My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
38. Jadi Asisten Lagi



Riana kini sudah bersiap untuk pergi ke rumah pak Wijaya, dia agak segan jika harus pergi ke rumah itu. Bukan apa-apa, di sana ada mantan bosnya dan istrinya. Meskipun kedua suami istri itu enak saja di ajak diskusi atau bicara santai.


Tapi demi jaminan dari perjanjian itu, Riana pun akhirnya memenuhi permintaan Ethan jadi asistennya. Dia sudah menaiki ojek online yang sudah di pesan, dan pukul enam pagi dia pergi ke rumah pak Wijaya.


Tapi bersyukur kalau di rumah pak Wijaya, setidaknya dia merasa aman karena ada yang mengawasi. Jika di apartemen Ethan, dia tidak enak dengan tetangga apartemen Ethan. Meski mereka tidak menggunjingkannya.


Motor ojek online pun berhenti di depan rumah mewah dan besar itu. Riana memberikan ongkos sesuai tarif, kemudian dia melangkah menuju rumah besar tersebut. Menyapa satpam yang sedang menguap karena baru bangun tidur.


"Selamat pagi pak satpam." sapa Riana dengan ramah.


"Eh, mbak Riana pagi-pagi sudah ada di sini?" tanya satpam heran.


"Iya pak satpam, ada tugas baru. Nanti setiap pagi aku kesini kok selama satu bulan." kata Riana.


"Eh, oh yakah? Waah, senangnya lihat mbak Riana datang setiap pagi. Heheh, mata melek nih." ucap pak satpam dengan tawa candanya.


"Pa satpam bisa saja. Ya sudah, aku masuk dulu."


"Iya mbak."


Riana pun melangkah menuju pintu rumah, di sana dia sudah di tunggu oleh pembantu pak Wijaya. Ternyata, para pembantu di rumah pak Wijaya itu sudah di beritahu kalau setiap pagi Riana akan datang ke rumah tuannya itu.


"Selamat pagi mbak Riana." sapa pembantu yang menunggu Riana dengan ramah.


"Ya pagi mbok Sri. Apa pak Ethan sudah bangun?" tanya Riana.


"Kurang tahu mbak, coba saja ke kamarnya." kata mbok Sri.


"Oh, aku pikir sudah bangun. Tapi di mana kamarnya mbok? Aku tidak tahu." tanya Riana.


"Mari ikut mbok, den Ethan menyuruh mengantar mbak Riana ke kamarnya kalau sudah datang. Jadi, mbok menunggu mbak Riana." kata mbok Sri.


Mereka pun menuju kamar Ethan di lantai dua, Riana mengikuti langkah mbok Sri naik tangga. Sampai di lantai dua, mbok Sri menunjuk sebuah kamar besar.


"Ya itu mbak kamarnya, silakan kesana sendiri saja. Saya ada pekerjaan lagi di dapur." kata mbok Sri.


Mbok Sri pun turun tangga, Riana ragu mau menuju kamar Ethan. Tapi dia pun akhirnya melangkah, mengetuk pintu beberapa kali. Tak ada jawaban, dengan ragu dia menarik handle pintu tapi dia terkejut karena sapaan dari perempuan paruh baya.


"Riana?"


Riana menoleh ke arah sumber suara, dia tersenyum kaku. Merasa malu karena sepagi ini ada di rumah bosnya, apa lagi bertemu dengan ibu dari bosnya.


"Eh, tante. Saya mau ..." kata Riana tertahan kalimatnya..


"Oh ya, bangunkan saja. Ethan belum bangun sepertinya." kata nyonya Hana.


Riana diam, jadi ibu dari bosnya tahu kalau pagi-pagi dia akan datang. Dia heran kenap tidak menikah saja bosnya itu, kenapa harus menyuruhnya jadi asisten pribadi dan melakukan apa pun seperti seorang istri lakukan.


Agak kesal juga, tapi dia ingat kembali kalau semuanya demi renovasi rumahnya dan kebun ibunya akan di perluas. Nyonya Hana tersenyum, lalu dia turun ke bawah tanpa bicara lagi pada Riana.


Dia tahu Riana pasti malu, dan Riana pun kembali menarik handle pintu. Ternyata tidak di kunci, dengan pelan-pelan Riana masuk ke dalam kamar besar itu. Melihat sekeliling kamar besar itu dan berdecak kagum sekaligus berdecih.


"Cih, kamar besar pantas saja tidur jadi nyenyak. Malas bangun pagi, tuan muda." ucap Riana kesal.


Dia menuju ranjang Ethan, di sana terlihat Ethan masih bergolek di pembringannya itu. Dia pun berhenti, menatap laki-laki itu yang masih tertidur. Terlintas di benaknya untuk mengerjai sang bos.


Di ambilnya ponselnya, memutar musik alarm dengan keras. Kemudian di tempelkan di telinga Ethan, suara alarm itu berbunyi sangat keras hingga memekikkan telinga Ethan dan laki-laki itu pun terperanjat kaget.


Kriiiing!


Kriiiing!


Suaranya masih berbunyi, Ethan membuka matanya karena kaget suara alarm berbunyi keras di telinganya. Dia melihat Riana mengulurkan tangannya dengan memegang posnelnya.


"Riana!"


"Hei! Kamu berteriak padaku?!"


"Untuk bos malas bangun pagi, seharusnya di bangunkan dengan cara seperti ini." kata Riana ketus.


"Ck, tidak sopan sekali. Kenapa harus dengan cara itu membangunkanku. Apa tidak ada cara lain yang lebih mesra?" ucap Ethan kesal.


"Mesra? Harusnya cepat cari istri, kalau aku yang membangunkan. Berarti harus siap cara seperti itu." kata Riana menatap sinis pada bosnya itu.


"Ck, kalau bukan kamu. Sudah aku usir asisten dengan membangunkan cara seperti itu." kata Ethan.


"Oke, aku siap di pecat jadi asisten pribadi." kata Riana..


Ethan menatap datar, dia harus sabar menghadapi Riana. Sepertinya Riana tahu rencananya itu, dia harus memutar otak bagaimana menaklukkan hari Riana itu.


Tanpa berkata apa-apa, Ethan pun beranjak dari ranjangnya. Dia menuju kamar mandi, untuk mandi dan bersiap pergi ke kantor. Riana duduk di kursi, dia melihat meja kerja Ethan yang tak jauh dari ranjangnya.


Lama Riana menunggu bosnya selesai mandi, kemudian dia memilih buku-buku di rak buku. Banyak sekali buku tengang biografi tokoh dunia, ternyata Ethan sangat menyukai buku biografi tokoh dunia.


"Riana, mana bajuku?" tanya Ethan.


Riana menoleh, dia melihat Ethan hanya memakai handuk saja sepinggang. Dia berbalik, merasa malu melihat sang bos hanya memakai handuk saja. Tiba-tiba dia kesal, kenapa harus melihat Ethan seperti itu.


"Kenapa dia hanya memakain handuk saja sih?" gumam Riana.


"Riana!"


"Apa sih?!"


"Mana bajuku?"


"Iya, aku ambilkan. Di mana tempat bajunya?" tanya Riana.


Ethan mendekati Riana, sejak tadi Riana tidak mau mendekat padanya karena keadaannya berbeda. Tubuh kekar dan berotot, Riana jadi kikuk sendiri.


Dia mencoba menghindar dari tatapan Ethan dengan tubuh yang hanya berbalut handuk sepinggang saja.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau ambil bajumu pak." kata Riana salah tingkah karena Ethan mendekat padanya.


Dengan cepat Ethan menarik tangan Riana, membawanya ke ruang khusus baju-bajunya. Walk in kloset berukuran dua meter kali lima meter itu banyak sekali menyimpan baju-baju dan sepatu Ethan.


"Pilih baju untukku, jangan lama." kata Ethan.


Riana melihat banyak sekali baju di gantung di lemari gantung. Dia memilih baju kemeja, dasi dan juga jas serta celana panjangnya. Ethan memperhatikan apa yang di lakukan oleh Riana dengan bersedekap.


"Nih bajunya." kata Riana menyerahkan baju Ethan.


"Kamu keluar, tunggu di ranjang." kata Ethan.


"Eh, mau apa?"


"Mau apa?"


"Oh, baiklah. Saya keluar." kata Riana..


Riana pun keluar, dia benar-benar gugup sekali melihat Ethan yang seksi seperti itu. Dia mengelus dadanya, benar-benar kali ini sangat bingung di buatnya. Ada apa dengan detak jantungnya?


_


_


*******************