My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
54. Bertemu Pak Rudy



Ethan pun meluncur pergi ke restoran yang di sebutkan tadi di telepon oleh mamanya. Dia khawatir pastinya mama dan papanya akan marah padanya kenapa Riana tidak makan siang dengannya. Apa lagi tahu kalau dirinya pergi makan siang dengan Natasya.


Dalam perjalanan menuju restoran tersebut, dia sempat mengirim pesan notif pada istrinya. Menanyakan bagaimana kabar mama dan papanya ketika Riana sendiri di kantor.


Jalan macet, Ethan tidak sabar untuk segera sampai di restoran masakan Sunda Nusatara. Selalu melirik jam di tangannya, dia memeriksa pesan dari istrinya. Tapi tidak juga di jawab, membuat Ethan gelisah.


"Kenapa dia tidak menjawab pesan suaraku sih." ucap Ethan.


Dia langsung melajukan mobilnya ketika kemacetan terurai. Langsung mencari jalan tikus untuk bisa sampai.


Dan tak berapa lama, mobil Ethan sudah memasuki area parkir restoran di mana kedua orang tua dan istrinya berada untuk makan siang. Dia langsung keluar dari mobilnya, melangkah masuk ke dalam restoran. Mencari keberadaan istrinya itu.


Lambaian tangan dari Riana pada Ethan, dia tersenyum ketika melihat dari jauh mamanya sangat perhatian pada istrinya. Ethan mendekat, dan mencium kening Riana.


"Halo ma, pa. Kok ngga bilang-bilang mau makan siang bersama sih?" tanya Ethan duduk di samping Riana.


"Untuk apa bilang sama kamu, kamu sendiri sibuk dengan klien sok cantik itu." kata nyonya Hana dengan ketus.


"Ya ma, Riana aja ngga marah kok." kata Ethan.


"Mana bisa dia marah, dia akan pasrah saja dengan kelakuanmu." kata nyonya Hana masih kesal sama anaknya itu.


"Kata siapa ma? Dia cemburunya besar, mana selalu mengungkit masa lalu lagi. Aauuuw!"


Etha menjerit keras kesakitan karena Riana mencubit pahanya dengan keras.


"Sayang, kenapa kamu cubit aku sih? Sakit tahu." ucap Ethan menoleh pada istrinya itu.


Riana diam saja, dia sangat malu ketika Ethan membeberkan prilakunya di depan kedua mertuanya itu.


"Seorang istri itu wajib cemburu pada suaminya yang suka macam-macam. Dia harus melindungi para pelakor yang berusaha merebut suaminya, meskipun suaminya itu tidak ada niat untuk selingkuh. Tapi dia harus waspada terhadap para pekakor itu." kata nyonya Hana dengan bersemangat.


"Ma, kenapa jadi kayak mau orasi di depan para penerima sembako sih? Tuh lihat, di pandangi sama pengunjung lain." kata pak Wijaya mengingatkan istrinya itu.


"Ya, tapi Riana ngga cemburuan. Dia percaya sama aku ma, dan lagi mana ada aku selingkuh sama perempuan lain. Istriku itu unik banget, jadi harus di jaga dan di perhatikan." kata Ethan lagi.


"Maksudnya apa mas?" tanya Riana kali ini bicara.


"Ngga sayang, kamu itu tiada duanya. Kamu yang paling cantik, paling unik dan antik." kata Ethan lagi.


"Ya ampun, istrimu kamu anggap barang antik Ethan?!"


"Duh, bukan begitu ma."


"Sudah ma, jangan ribut terus. Ethan, bagaimana dengan perempuan itu? Apa ada kesepakatan lain? Atau dia mengulur waktu lagi?" tanya pak Wijaya menengahi perdebatan anak dan istrinya itu.


"Sudah pa, aku sudah memutuskan hubungan dengannya. Kerja sama di batalkan, dia meminta di perbaiki lagi surat perjanjian dengan kalimat apa itu. Katanya salah tulis atau apa itu, aku jadi kesal. Mana dia menyalahkan istriku lagi, jadi aku memutuskan membatalkan kerja sama dengan dia." kata Ethan.


"Kamu memutuskannya mas?" tanya Riana.


"Iya, kan tadi malam aku sudah bilang. Jika dia masih saja mengulur waktu, ya aku batalkan. Masih banyak kan klien yang mau kerja sama dengan kita?" tanya Ethan.


"Iya. Yang sedang menunggu ada tiga proposal. Jadwal pertemuan dengan klien sudah di susun kok, ada di ipad di laci mejaku." kata Riana.


"Ya, nanti kita kerjakan sesuai jadwal saja. Buat apa buang-buang waktu dengan dia." kata Ethan.


"Baguslah, papa juga tidak suka dengan dia. Sama papa juga sebenarnya hampir jadi itu kerja samanya, tapi dia meminta perjanjiannya sama kamu saja. Jadi, papa pikir dia benar begitu." kata pak Wijaya.


"Iya pa. Aku juga muak sih."


"Sudah ma, aku sudah kasih tahu dia. Bahkan kukasih tahu kalau Riana sekretarisku itu istriku." ucap Ethan.


Riana menatap suaminya, dia tersenyum senang karena suaminya sudah memberitahu kalau dia adalah istrinya. Ethan menoleh pada istrinya, jika bukan karena di hadapan papa dan mamanya. Ethan sudah mencium istrinya itu karena gemas dengan Riana yang tersenyum manis.


_


Selesai makan siang, Ethan dan Riana pun kembali ke kantor. Mereka hendak masuk ke dalam mobil, tapi seseorang memanggil Ethan dari jauh.


"Ethaan!"


Teriak seseorang dari jauh, Ethan menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya. Dia tersenyum, menutup kembali pintu mobilnya dan mendekat pada laki-laki tua yang mendekat padanya.


"Nak Ethan, apa kabar?" tanya laki-laki itu menjabat tangan Ethan.


"Baik pak. Bapak sendiri bagaimana?" tanya Ethan menanyakan kabar.


"Bapak juga baik. Senangnya bapak bisa ketemu kamu di sini, bagaimana kabar kamu? Apa sudah bahagia? Heheh." ucap laki-laki itu yang tak lain adalah pak Rudy.


"Hahah! Bapak bisa saja. Tentu pak, saya selalu bahagia karena sudah menikah." kata Ethan tertawa denang.


Riana di dalam mobil heran dengan suaminya itu. Dia penasaran, Ethan sedang bicara dengan siapa.


"Mana istrimu? Apa dia tidak ikut?" tanya pak Rudy.


"Ada di mobil. Sebentar, saya kenalkan dengan istri saya ya. Dia cantik dan manis pak Rudy." kata Ethan.


"Cantik mana dengan mantanmu? Hahah!"


"Hahah! Tentu saja cantik istriku itu, dia bahkan sangat menyenangkan. Sebentar ya pak, saya suruh dia kenalan dengan bapak." kata Ethan.


Ethan pun mendekati mobil, dia memanggil Riana untuk keluar dan berkenalan dengan pak Rudy. Riana pun keluar, dia melihat pak Rudy tampak tersenyum padanya. Tapi kemudian pak Rudy tertegun menatap Riana, dia seperti mengingat seseorang yang pernah ada di hidupnya.


Tapi ingatan itu seperti melintas saja, tidak tahu siapa yang ada di ingatannya itu. Ethan mengajak Riana untuk bersalaman pada pak Rudy, Riana tersenyum kaku karena pak Rudy menatap Riana seperti mengingat sesuatu.


"Pak Rudy, ini Riana istriku yang paling cantik. Heheh." kata Ethan.


"Oh, ini istrinya ya?"


"Iya pak, saya Riana." kata Riana menjabat tangan pak Rudy.


"Seperti mengingat seseorang, tapi entah siapa ya." kata pak Rudy.


"Benarkah? Apa istri pak Rudy?"


"Emm, entahlah. Tapi bukan sih." kata pak Rudy.


Mereka mengobrol sebentar, kemudian berpisah karena Ethan dan Riana harus kembali ke kantor. Karena waktu makan siang sudah selesai, jadi mereka harus kembali.


Pak Rudy meminta alamat Ethan karena dia mungkin akan datang ke rumah Ethan untuk berkunjung suatu saat nanti. Begitu kata pak Rudy, dan Ethan pun dengan senang hati memberinya alamat rumahnya pada pak Rudy.


_


_


*******************