My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
58. Menjemput Di Stasiun



Riana melirik jam di tangannya, dia akan menjemput ibu dan adiknya di stasiun kereta. Pukul tiga sore kereta yang di tumpangi ibu dan adiknya sampai di stasiun, jadi dia akan berangkat ke stasiun pukul dua tiga puluh agar ibunya tidak menunggu lama di stasiun nanti.


Riana masuk ke dalam ruang kantor suaminya, membawa berkas yang sengaja di awal dia kerjakan agar tidak ada pekerjaan yang di tunda. Masuk dan melangkah mendekati suaminya, meletakkan berkas di atas meja. Ethan melihat berkas yang di bawa Riana.


"Apa ini sayang?" tanya Ethan.


"Ini berkas yang seharusnya besok selesai, tapi aku dahulukan biar ngga ada pekerjaan yang tertunda. Rencananya besok aku ngga masuk kerja ya, bolehkan?" tanya Riana.


"Lho, kenapa?" tanya Ethan.


"Temani ibu di rumah sehari saja, boleh kan?"


"Yaah, jadi aku ke kantor sendirian?"


"Kan sehari saja mas. Kenapa memangnya?" tanya Riana.


"Ngga enak sayang kalau ngga ada kamu."


"Ish, kan kamu bisa pulang ke rumah di waktu makan siang." kata Riana.


"Dan waktu makan siang, aku minta jatah sama kamu." kata Ethan menaik turunkan alisnya.


"Ya ampun, mas."


"Boleh dong, nanti aku izinin kamu bolos kerja." kata Ethan.


"Terserah kamulah mas."


"Heheh."


"Oh ya, jam tiga kereta ibu sampai di stasiun. Aku mau jemput ibu, kamu masih sibuk?" tanya Riana.


"Emm, sebentar."


Ethan pun melihat layar laptopnya, memeriksa apakah ada yang tertinggal. Tapi sepertinya sudah beres semua.


"Oke sayang, aku bisa ikut jemput ibu dan Nino sama kamu." kata Ethan.


"Ya udah, kita berangkat sekarang aja mas." ucap Riana.


Ethan bergegas memakai jasnya dan mengambil tasnya. Semua pekerjaannya sudah beres, jadi dia bebas pulang sebelum waktunya. Ethan dan Riana pun keluar dari ruangan kantor, mereka pergi dan menaiki lift untuk turun ke bawah.


Ethan menarik pinggang istrinya, memeluknya dan kini mereka saling berhadapan. Mereka berciuman di dalam lift, mereka lupa ada kamera cctv di atas lift. Hingga Riana sadar di atas ada kamera cctv, dia pun mendorong dada suaminya. Merasa malu karena ada cctv yang mengintainya.


"Kenapa? Kan ngga ada orang di sini." kata Ethan mendekat lagi wajahnya.


"Ada kamera cctv mas, aku malu. Udah sih, ngga bosan-bosan." kata Riana mendorong dada suaminya.


"Hei, mana ada aku bosan menciummu. Seharian penuh memelukmu, menciummu dan mencumbumu aku mau kok. Dan ngga ada bosannya." kata Ethan lagi dia mendekat wajahnya.


Mencium sekilas sebelum lift terbuka. Baru setelah terbuka, Riana merapikan baju dan juga riasan wajahnya. Kemudian dia keluar, tangannya tetap di gandeng oleh Ethan. Selama berjalan di lobi, banyak yang memandang mereka, ada yang aneh sepertinya di bagian sudut bibir Ethan.


Riana heran kenapa semua karyawan dan staf menatap suaminya. Dia pun melihat wajah suaminya, dan tentu saja Riana merasa lucu sekaligus malu. Dia tertawa kecil, mengambil tisu dalam tasnya dan di serahkan pada Ethan.


"Ini, lap sudut bibirmu mas." kata Riana.


"Kenapa dengan bibirku?" tanya Ethan heran.


"Ya di lap aja, ada noda di sana. Banyak yang memandang kamu dengan bisik-bisik." kata Riana dengan senyum tipisnya.


"Kamu itu bagaimana sih mas, itu lipstik yang menempel. Kenapa di jilati sih. Kotor tahu mas." kata Riana.


Ethan berhenti berjalan, Riana menghapus sudut bibir Ethan yang ada noda lipstiknya. Mereka lupa masih ada di lobi, membuat semua mata memandang. Jiwa jomblo seperti kepanasan melihat pemandangan antara bos dan sekretaris yang begitu mesra.


Ethan tahu semua mata melihatnya dan Riana, dia sengaja menarik pinggang istrinya agar lebih dekat lagi. Dan tentu saja staf dan karyawan jadi tersenyum malu sendiri, tapi mereka melirik penasaran. Apa yang terjadi selanjutnya antara bos dan sekretaris, pasangan suami istri yang romantis itu. Daaan ....


Cup.


"Aaargh, pak Ethan romantis banget sih." ucap staf yang merasa meleleh hatinya ketika melihat Ethan mengecup bibir Riana.


Orang-orang di sana pun jadi tertawa dan sekaligus terkesima dengan adegan tiba-tiba itu. Riana menunduk, dia malu dengan suaminya yang tiba-tiba mengecup bibirnya di tengah lobi. Di saat orang-orang berlalu lalang.


"Duh, kenapa sih kamu mas. Bikin malu saja." kata Riana memerah pipinya.


"Hahah! Biarkan saja sayang. Mereka pasti iri dengan kemesraan kita." ucap Ethan.


Riana merasa malu sekali, dia berjalan menunduk. Sesekali melirik ke sekeliling apakah masih ada staf yang bisik- bisik dengan kelakuan bosnya pada sekretarisnya.


Sampai di mobil, Riana langsung masuk mobil dan duduk. Ethan sangat senang melihat istrinya begitu lucu dengan tindakannya tadi. Dia pun masul ke dalam mobil, melirik pada Riana.


"Kamu tuh mas, ngga tahu tempat ya." kata Riana.


"Kenapa? Kan masih di kantor." kata Ethan..


"Ya tapi kan jangan begitu, malu aku mas." kata Riana.


"Sudah, jangan di pikirkan. Mereka juga ngga ada yang protes kok aku cium kamu." kata Ethan.


"Mana ada protes, pasti itu tontonan gratis bagi mereka. Dan aku yang malu." kata Riana lagi.


Ethan hanya tersenyum saja mendengar ocehan istrinya. Mobil sudah keluar dari area parkir dan melaju menuju stasiun kereta api.


Riana akhirnya diam setelah di jalan, ingatannya beralih pada ibu dan adiknya yang sebentar lagi bertemu. Dia akan membawa ibu dan adiknya jalan-jalan ke tempat wisata, untuk kenangan keduanya sewaktu liburan di kota.


Sampailah mobil Ethan di depan stasiun kereta. Riana langsung keluar dari mobil Ethan dan langsung masuk ke dalam stasiun. Menelepon Nino memastikan apakah sudah sampai keretanya di stasiun.


"Halo, Nino. Kamu sudah sampai keretanya?" tanya Riana.


"Sebentar lagi kak, ini sudah masuk stasiun. Kak Riana sudah ada di stasiun?" tanya Nino di seberang sana.


"Ya, kakak sudah sampai. Ya sudah, kakak tunggu di bangku. Kakak lihat ada kereta masuk stasiun."


Klik!


Riana menutup sambungan teleponnya, dia melihat kereta api datang memasuki peron. Ethan mendekat, dia juga duduk di kursi di bagian pintu keluar, Riana tidak sabar melihat adik dan ibunya keluar dari dalam kereta.


Para penumpangpun satu persatu keluar dari gerbong kereta api. Riana belum melihat adik dan ibunya keluar, ingin dia masuk. Tapi di depan pintu keluar di jaga oleh polisi. Dan akhirnya Riana melihat ibunya keluar dari gerbong di susul oleh Nino yang membawa tas besar dan tas ranselnya.


"Nino! Ibu!"


_


_


*******************