
Setelah pulang dari rumah pak Rudy, Ethan dan Riana langsung pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA milik pak Rudy dan Riana. Dia merasa ini adalah hari keberuntungannya menemui pak Rudy dan langsung bisa mendapatkan sampel untuk tes DNA.
"Kita langsung ke rumah sakit mas?" tanya Riana.
"Iya, jangan membuang waktu lagi. Aku ingin semuanya selesai dan kamu bisa tenang." kata Ethan.
"Mama sama papa pasti heran aku jarang berkunjung ke rumah mama." kata Riana.
"Jangan di pikirkan, kamu ke rumah mama kan sama aku. Mama juga menelepon waktu itu, menanyakan kamu kenapa jarang ke rumah. Jadi aku ceritakan masalahnya semua sama mama, dan mama mendukung kamu kok sayang." kata Ethan.
"Aku pikir hidupku tidak akan menemukan hal rumit seperti ini mas. Tidak di sangka, ternyata aku akan menemukan bapak yang selama ini tidak pernah aku lihat." kata Riana.
"Aku yakin sayang, pak Rudy adalah bapak. Dan kupikir pak Rudy itu belum sepenuhnya di periksa ke dokter yang lebih ahli, jadi jika memang ingatannya itu tidak bisa kembali. Maka, tidak mungkin ketika berusaha mengingat ibu atau melihatmu pak Rudy pasti sakit kepalanya. Jika di periksakan keadaannya, apa beliau mau? Aku sanggup membawa pak Rudy ke rumah sakit luar negeri demi memulihkN ingatannya yang hilang." kata Ethan.
"Ngga usah mas, kupikir mungkin jika bu Naimah ikhlas dengan keadaan bapak sekarang. Lalu tiba-tiba bapak ingat dan ingin kembali ke kampung menemui ibu, itu akan menambah sedih bu Naimah. Aku ngga apa-apa kok jika memang bapak harus tinggal dengan bu Naimah, kita bisa berkunjung kesana." kata Riana.
"Sayang, kamu baik banget. Dari kecil kamu tidak pernah dapat kasih sayang seorang ayah. Dan kini sebantar lagi kamu akan tahu bapak masih hidup dan tidak ingat apa pun tentang masa lalu itu. Kamu merelakan semuanya demi ibu Naimah." kata Ethan.
"Karena aku sudah biasa mas. Aku, ibu dan Nino sudah bisa tidak ada bapak. Sedangkan bu Naimah sudah biasa ada bapak, jadi jika bapak tidak ada pasti akan sedih. Biar saja seperti itu, aku hanya ingin memastikan kalau pak Rudy itu adalah bapak." kata Riana.
Ethan sungguh terharu dengan kelapangan hati istrinya itu. Tidak ada yang salah, bapak tidak sengaja meninggalkan Riana dan ibu serta adiknya. Tapi takdir yag membuat mereka harus berpisah dan kini bertemu lagi dalam keadaan yang rumit.
Ethan memeluk istrinya, Riana terisak. Meski dia sangat berat jika harus menerima kenyataan seperti itu. Dia yakin suaminya yang akan memberikan kasih sayang berlimpah padanya, meski bapaknya tidak pernah ada sejak kecil.
_
Sampai di rumah sakit, Ethan langsung menghubungi dokter bagian lab. Dia akan memberika sampel itu, sampel rambut dan juga kuku pak Rudy serta milik Riana juga.
"Jadi bapak mau mengetahui DNA dari sampel ini cocok atau tidak?" tanya dokter bagian lab.
"Ya pak, karena ini menyangkut kehidupan seseorang. Termasuk istri saya." kata Ethan.
"Baiklah, bapak mengurus administrasinya saja dulu ya di bagian administrasi." kata dokternya.
"Lalu, kapan hasilnya akan keluar?" tanya Ethan.
"Dua minggu lagi pak, karena hasilnya tidak cepat di dapatkan. Jadi, bapak bersabar ya." jawab dokter lagi.
"Oh, lama ya."
"Ya, tenang saja. Meski lama, tapi hasilnya akurat kok. Jangan khawatir, hasilnya nanti kami rahasiakan dari siapa pun. Karena sering sekali kami temukan yang melakuka tes DNA siapa, yang memgambil hasilnya beda orang. Jadi kami tidak akan memberikan hasilnya pada siapa pun kecuali pada anda pak." kata dokter.
"Oh ya pak, baik. Tentu saja hasilnya saya yang harus menerimanya, tak terkecuali istri saya juga."
"Ya, nanti saya hubungi. Ada nomor teleponnya kan pak?"
"Ada. Sebentar."
Ethan mengambil ponselnya dan mencatat nomor ponselnya di selembar kertas. Dia berharap hasilnya memang akurat dan benar-benar DNA itu cocok.
"Terima kasih dokter, saya tunggu anda menghubungi saya tentang hasil DNAnya." kata Ethan.
Dia pun pamit, di luar Riana sangat cemas dan berharap dia segera mengetahui hasi tes DNA itu.
"Bagaimana mas? Apa bisa langsung di ketahui?" tanya Riana.
"Ngga bisa sayang, nanti tunggu dua minggu lagi. Itu paling cepat, bersabarlah. Nanti juga keluar." kata Ethan menenangkan istrinya.
"Ya, aku hanya ingin secepatnya mengetahui hasilnya mas." kata Riana.
"Ngga mas, aku bisa kerja kok. Nanti kalau ngga ada aku, kamu keteteran pekerjaannya." ucap Riana.
"Tapi kan bisa di kerjakan di rumah sayang, udah kamu libur saja selama tiga hari. Aku ngga masalah, setelah tiga hari itu kamu tenangkan pikiran dan jangan pikirkan yang lainnya." kata Ethan.
Riana diam, dia menatap suaminya lalu mengangguk. Mereka pun pergi dari rumah sakit, kembali ke rumah untuk beristirahat. Tiba-tiba kepala Riana pusing, entah karena dia belum makan siang atau karena terlalu memikirkan hasil tes DNA itu.
Keringat dingin membasahi tubuh Riana, dia seperti berkunang-kunang. Tiba-tiba, dia pun terkulai lemas dan jatuh sebelum mereka keluar dari rumah sakit.
Bruk!
"Sayaang!"
Ethan berteriak ketika istrinya terjatuh dan pingsan. Dia membopong Riana dan membawanya ke UGD. Memanggil dokter di saja agar secepatnya menangani istrinya. Dia panik bukan main, kenapa bisa istrinya terjatuh dan pingsan. Apa karena banyak pikiran akhir-akhir ini?
"Sayang, bangun. Kenapa kamu pingsan!" teriak Ethan di depan istrinya.
"Pak, jangan di goyangkan istrinya. Nanti saya periksa ibunya." kata dokter.
"Tapi kenapa istriku tiba-tiba pingsan?"
"Iya, tunggu pemeriksaan dari kami ya. Bapak sabar saja dulu, nanti setelah di periksa kami beritahu keadaan istri bapak." kata dokternya.
Ethan pun menurut, dia lalu duduk tenang meski hatinya tidak tenang memikirkan bagaimana bisa Riana jatuh sakit. Tapi memang akhir-akhir ini Riana nafsu makan berkurang, sering sekali uring-uringan karena masalah pak Rudy.
Apa lagi minggu lalu ketika berkunjung, ibu Naimah merasa keberatan jika pak Rudy harus mengingat kembali masa lalunya. Dan itu membuat Riana jadi putus asa, jika bukan semangat dari suaminya. Hari Minggu ini, belum tentu bisa langsung bertemu dengan pak Rudy.
Setengah jam Riana di periksa, Ethan masih cemas. Dia benar-benar khawatir dengan istrinya itu. Telepon berbunyi, dia melihat nomor mamanya, lalu menjawab sambungan telepon itu.
"Halo ma?"
"Sayang, bagaimana pertemuan dengan pak Rudy? Apa semua berjalan lancar?" tanya nyonya Hana.
"Lancar ma, bahkan pak Rudy memberikan sampel padaku. Dan sekarang aku ada di rumah sakit, tapi Riana tadi jatuh pingsan." kata Ethan.
"Pingsan? Apa dia hamil?"
"Aku tidak tahu ma, tapi akhir-akhir ini Riana sering uring-uirngan dan nafsu makan jadi berkurang. Sudah aku bujuk beberapa kali, tapi dia masih begitu. Katanya dia ingin segera tuntas masalahnya, ingin tahu kebenaran bahwa pak Rudy adalah bapaknya." kata Ethan menjelaskan.
"Aah, kasihan sekali Riana. Terus, bagaimana menurut dokter dengan keadaan Riana?" tanya nyonya Hana.
"Belum, dokter belum memberitahu keadaan Riana. Masih di periksa ma."
"Semoga kabar baik sayang."
"Iya ma."
"Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa kabari mama ya."
"Iya ma."
Klik!
_
_
***********************