My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
75. Apa? Menikah?!



Sudah setengah bulan setelah melahirkan, ibu Riana datang dari kampung. Tapi ibu dan adiknya hanya datang sebentar, lalu pulang lagi setelah menginap dua hari.


Tidak ada pertanyaan apa pun, bahkan Riana saking senangnya bertemu dengan ibunya, dia sampai lupa dengan janjinya akan memberitahu kebenaran itu pada ibu dan adiknya.


Hingga keduanya pulang lagi ke kampung halamannya, Riana baru sadar. Tapi dia pernah bicara dengan ibunya mengenai itu, namun ibunya hanya diam saja.


"Mas, kok ibu buru-buru sekali ya kesininya. Hanya dua hari menginap, lalu pulang lagi. Kenapa ya mas?" tanya Riana.


"Apa ibu sudah tahu lebih dulu?" tanya Ethan.


"Tahu dari mana? Kan cuma aku yang tahu, atau kamu kasih tahu ibu lebih dulu?" tanya Riana.


"Ya ampun sayang, mana ada aku kasih tahu ibu lebih dulu sebelum kamu. Yang ada aku pasti menyambungi ucapan kamu sama ibu, agar kamu tidak terlalu di marahi sama ibu." kata Ethan.


"Tapi kok ibu tanggapannya biasa saja sih. Apa karena waktu itu ibu sudah mengikhlaskan semuanya, jadi tanggapan ibu biasa saja?"


"Kamu kurang jelas memberitahu ibu mungkin, jadinya ibu nggak menanggapi dengan serius." kata Ethan.


"Nggak tahu juga mas, Ya sudah nanti aku telepon ibu lagi dan bicara panjang sama beliau." kata Riana.


Riana mengambil alih Emir dari tangan suaminya karena dia menangis, mungkin butuh asi dan kelaparan. Bayi berusia setengah bulan itu sudah nampak sedikit berisi, dari pipi juga sudah sedikit tembem. Apa lagi pergelangan tangannya sudah membulat.


Riana kadang kesulitan harus nenyusui anaknya, hampir setiap jam anaknya menangis dan minta asi. Dia kerepotan jika dirinya sendiri yang lapar dan harus menunggu anaknya selesai minum asi baru dia makan.


Jika malam hari, Ethan membantu memberikan asi dari botol susu yang sudah di simpan sebelumnya. Memberikan waktu Riana tidur dengan tenang karena setiap jam pasti bangun dan menangis minta asi.


Suami siaga, Riana sangat senang suaminya membantu mengurus anaknya. Apa lagi jika malam hari, Ethan langsung bangun jika Emir menangis dan minta asi.


"Kamu tidur aja yang nyenyak sayang, biar malam hari waktunya aku jaga Emir." kata Ethan suatu malam.


"Tapi pagi kan kamu harus pergi ke kantor mas, nanti ngantuk lagi di kantor." kata Riana.


"Di kantor aku bisa tidur sebentar, sedangkan kamu di rumah harus jaga Emir. Jadi gantian jaga Emir, kamu siang hari jaga Emir dan malam hari biar aku yang jaga." katanya lagi.


"Emm, baik banget sih kamu mas. Tambah cinta aku sama kamu." kata Riana.


"Tapi, ngomong-ngomong kapan aku dapat jatah dari kamu sayang? Udah lama deh, ngga sabar aku." kata Ethan.


"Ya ampun mas, tunggu sepuluh hari lagi. Kalau aku selesai nifas ya." kata Riana.


"Sepuluh hari? Lama banget sih. Ini juga aku hitung kamu udah satu bulan setengah lho, memang kamu belum selesai juga nifasnya?"


"Ya, kan di genapkan jadi dua bulan mas. Masa selesai nifas dua bulan. Seharusnya juga setengah bulan lagi, aku korting lima hari deh." kata Riana.


"Ya ampun, jadi aku harus main solo lagi selama sepuluh hari?" kata Ethan dengan memelas.


"Heheh, sabar ya mas." kata Riana.


Ethan cemberut, dia sudah lama sekali menunggunya. Riana tahu suaminya itu tersiksa dengan hasrat birahi yang di tahan, jika tidak bisa di tahan. Maka dia terpaksa main solo karier di kamar mandi, Riana tahu suaminya sering main solo.


Tuuuut.


Suara telepon dari ponsel Riana mengagetkan keduanya. Riana menoleh pada suaminya, lalu menjawab teleponnya karena itu dari Nino.


"Halo, Nino. Ada apa? Tumben telepon kakak." tanya Riana.


"Kak. Kak Riana cepat pulang." kata Nino di seberang sana.


"Lho ada apa? Kenapa kakak di suruh pulang kampung?" tanya Riana heran.


"Pokoknya kakak harus pulang. Ini gawat kak." kata Nino membuat Riana panik.


"Gawat apa?! Katakan yang jelas Nino!" teriak Riana.


"Pokoknya kak Riana besok pulang. Karena ibu ...."


"Kenapa dengan ibu?!"


"Tenang sayang, jangan bikin panik begitu. Nanti Emir ikut stres."


"Bagaimana aku nggak panik mas, Nino kasih kabar ngga jelas tentang ibu! Nino, apa yang terjadi dengan ibu?!" tanya Riana keras pada telepon adiknya.


"Pokoknya kak Riana pulang."


"Ada apa? Jangan buat kakak penasaran Nino!"


Kali ini Riana marah dan kaget tidak habis pikir, kenapa ibunya di kampung.


"Kakak besok pulang kan?"


"Kalau kamu jelas ngomongnya, kakak pulang!" ucap Riana kesal dengan adiknya itu.


"Ibu mau menikah!"


"Apa?!"


Klik!


"Nino bilang apa sayang?" tanya Ethan.


"Tadi itu dia bilang, ibu mau menikah?"


"Apa?! Ibu mau menikah lagi?"


"Iya, Nino bilang begitu. Katanya ibu mau menikah lagi." kata Riana bingung.


"Coba kamu hubungi ibu, tadi nomor Nino kan?" tanya Ethan.


"Nomor ibu, dia pakai nomor ibu."


"Hubungi lagi, pastikan apa yang di katakan Nino itu benar atau salah." kata Ethan.


Riana pun menghubungi ibunya lagi.


Tuuut.


Tersambung dan di angkat.


"Halo bu?"


"Besok kamu pulang Riana!" kata bu Sarmi.


"Ya, kamu besok pulang secepatnya dengan suamimu." kata bu Sarmi.


"Ya ampun bu, kenapa ngga bilang sama aku sih?"


"Ya ini, ibu kasih tahu kamu. Makanya kamu cepat pulang!"


Klik!


"Hei, halo? Ibu?!"


Riana kesal sekali kenapa ibunya menutup teleponnya. Dia menghubungi ibunya lagi, tapi tidak di angkat. Ethan memperhatikan istrinya seperti kesal sekali.


"Benar ibu mau menikah lagi?" tanya Ethan.


"Iya, dan besok kita di suruh pulang." jawab Riana.


"Emir masih kecil sayang, gimana nanti di perjalanan?"


"Ngga tahu mas. Coba kamu tanya dokter deh, apa boleh di bawa dalam perjalanan jauh." kata Riana.


"Tapi, ibu menikah dengan siapa?"


"Aku ngga tahu mas, ibu nih ada-ada saja. Apa mungkin kemarin itu aku cerita ibu nggak antusias dengarnya karena mau menikah? Tapi ibu ngga cerita mau menikah sih mas?" ucap Riana bingung dengan pernikahan dadakan ibunya.


Dengan siapa?


"Ya sudah, besok kita pulang kampung saja. Kita nanti akan tahu kan siapa calon suami ibu, yang penting ibu bahagia. Kamu ingin ibu bahagia kan?".


"Iya sih mas, tapi aneh saja kenapa ibu memberitahu secara mendadak?"


"Sudahlah, cepat tidur. Besok pagi-pagi harus menyiapkan semuanya, lalu langsung berangkat ke kampung. Aku juga akan kasih tahu sekretaris untuk tidak maauk kantor selama tiga hari." kata Ethan.


"Ya ampun ibu, kok mendadak sekali sih." ucap Riana yang tidak habis pikir dengan rencana ibunya itu.


_


Dalam perjalanan, Riana benar-benar penasaran siapa yang mau menikah dengan ibunya itu. Dia tidak habis pikir dengan pikiran ibunya, bukan karena dia tidak mau menerima ibunya menikah lagi. Tapi karena mendadak memberitahu akan menikah.


Ethan mengendarai mobil dengan pelan, dia mengimbangi anaknya yang tidur di kursi belakang dengan Riana. Sudah di modifikasi kursi untuk kenyamanan anaknya yang masih kecil. Meski begitu, dia juga harus hati-hati.


Enam jam perjalanan pulang kampung yang seharusnya di lalui empat jam. Karena pelan jadi molor dua jam. Sampai di kampungnya, sudah masuk waktu malam hari pukul sepuluh malam.


Jadi, rumah tampak sepi sekali meski besok ada acara pernikahan ibunya dengan entah siapa laki-laki yang akan jadi bapak sambungnya.


Nino membantu kakaknya mengeluarkan barang dari dalam mobil. Dia membawanya masuk ke dalam rumah, Riana langsung mencari ibunya di kamarnya. Tapi tidak ada, dia mencari di dapur tetap tidak ada.


"Nino, ibu kemana?" tanya Riana.


"Tadi sih di kamarnya." jawab Nino.


"Nggak ada, kamu tahu di mana ibu biasanya?"


"Nggak tahu kak, ibu sibuk banget hari ini. Nino nggak sempat belajar karena ngurusi keperluan ibu. Mana lusa ada tugas lagi."


"Ish, terus kemana ibu?"


"Di tunggu aja."


Riana menarik napas panjang, dia lalu bertanya lagi pada adiknya.


"Calon suami ibu tuh siapa sih Nin?" tanya Riana.


"Nino nggak tahu kak, tapi pernah kemari dan ..."


"Dan apa?"


"Ya udah tunggu besok aja kak. Ibu bilang mau membalas kak Riana, jadi tunggu besok aja. Kakak pasti ketemu besok."


"Ya ampun Nino, kamu lagi bikin kakak makin penasaran aja. Siapa calon bapak kamu?!"


"Calon bapak kakak juga."


"Ya siapa?"


"Sudah pokoknya besok kakak lihat deh."


"Nino!"


Nino pergi dari hadapan kakaknya yang mulai kesal. Riana kesal bukan main, Ethan menghampiri istrinya yang kesal.


Malam ssmakin larut, Riana dan Ethan pun tidur di kamar Riana yang sudah di rapikan sebelumnya karena memang pasangan suami istri itu pulang.


Dan eako harinya, Riana mengurusi anaknya lebih dulu. Ethan juga sudah bangun dan tampak melihat banyak para tetangga hadir untuk menyaksikan ibu Sarmi menikah.


Riana merapikan penampilan anaknya, lalu di serahkan pada suaminya. Dia akan menemui ibunya, tapi lagi-lagi ibunya tidak ada. Dia kesal sekali kenapa untuk bertemu ibunya saja sangat susah.


Tapi akhirnya Riana segera mandi, memakai baju yang sudah di siapkan dari rumahnya. Semua nampak menunggu di rumahnya, Riana bertanya pada tetangga yang hadir juga tidak enak. Karena nanti di sangka tidak memperhatikan ibunya. Akhirnya Riana pun menunggu, siapa calon bapak sambungnya yang akan menikahi ibunya itu.


"Ayo kita ke masjid kampung." kata tetangga lainnya.


"Iya. Bu."


Riana dan Ethan segera pergi ke masjid kampung. Di sana ibunya akan melakukan ijab kabul dengan orang yang tidak dia ketahui. Dalam hatinya berharap bukan laki-laki yang sembarangan saja ibunya menikah.


Sampai di masjid, semua berbisik-bisik tentang pernikahan ibunya. Riana dan Ethan masuk, tampak pak penghulu sudah hadir. Laki-laki yang akan menikahi ibunya hanya terlihat dari belakang. Jadi Riana hanya melihat punggungnya saja, dia penasaran siapa laki-laki yang akan menikah dengan ibunya.


Riana pun maju ke depan, jantungnya berdebar dan penasaran siapa laki-laki itu. Riana semakin maju, berjalan mengendap untuk melihat dari dekat. Dan betapa terkejutnya Riana siapa laki-laki yang akan menikah dengan ibunya itu.


"Bapak?!"


_


_


>>>>>>>>>>>>>>> t a m a t <<<<<<<<<<<<<<<<<<


\=>> tunggu ekspartnya ya, othor tamatkan dulu..πŸ˜‰πŸ˜ŠπŸ˜


Terima kasih semua pecinta Ethan dan Riana, semoga pecinta Ethan dan Riana semakin sering baca novel punya othor..😁😁