
Pagi hari, Riana seperti biasa menyiapkan keperluan suaminya untuk pergi ke kantor. Dia tidak masuk kantor hari ini sesuai dengan ucapannya sama Ethan.
Riana mengambil baju kantor suaminya dan di letakkan di atas ranjang. Mengambil sepatunya juga, dia masih memakai handuk kimono setelah mandi tadi pagi.
"Sayang, berkas kemarin aku bawa sudah di siapkan?" tanya Ethan mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Sudah mas sudah di masukkan ke dalam tas kok." jawab Riana.
Dia menghadap suaminya dan membantu mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ethan duduk di ranjang dengan menghadap pada Riana memegangi rambutnya. Tangan Ethan dengan iseng meraba dadanya dan menekannya, membuat Riana kaget.
Dia tersenyum melihat reaksi istrinya yang kaget, belum sampai di situ. Tangannya masuk ke bagian bawah, menyibak handuk kimononya dan mengelus milik Riana.
Plak!
Tangan Ethan di pukul yang masuk ke dalam handuknya. Dan kembali dia tertawa senang, Riana kesal sekali. Akhirnya Riana menyudahi membantu suaminya mengelap rambutnya.
"Kok sudah sih sayang, kan masih basah ini." kata Ethan.
"Keringkan sendiri, tuh ada hairdryer." kata Riana masuk ke dalam kamar ganti.
Dia kesal pada Ethan, dan juga menyesal kenapa tidak langsung memakai baju. Karena suaminya itu tingkat mesumnya tinggi. Setelah selesai, Riana keluar lagi dan segera mengambil baju suaminya.
"Siang nanti mau pulang ke rumah?" tanya Riana.
"Makan siang?"
"Iya. Tapi jangan deh."
"Kenapa?"
"Aku sama ibu dan Nino mau jalan ke mall, mas. Mengajak mereka jalan-jalan." kata Riana.
"Emm, jadi aku ngga di ajak?" tanya Ethan.
"Kamu kan kerja mas." jawab Riana.
"Ya, baiklah. Kamu senang-senang dengan ibu dan adikmu, tapi nanti malam kamu milikku." kata Ethan.
"Ya ampun, setiap hari aku milikmu. Kenapa hanya nanti malam saja?"
"Oh iya ya. Hahah! Tapi hari ini ibu menyewamu, mengajal jalan untuk bersenang-senang. Emm, besok boleh deh kamu bolos kerja lagi." kata Ethan.
"Oh ya?!" tanya Riana tak percaya.
"Iya, asal ada imbalannya." kata Ethan.
"Hei, setiap malam ya aku layani kamu."
"Kok kamu tahu sih kemana aku minta imbalannya?"
"Ya karena pikiran mesummu sudah tercetak di keningmu, jadi aku tahu apa yang kamu pikirkan." kata Riana.
"Hahah! Istriku ini sudah hafal apa yang aku inginkan." kata Ethan tertawa senang.
"Cuih! Hanya itukah yang di pikirkan suami?"
"Kamu tahu, setiap detik dalam sehari laki-laki itu memikirkan kesenangan. Untuk menunjang keseriusan dalam bekerja. Makanya kenapa laki-laki itu sangat senang melihat perempuan-perempuan cantik. Kalau dia bisa tergoda, tentu dia akan main dengan cara yang salah. Makanya laki-laki yang seperti itu harus cepat menikah dan punya istri, agar semua kebutuhan biologisnya tersalurkan dengan benar." kata Ethan.
"Tapi banyak tuh pengusaha kaya yang sudah punya istri masih saja main belakang dengan perempuan lain." kata Riana.
"Maka itu tadi, laki-laki yang mudah tergoda akan melakukan sesuatu yang di langgar. Karena tidak ketahuan, jadi dia terus melakukannya lagi. Padahal sih kasihan juga istrinya di rumah, yang mengurus segala keperluannya dan keluarganya. Dia dengan alasan pekerjaan, padahal senang-senang dengan perempuan lain." ucap Ethan.
"Tentu saja, aku itu tipe orang yang tidak pernah gonta ganti, dan setia. Dan jika sudah mendapat perempuan yang menarik dan baik, maka aku akan mencintainya selamanya. Selain untuk kebutuhan otak mesumku, juga aku sangat menyayangi istriku." kata Ethan.
Riana tersenyum saja dengan teori suaminya itu. Entahlah, memang otak mesum laki-laki itu harus tersalurkan jika sudah punya pasangan sah, agar tidak jajan kemana-mana.
_
Saat ini Riana dan ibunya juga adiknya sedang mencari baju-baju untuk oleh-oleh pulang ke kampung. Nino senang dia di belikan baju serta sepatu untuk sekolah. Tak lupa juga tas ranselnya, dia seperti anak kecil yang meminta barang lalu langsung di berikan.
"Nino, kamu jangan kalap ya kalau beli barang." kata ibunya.
"Biar aja bu, kak Riana kan yangnya banyak. Suaminya juga kaya, beli barang-barang begitu sih ngga seberapa." kata Nino memilih-milih kaos untuk di rumahnya.
"Jangan ngelunjak kamu Nino, meskipun kakakmu banyak uang. Tapi jangan begitu." kata ibunya lagi.
"Sudah bu, ngga apa-apa. Mas Ethan juga sdah kasih uang khusus untuk jalan-jalan kita kok. Kamu mau beli apa tinggal ambil aja." kata Riana.
"Waah, asyik nih." kata Nino dengan sumringah.
Ibu Sarmi menatap anaknya kesal, tapi kemudian berjalan mengitari tempat baju-baju dewasa. Dia juga memilih-milih baju yang dia suka, beberapa baju dia coba di badannya beberapa kali.
"Kemana ya mencoba bajunya?" ucap bu Sarmi mencari tempat mencoba baju.
Matanya berkeliling mencari, dia berjalan mencarinya. Hingga menabrak seorang perempuan yang sedang memilih baju.
Bug!
"Eh, maaf." kata bu Sarmi dengan wajah malu.
"Oh ya, ngga apa-apa." kata perempuan yang sebaya dengan bu Sarmi itu tersenyum.
Bu Sarmi pun mencari lagi ruang untuk mencoba baju. Dan akhirnya ketemu, bu Sarmi pun menuju tempat itu. Menunggu orang yang ada di dalam, dia membawa beberapa baju untuk di coba. Akhirnya keluar, bu Sarmi pun masuk.
Beberapa baju dia coba dan berkaca, bu Sarmi mematut di depan kaca lalu tersenyum. Setelah merasa cocok dengan baju yang sudah di pilih, akhirnya dia memutuskan untuk membeli dua baju itu. Setelah di lepas bajunya, bu Sarmi pun keluar dari tempat mencoba baju.
Bu Sarmi melihat di depannya ibu yang tadi dia tabrak. Dia pun tersenyum lalu melangkah keluar, saat keluar dia tertegun melihat seorang laki-laki di depannya. Matanya tak berkedip, sejenak jantungnya berdetak tidak percaya. Mulutnya bergumam.
"Juli?"
Laki-laki itu pun sama halnya menatap bu Sarmi dengan mematung, dia seperti mengingat seseorang. Tapi entah siapa?
Yang ada di ingatannya adalah seorang perempuan yang pernah ada, tapi dia mencoba mengingat. Tapi tidak bisa.
Sedangkan bu Sarmi masih diak di tempatnya, beberapa menit keduanya masih saling tatap. Sesak nafas bu Sarmi, tapi dia tidak yakin dengan laki-laki di depannya itu apakah memang sejak waktu enam belas tahun itu salah?
"Mas, ini cocok buatku?" tanya seorang perempuan yang di belakang bu Sarmi.
Bu Sarmi menoleh ke belakang, dan terkejut. Ibu tadi pun ikut tersenyum padanya, sedangkan laki-laki tadi menghampiri istrinya yang ada di pintu kamar salin. Tapi dia melirik bu Sarmi.
Bu Sarmi pun pergi, dia benar-benar syok dengan pasangan tadi. Terutama melihat laki-laki tua itu. Ingatannya tidak mungkin hilang ketika enam belas tahun lalu terjadi longsor kalau suaminya itu hilang.
Apa mungkin sebenarnya dia tidak hilang?
_
_
*******************