My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
44. Galau



Riana pergi ke apartemen Ethan, biasa dia datang ke apartemen itu sewaktu jadi asisten pribadi waktu pertama kalinya. Ojek online berhenti di depan gedung bertingkat, Riana membayar tarif ongkosnya. Dia berjalan menuju pos satpam dan meminta mengizinkannya masuk ke dalam apartemen Ethan.


"Emm, mbak mau ke apartemen di atas?" tanya satpamnya.


"Iya. Bisa kan pak satpam?" tanya Riana.


"Tapi, apartemen siapa ya mbak?" tanya satpam lagi.


"Apartemen pak Ethan, apa dia ada di sana?" tanya Riana.


"Saya kurang tahu mbak, tapi memang seingat saya apartemen milik pak Ethan itu ada yang menempati. Tapi ...."


"Nah kan, ya udah. Izinkan saya masuk ya, soalnya ini penting banget." kata Riana.


"Tapi mbak, kalau tidak salah bukan pak Ethan yang di dalam apartemen itu." kata satpam.


"Memang pak satpam tahu?"


"Kan setiap jam sore hari dan malam hari saya patroli sama teman saya ke apartemen itu, siapa tahu ada kegaduhan atau ada penghuni apartemen yang bikin ulah. Jadi saya bertindak sebelum ada kejadian." kata satpam lagi.


"Ya sudah, saya ingin memarahi bos saya itu. Dia dua hari tidak masul kantor, tidak memberi kabar juga. Jadi saya mau mengingatkannya." kata Riana semakin emosi dengan sikap satpam yang ragu-ragu itu.


Satpam tampak diam, seingat dia apartemen milik Ethan itu memang ada penghuninya. Tapi entah siapa, dan akhirnya dia membiarkan Riana pergi ke dalam unit apartemen Ethan.


Riana berjalan cepat menuju lift, dia tidak sabar ingin mendamprat bosnya yang tidak ada kabar selama tiga hari ini. Bahkan pekerjaannya terbengkalai. Di rumahnya bahkan masih sepi seperti kemarin dia kesana.


"Seenaknya saja dia bekerja, aku yang capek mengurus semuanya. Tapi dia malah tidak ada kabar sama sekali, dia pikir aku pekerja rodi di jaman Jepang itu." ucap Riana dengan menerocos tidak jelas.


Layaknya ibu-ibu yang mengancam tetangganya yang sudah memarahi anaknya, Riana berjalan cepat dan segera menuju unit apartemen Ethan. Tepat di depan pintu apartemen, Riana menggedor pintu apartemen dengan keras beberapa kali.


Hingga pintu terdengar ada yang membukanya, Riana mundur beberapa langkah. Niatnya jika itu yang membuka Ethan, dia akan mendampratnya sampai habis-habisan. Dia tidak peduli nanti akan di pecat atau tidak, yang jelas dia ingin memarahi bosnya itu.


Pintu terbuka, tampak seorang perempuan cantik rambut tergerai dengan memakai baju tidur yang lumayan transparan. Tensi darah Riana naik, matanya melebar. Memandang perempuan berdiri bersandar di pintu menatapnya aneh.


"Cari siapa mbak?" tanya perempuan itu.


"Aku cari bosku. Bagus banget ya dia enak-enakan menyewa perempuan di apartemennya, sedangkan pekerjaannya selama tiga hari terbengkalai." kata Riana dengan keras.


Perempuan cantik itu mengerutkan dahinya, heran dan bingung apa yang di bicarakan oleh Riana. Riana siapa dia tidak tahu, tapi perempuan itu menghela nafas kasar.


"Mbak, kalau ngomong jangan sembarangan ya. Saya bukan perempuan panggilan, dan siapa yang mbak bilang itu bosmu? Tanya dulu, jangan asal bicara." kata perempuan itu kesal karena di sangka oleh Riana perempuan sewaan.


"Terus mana itu laki-laki bernama Ethan? Dia pemilik apartemen ini. Aku tahu itu, jadi jangan sembunyikan dia dariku." kata Riana mulai kalap.


"Hei! Jangan sembarangan ya. Apartemen ini milik suamiku!" teriak perempuan itu tak kalah garang.


"Kalau mengaku-ngaku itu yang jelas. Apartemen ini bukan milik Ethan, enak saja. Suamiku yang beli dan dia beli dengan kontan!" ucap perempuan itu lagi dengan pongah.


"Lalu, di mana suami mbaknya?" tanya Riana.


"Dia sedang pergi mencari makanan, kamu tunggu saja. Lebih baik kamu pergi sana!" ucap perempuan itu lagi.


Kembali Riana diam, dia tidak tahu jika apartemen Ethan itu sudah di jual. Tapi kenapa di jual? Dan kemana bosnya itu.


"Maaf kalau begitu." kata Riana akhirnya melemah suaranya.


"Lain kali tanya lebih dulu, jangan langsung marah-marah. Sudah bagus tidak saya laporkan pada satpam di depan, perempuan aneh." kata perempuan itu pada Riana.


Riana pun memberi hormat tanda maaf, kemudian dia pun melangkah pergi. Dia berpapasan di lorong dengan laki-laki yang menatapnya aneh, Riana menoleh ke arah laki-laki yang tadi masuk ke dalam apartemen Ethan itu.


"Kesel aku pa, papa punya selingkuhan ya?" tanya perempuan di dalam apartemen itu terdengar oleh Riana.


"Selingkuhan apa ma? Aku baru datang kok di sangka selingkuh." kata laki-lakinya.


"Tadi, ada gadis aneh datang marah-marah mencari bosnya. Dia menyangka apartemen ini milik bosnya dan dia datang marah-marah. Enak aja dia bilang mama perempuan sewaan." istrinya lagi.


Riana mendengar itu, dengan buru-buru dia pergi dari gedung apartemen itu. Dia tidak mau suaminya itu akan ikut mendampratnya juga. Dia naik lift, pikirannya masih bingung kenapa bosnya tidak ada kabar sama sekali.


"Apa dia pergi ke Inggris lagi?" ucap Riana.


Sepanjang dia di gedung apartemen itu, dia banyak berpikir. Kemana Ethan pergi dan kenapa dia menonaktifkan ponselnya. Apakah karena dia tidak juga menerima pernyataan cinta Ethan, sehingga laki-laki itu pergi begitu saja.


"Kamu kemana sih? Kenapa jadi begini?" ucap Riana.


Dia sudah di depan pintu gerbang, pak satpam hanya memandangnya aneh karena sejak dari lift tadi Riana hanya dian dan pandangannya kosong. Masuk ke dalam mobil taksi pun terasa malas sekali, tapi dia pun duduk juga.


"Kemana mbak?" tanya supir taksi itu.


"Jalan saja dulu pak. Nanti saya tunjukkan." kata Riana lemah.


"Baik mbak."


Mobil pun melaju, sang supir tahu Riana sedang sedih atau sedang putus cinta. Jadi dia diam saja, jika sudah satu jam perjalanan baru dia akan tanyakan kemana tujuan Riana sebenarnya.


_


_


**********************