
Sudah satu minggu Riana tidak bergairah untuk ke kantor. Seperti pagi ini, dia sudah berada di kantor. Duduk di kursi kerjanya dengan malas, memainkan laptopnya. Entah apa yang harus dia kerjakan. Banyak berkas yang masuk di meja kerjanya, sudah dia periksa tapi masih tetap ada di mejanya.
Berharap Ethan datang dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Apa lagi, klien yang ingin bertemu dengan Ethan minggu lalu di pending karena Ethan sendiri tidak ada selama satu minggu.
"Huh, aku seperti anak ayam kehilangan induknya. Tidak ada bos, apa yang akan aku lakukan?" ucap Riana.
Bagian keuangan pak Deri mendekat pada Riana, dia membawa berkas juga. Riana melihat kalender di mejanya, memang sudah waktunya untuk pembagian gaji karyawan.
"Mbak Riana, pak bos sudah masuk kantor lagi?" tanya pak Deri.
"Belum pak, saya tidak tahu kapan dia kembali bekerja." jawab Riana lemas.
"Lho, kemana pak Ethan? Ini sudah mulai memasuki pembagian gaji karyawan." kata pak Deri.
"Bagikan saja pak, biar saya yang tanggung jawab." kata Riana.
"Tapi, kan harus ada persetujuan pak Ethan mbak Riana." kata pak Deri lagi.
"Lha, kan pak Ethannya aja belum datang." kata Riana.
"Memang pak bos kemana mbak?" tanya pak Deri lagi.
"Saya tidak tahu, bahkan ponselnya saja tidak aktif. pak Deri bagikan saja gaji karyawan, nanti saya yang tanggung jawab. Lagi pula siapa yang salah, gaji karyawan harus tepat waktu di bayar. Jangan di tunda-tunda." kata Riana lagi.
"Yakin nih mbak di bagikan tanpa ada tanda tangan dari pak Ethan?"
"Iya, biar saya yang marahi bos songong itu." kata Riana mulai kesal lagi.
"Ya baiklah, tapi kalau saya di panggil pak Ethan. Mbak Riana ya yang maju, heheh." ucap pak Deri tertawa kecil.
"Ya tenang saja pak Deri, jika bos memanggil pak Deri. Biar aku yang hadapi, sekuasa apa dia sampai membiarkan banyak pekerjaan pada saya." ucap Riana lagi.
"Baiklah mbak, nanti rekapan laporannya saya berikan sama mbak Riana. Biar ada laporannya, nanti tanda tangan pak Ethan dua rekap sekalian." kata pak Deri.
"Iya, jangan lupa nanti kirim juga di email saya pak Deri."
"Siap mbak Riana."
Pak Deri pun pergi setelah berpamitan, besok dia harus menyalurkan gaji karyawan ke masing-masing ATM karyawan perusahaan Wijaya Corps tersebut. Dan menurut Riana tidak boleh menunggu bosnya datang untuk pembagian uang gaji karyawan.
_
Malam hari terasa lelah sekali Riana pulang dari kantor. Sebelum pulang dia mampir lebih dulu ke warung makan tenda yang biasa dia kunjungi dengan Ethan. Entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba dia kangen berselisih paham dengan bosnya itu.
"Kemana dia, apakah dia marah padaku?" gumam Riana.
Duduk di sisi ranjangnya, menatap langit-langit kamar. Menghela nafas panjang dan berat, rasanya seperti kehilangan sesuatu di hatinya.
Akhirnya Riana melepas sepatunya, rasa lelahnya lebih besar dari hatinya yang sepi. Memgambil sabun cuci muka dan berganti pakaian dengan baju piamanya. Dia harus tidur nyenyak agar tidak memikirkan kemana Ethan pergi.
Keluar kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka. Setelah selesai dia keluar dan mengambil air minum di kulkas. Mendinginkan otak dan hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Uuh, segar sekali air dingin ini. Semoga besok aku tidak seperti ini lagi, tetap semangat Riana." ucap Riana pada dirinya sendiri.
Dia pun segera masuk ke kamarnya, semangat sewaktu di dapur kendor lagi ketika sudah masuk ke kamarnya. Dia baringkan tubuhnya dan menguap, mengambil gulingnya segera memejamkan matanya.
Beberapa menit rasa kantuk itu menyerang dan segera terlelap. Tapi ketukan pintu rumah membuatnya jadi terjaga lagi, dengan kesal karena terganggu tidurnya dia pun keluar dari kamarnya. Mungkin itu suara kucing betina yang sedang lari-larian di kejar sang jantan yang ingin kawin.
"Awas aja kalau terus gaduh di depan rumah. Ku usir kamu kucing!" umpat Riana dengan berteriak kesal.
Dia menarik handle pintu, tapi tidak bisa di buka. Dia lupa kunci pintu di letakkan di atas lemari , Riana pun mengambil kuncinya dan segera membukanya. Wajah kesalnya tampak sekali, tangannya sudah memegang sapu.
Ketika pintu terbuka, bukan kucing yang sedanf gaduh. Tapi berdiri seorang laki-laki dengan senyum mengembang. Riana mengedipkan mata beberapa kali, dia tidak percaya laki-laki yang selama ini membuat hatinya galau sedang berdiri di depan rumahnya dengan senyum manisnya.
"Mau apa kamu datang ke rumahku?!" tanya Riana dengan nafas memburu tiba-tiba.
"Pergi sana!" ucap Riana semakin kesal.
Tapi bukannya pergi di usir olehnya, Ethan laki-laki yang membuat Riana galau itu maju dan menarik tubuh kecil itu masuk ke dalam dekapannya. Riana berontak, dia ingin melepaskannya. Namun Ethan semakin erat memeluk Riana.
"Aku benci sama kamu!" ucap Riana dengan keras dan memukul dada laki-laki itu.
"Tapi aku cinta sama kamu, Riana." ucap Ethan.
Riana pun diam, dia melemah. Tiba-tiba dia terisak, membuat Ethan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu rindu padaku ya?"
"Tidak. Sudah aku bilang aku benci sama kamu. Kenapa kamu menghilang, bahkan tidak memberiku kabar. Hik hik hik." kata Riana masih menangis terisak.
"Hahah! Jadi benar kamu merindukanku." kata Ethan melepas pelukannya.
"Kamu pergi kemana?" tanya Riana mengusap air matanya, merasa malu telah ketahuan tentang hatinya.
"Emm, pergi ke suatu tempat. Bertapa dan menemukan wangsit di dalam goa." jawab Ethan.
"Aku tidak butuh jandaanmu!" ucap Riana ketus.
"Aku mencari cara agar sekretarisku ini bisa aku dapatkan. Jadi aku bertapa, menambah ilmu pengetahuanku tentang cara mendapatkan hati Riana yang keras kepala ini." kata Ethan lagi masih dengan candaannya.
"Ethan!"
"Hahah! Baiklah-baiklah. Aku pergi ke suatu tempat, mencari restu dan sudah mendapatkannya." kata Ethan.
"Restu apa?" tanya Riana heran.
"Restu kalau kita akan segera menikah." jawab Riana.
"Ya, aku akan langsung menikahimu." kata Ethan menatap lembut pada gadis itu.
"Heh, aku tanya restu dari siapa? Jangan bilang kamu pergi menghilang karena pergi ke kampungku dan meminta sama ibuku?!" tanya Riana.
"Tepat sekali tebakanmu." kata Ethan masih dengan tatapan lembutnya.
Dia meraba pipi Riana yang terlihat masih basah. Mengelapnya, dan pipi Riana memerah. Dia menunduk malu.
"Ethan."
"Hemm?"
"Semua pekerjaanmu sudah aku selesaikan, tapi ...." ucapan Riana di tahan oleh tangan bosnya.
"Aku tidak mau membicarakan pekerjaan. Jangan bicarakan pekerjaan lagi, ini waktunya membicarakan tentang kita." kata Ethan lagi.
Riana menatap wajah Ethan, dan Ethan pun sama. Mereka saling menatap, wajah Ethan maju ke depan matanya beralih ke bibir Riana. Dia hendak mencium bibir mungil yang suka sekali mengoceh itu. Semakin dekat wajah Riana kaku, dia gugup.
Wajah Ethan semakin dekat, nafasnya sudah meruak mengembus pipi Riana. Tapi kemudian tangan Riana menempel di bibir laki-laki itu.
"Belum halal, sana pulang!" ucap Riana ketus.
"Hei, kenapa tidak boleh?"
"Kenapa kalian lama sekali sih??!"
_
_
*********************