini. Bapak tetap pada keadaan sekarang, dan ibu juga tetap tidak akan berharap bapak kembali dan masih beranggapan kalau bapak itu sudah hilang." kata Ethan.


"Iya sih mas, tapi aku merasa ngga enak jika ibu datang kemari. Sedangkan kita sudah tahu kalau bapak masih hidup dan memang yang ibu tahu itu kan?" kata Riana.


"Untuk sementara, biarkan seperti ini dulu. Kamu fokus sama kandunganmu saja, empat bulan lagi kamu melahirkan. Nanti kan ibu datang kemari jika anak kita lahir, semua pasti akan kumpul. Perlahan kita beritahu ibu tentang hasil tes DNA itu." kata Ethan.


"Nanti saja ibu di kasih tahunya?" tanya Riana.


"Ya, fokuskan dulu kehamilanmu. Memang tidak baik menyembunyikan kebenaran, tapi kita harus pikirkan bagaimanan memberitahu ibu nantinya." kata Ethan lagi.


"Baiklah." ucap Riana.


Mereka tidur berpelukan, setelah Ethan meminta jatah pada istrinya. Dia senang kini Riana sudah bisa di sentuh lagi.


_


Beberapa minggu ini, ibu Naimah dan pak Rudy sering datang ke rumah Ethan. Mereka kadang mengobrol dengan santai, apa lagi bu Naimah yang dulu agak tertutup kini sudah bisa mengobrol santai dengan Riana.


Riana senang dia seperti bicara pada seorang ibu yang lembut. Karena memang pembawaan ibu Naimah itu tenang, tetapi ketika Riana baru pertama kali melihat memang tidak seperti sekarang. Kurang suka karena takut suaminya di ambil lagi.


Tapi sekarang, Riana dan bu Naimah sedang asyik mengobrol.


"Jadi, kapan lahirnya?" tanya bu Naimah.


"Tiga bulan lagi bu, ini sudah enam bulan kandunganku." kata Riana mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Waah, senangnya. Ibu bisa mendampingimu melahirkan, Riana." kata bu Naimah lagi.


"Boleh bu, biar tambah ramai di rumah sakit dan pada panik. Heheh." ucap Riana.


Ibu Naimah tersenyum, dia melihat Riana merasa beruntung bisa di karunia hamil. Sedangkan dia, sejak kematian suami pertamanya pernah hamil dan keguguran. Hingga menikah dengan pak Juli sampai kini belum di karuniai anak.


"Kamu beruntung bisa hamil dan akan melahirkan. Ibu belum pernah melahirkan." kata bu Naimah bercerita.


"Tapi, ibu pernah hamil?" tanya Riana.


"Ya, dulu. Sewaktu suami pertama ibu pernah hamil dam keguguran. Sejak itu menikah dengan bapakmu tidak di karunia anak sampai sekarang. Bapakmu juga tidak pernah bertanya atau meminta, aku sudah beberapa kali konsultasi dan terapi. Tetap saja belum beruntung." kata bu Naimah merasa sedih.


"Jangan bersedih bu, ibu bisa sering datang kemari. Dan anakku nanti bisa ibu anggap cucu kok." kata Riana.


Ibu Naimah tersenyum, dia lalu mengangguk. Tangannya mengulur ke perut anak dari suaminya itu. Mengelusnya dan merasakan ada gerakan di perut. Dia kaget lalu tertawa kecil, Riana pun ikut senang melihat tawa ibu Naimah itu.


Ada rasa bahagia ternyata, dia mempunyai dua ibu yang tanpa di sengaja. Bukan karena bu Naimah seorang pelakor, tapi takdir yang membawa bapaknya harus seperti itu.


Jika ibunya tahu, betapa marahnya dia kalau secara sengaja bapaknya menikah lagi dan meninggalkannya. Rasa sedih dan marah serta kecera campur aduk, tapi semuanya tidak ada yang salah. Takdir yang membuat bapaknya dan ibunya berpisah, takdir pula yang mempertemukan bapaknya dengan ibu Naimah.


Juga takdir yang memang harus mempertemukan Riana dan bapaknya sekarang hilang ingatan. Riana tidak bisa menyalahkan bapaknya, meski dia juga sedih karena bapak berpisah dengan ibunya.


"Bu, kita pulang." kata pak Juli pada bu Naimah.


"Iya mas." kata bu Naimah.


Riana berdiri, dia kesusahan untuk berdiri lalu dj bantu oleh bu Naimah. Senyumnya mengembang, pak Rudy pun senang melihat istrinya itu sudah akrab dengan anaknya Riana.


"Bapak pulang Riana." kata pak Juli.


"Iya pak, hari Minggu sering-sering kesini ngga apa-apa. Mas Ethan juga bisa ada temannya." kata Riana.


"Ngga Riana, hari Minggu depan bapak ada keluar kota. Mungkin selama lima hari." kata pak Juli.


"Lho, nanti ibu gimana? Sendirian?" tanya Riana melirik pada bu Naimah.


"Sudah biasa Riana, ibu sudah biasa di tinggal pergi keluar kota. Memang kan bapak kirim barang keluar kota, tapi kok lima hari mas?" tanya bu Naimah heran.


"Barang yang di kirim ke beberapa tempat bu, jadi butuh waktu lima hari. Kalau aku lama pulangnya, bisa kok datang kesini. Ya kan Riana?" kata pak Juli.


"Waah, ngga apa-apa pak. Riana senang kan ada temannya, mas Ethan kerja jadi aku bisa ada temennya." kata Riana dengan senangnya.


Pak Juli tersenyum, dia senang kini anaknya sudah meneriam istrinya. Apa lagi bu Naimah, dia tampak senang juga.


"Ya, nanti kalau bapakmu memang lima perginya. Ibu akan datang kesini." kata bu Naimah.


"Iya bu, Riana tunggu." kata Riana tersenyum senang.


Kini pak Juli dan bu Naimah pun pulang setelah berpamitan pada Ethan dan anaknya Riana. Riana senang istri bapaknya itu begitu hangat dan terbuka. Rasanya dia rindu pada ibunya di kampung.


"Aah, ibu. Aku rindu sama ibu, apakah ibu baik-baik saja?"


_


_


*******************