My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
50. Rumah Baru



Masa liburan setelah pernikahan telah usai. Satu minggu Ethan dan Riana cuti dan mereka melakulan bulan madu tidak jauh dari kota mereka tinggal. Riana yang meminta, hanya bulan madu di dalam negeri saja. Banyak sekali kejadian dan kebahagiaan yang meliputi keduanya.


Riana, meski dia kini sudah tidak seketus dulu pada suaminya. Tapi tetap saja selalu mengajak Ethan berdebat masalah hal kecil. Seperti sekarang ini, Ethan sudah membeli rumah baru di tengah kota juga untuk tempat tinggalnya dan Riana.


Merapikan rumah dan mengatur segala dekorasi rumah. Riana inginnya di taman belakang ada beberapa tanaman buah yang mudah di tanam. Tapi Ethan ingin di buat kolam renang. Sebagai solusinya, Ethan mengalah di halaman belakang di buat taman yang ada tanaman buahnya. Tapi ada kolam renangnya juga meski hanya berukuran tiga meter kali lima meter.


"Jangan deh, nanti susah membersihkannya kolam renang itu. Dan aku juga malas berenang." kata Riana.


" Ya ampun sayang, kamu bukan di suruh berenang setiap hari. Aku juga ngga setiap hari berenang, hanya untuk menjaga kebugaran tubuh dan menjaga berat badan biar tetap bagus." kata Ethan.


"Buat apa jaga tubuh? Buat menarik perhatian Natasya itu?" tanya Riana sinis.


Ethan menoleh pada istrinya yang tiba-tiba cemburu karena dia sering bertemu Natasya dalam suatu pekerjaan. Sekarang mereka sedang berada di dapur, Ethan mendekati Riana yang sedang memasak.


Dia memeluk dari belakang, di pepetnya tubuh Riana dan mencium pipi gadis itu. Riana diam, dia merasa geli karena Ethan terus mengendus di bagian lehernya. Menciuminya dan menggigit-gigit kecil.


"Hei, sakit tahu." ucap Riana mengedikkan pundaknya karena geli.


"Emm, kenapa jadi cemburu begini ya. Padahal waktu itu biasa saja aku pergi menemui Natasya. Hemm?"


"Itu kan aku tidak punya status, buat apa aku cemburu. Lagi pula kamu itu suka kan di goda oleh Natasya itu." kata Riana.


"Kenapa aku harus suka? Kamu seharusnya sadar, kalau aku hanya melakukan itu untuk membuatmu cemburu. Tapi kamu kelihatan biasa saja tidak peka. Jadi kelihatan sekarang cemburunya." ucap Ethan lagi menggigit leher istrinya itu.


"Sudah dong, aku masak ngga selesai-selesai ini. Di ganggu terus." ucap Riana.


"Aku suka ganggu kamu. Apa lagi kalau di kamar, mendengar jeritanmu yang syahdu itu. Emm."


"Diam ngga?! Kenapa juga selalu itu saja yang di bahas." ucap Riana kesal, Ethan tertawa senang.


Riana sudah menyelesaikan masakannya, mematikan kompornya dan berbalik menghadap suaminya. Mereka saling tatap, Ethan menatap sambil tersenyum. Tapi Riana menatap penuh kekesalan.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Riana ketus.


"Ya ampun, ketusnya itu ngga hilang juga ya."


"Aku ketus karena kesal."


"Kamu sedang hamil nih sepertinya, marah-marah terus." ucap Ethan mengelus perut istrinya.


Plak!


"Baru menikah sepuluh hari yang lalu, dan sebelas hari yang lalu aku masih perawan. Mana ada hamil duluan." kata Riana.


"Hahah! Aku sampai lupa kalau aku membobol gawang istriku penuh dengan perjuangan. Terima kasih ya, kamu menjaga dengan baik dirimu. Cup." kata Ethan mengecup bibir Riana sekilas.


"Heh, tapi aku tidak mendapatkan suamiku perjaka. Dia sudah entah berapa kali main dengan mantannya." kata Riana kini rasa cemburunya merambat ke masa lalu.


"Kamu percaya? Hanya dua kali aku main, ya mungkin aku di takdirkan untukmu dan tidak banyak main dengan mantanku itu. Bahkan dia bermain dengan sahabatku berkali-kali." kata Ethan mengenang mantan pacarnya, Daby.


"Jadi kamu menyesal?" tanya Riana.


"Ya, aku menyesal. Kenapa aku tidak bertemu lebih dulu denganmu, dan mencintaimu." kata Ethan.


Kini keduanya masih berhadapan saling memegang pinggang. Tangan Riana membelai pipi Ethan, dia tersenyum karena merasa tidak percaya dengan semua yang dia alami ini. Menjadi sekretaris Ethan beberapa bulan, dan kini malah jadi istrinya.


"Kamu sering menatapku di kantor?" tanya Ethan.


"Emm, begitu ya. Kupikir kamu adalah benar selingkuhan papaku waktu lihat pertama kali, dan berpikir akan mengerjaimu." kata Ethan.


"Ooh, jadi waktu itu kamu balas dendam padaku?" tanya Riana.


"Ya, aku balas dendam sama kamu karena kamu terlalu dekat dengan papaku." kata Ethan.


"Hahah, lucu sekali. Aku profesional dalam bekerja, dekat dengan papamu itu memang seharusnya. Karena aku sekretaris, kenapa tidak boleh dekat. Bahkan mama Hana saja percaya sama aku." kata Riana.


"Dan sekarang anaknya yang jadi suaminya."


"Makanya, jangan melihat sesuatu dari luar. Kenapa juga bisa balas dendam dan mengerjaiku sampai merubah ruangan kantor." ucap Riana mengingat waktu pertama kali menjadi sekretaris Ethan.


"Karena kamu menarik sayang, aku tertarik sama kamu." kata Ethan.


Kini keduanya pun saling mengulum, merasakan kembali kasih sayang yang membuncah di dada. Mereka saling menyentuh lagi dan saling menginginkan.


Dalam rumah baru itu, memang sudah di siapkan Ethan jauh-jauh hari sebelum dia berkunjung ke kampung Riana meminta restu. Dia sudah membeli rumah itu secara diam-diam dan menjual apartemennya. Dia bercita-cita ingin menikahi Riana langsung menempati rumah baru itu.


Mamanya yang keberatan, tapi Ethan ingin lebih leluasa berdua dan saling mengungkapkan perasaan masing-masing tanpa ada gangguan dari orang lain.


_


Percintaan mereka di dapur membuat hal baru dan menyenangkan. Riana tidak menyangka akan di cintai begitu dalam oleh sang bosnya. Setelah mandi bersama, kini mereka makan di meja makan dengan santai.


"Besok mulai kerja. Apa aku harus jadi sekretarismu lagi?" tanya Riana.


"Ya, aku tidak mau dengan yang lain." jawab Ethan menyuapi Riana makanan.


"Emm, kalau aku hamil bagaimana?" tanya Riana.


"Kamu tetap jadi istriku, jadi sekretarisku. Aku akan buat ruangan khusus untuk anak-anak di dalam ruang kantorku. Pokoknya aku tidak mau sekretaris lain, hanya kamu seorang." kata Ethan.


"Ya ampun, kalau bos itu bebas bertitah ya. Nanti bagaimana dengan karyawan lain? Masa ngga boleh memberikan kesempatan mereka naik jabatan." kata Riana.


"Nanti, aku pikirkan. Jika kamu memang benar-benar kerepotan mengurus anak, aku pikirkan cari penggantimu. Sekarang aku tidak mau memikirkan itu, aku percaya kamu bekerja dengan profesional meski bosmu itu akan lebih protektif sama sekretarisnya." kata Ethan lagi.


"Terserah bos, aku kan cuma sekretaris. Mana bisa menentang perintah bos." kata Riana.


"Kata siapa kamu hanya sekretaris? Kamu istriku, Riana sayang." ucap Ethan lagi.


"Istri di rumah, di kantor tetap saja sekretaris."


"Di kantor bisa kok kamu jadi istriku. Status istri tidak bisa hilang meski di kantor. Kamu itu ada-ada saja. Kenapa aku jadi kesal tapi gemas ya sama kamu." kata Ethan menatap istrinya.


Riana diam, lalu tersenyum, dia mengecup pipi suaminya dan menghabiskan sisa makanan terakhir. Ethan tersenyum, dan membalas mencium pipi Riana.


Dia mengambil minum dan menenggaknya. Riana membereskan piring-piring kotor dan di pindahkan ke dalam pencucian piring. Ethan mendalat telepon dari papanya, memastikan besok masuk kantor lagi. Karena beberapa klien sudah menanyakan dirinya untuk membicarakan kerja sama.


_


_


**********************