My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
69. Hasilnya



Ethan tidak sabar untuk mengetahui apakah benar istrinya itu hamil seperti yang di katakan mamanya, jika benar dia akan sangat senang sekali. Antara sedih dan bahagia, Ethan tidak bisa mengekspresikannya.


Dia sedih karena istrinya masih tergolek lemah dan tak sadarkan diri di bangsal. Dokter masih memeriksa, tapi sebentar lagi selesai. Dia pun menghampiri Ethan yang cemas melihat keadaan istrinya.


"Bagaimana dokter dengan istri saya?" tanya Ethan.


"Hanya kelelahan, dan harus jaga makanannya saja. Mungkin ibu stres karena banyak pikiran." kata dokter.


"Bukan hamil dokter?" tanya Ethan ragu.


"Waah, jadi bapak tidak tahu istrinya hamil?" tanya dokter.


"Eh, memang berapa bulan istriku hamil dokter?" tanya Ethan kaget.


"Mau menginjak tiga bulan. Apa bapak tidak merasakan perubahan pada istri bapak?" tanya dokter.


"Tidak. Istriku tidak menunjukkan gejala hami saat itu, hanya saja memang selama hampir tiga bulan ini istriku banyak pikiran. Ya, ada masalah keluarga sih sedikit. Jadi, saya tidak tahu kalau istriku sedang hamil." kata Ethan.


"Oh, begitu. Tapi sekarang sudah tahu, dan bapak harus menjaganya agar istri bapak jangan banyak pikiran. Kalau itu terus terjadi, bisa-bisa janinnya keguguran." kata dokter.


"Keguguran?"


"Iya. Makanya bapak jaga dan ingatkan istrinya jangan sampai banyak pikiran, sebisa mungkin bapak harus menjaga mood dan keinginan istri ya pak. Biar hatinya senang." kata dokter.


Ethan hanya mengangguk saja, bagaimana mungkin sekarang ini istrinya tidak banyak pikiran. Sedangkan masalahnya belum selesai, apa lagi baru tadi dia menyetorkan sampel untuk tes DNA.


"Baiklqh dokter, terima kasih. Tapi apa istri saya harus di rawat?"


"Tidak perlu, asal di rumah di jaga saja dan banyak istirahat. Jangan turun dari kasur kalau bisa, dan untuk sementara bapak jangan meminta jatah dulu ya sama istrinya." kata dokter.


"Apa? Saya harus puasa dokter?"


"Ya, tahan ya pak. Kalau bapak sayang sama istrinya, bapak harus mengalah." ucap dokter lagi karena tahu wajah Ethan tiba-tiba lesu.


"Baiklah dokter, sesuai saran dokter. Saya akan lakukan." kata Ethan.


Dokter tersenyum, dia laku memberikan resep obat dan vitamin yang akan di minum Riana di rumah nanti.


_


Sesuai saran dokter, Riana di wajibkan oleh suaminya untuk istirahat total di kasur. Tidak boleh melakukan apa-apa, sampai kerja di kantor dia larang juga.


"Tapi kamu janji mas, meski aku hamil aku tetap kerja." kata Riana.


"Itu sebelum tahu kamu hamil dalam keadaan harus istirahat total. Kamu banyak pikiran sayang, memikirkan pak Rudy dan juga ibu. Dan di tambah masalah DNA itu, tolong ya. Jangan pikirkan itu dulu, jaga anak kita di dalam perutmu sayang. Aku ngga mau terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita. Untuk masalah hasil DNA, biar aku yang mengurusinya." kata Ethan.


Riana diam, dia akhirnya mengangguk. Dia pegangi perutnya yang mulai terlihat buncit. Sudah memasuki tiga bula, trisemester terakhir.


"Berapa hari aku istirahat di kamar terus mas?" tanya Riana.


"Apa?"


"selama itu juga dokter melarangku menyentuhmu. Aku yang tersiksa sayang, jadi aku mohon kamu sabar ya. Seperti aku sabar tidak menyentuhmu selama setengah bulan." kata Ethan.


Riana menatap suaminya lama, lalu dia tersenyum dan mencium bibir Ethan seklias.


"Terima kasih mas, maaf kalau aku banyak ngeyel. Aku akan jaga kandunganku, tapi selama aku istirahat total apakah di kantor jadi terbengkalai pekerjaanmu."


"Tidak masalah, nanti aku minta dari bagian administrasi untuk membantunya. Kamu jangan khawatir dan memikirkan pekerjaan." kata Ethan.


"Iya mas, dan terima kasih ya kamu mau sabar denganku." ucap Riana.


Kini keduanya sedang merasakan kebahagiaan yang sebentar lagi akan mempunyai anak. Kedua orang tua Ethan, pak Wijaya dan nyonya Hana sangat gembira mendapat kabar kalau menantunya sedang hamil menginjak tiga bulanan.


Waktu terus berlalu, hingga waktunya bertepatan dengan selesainya masa istirahat total Riana. Hari ini penerimaan hasil tes DNA di rumah sakit, Ethan mengambil sendiri ke rumah sakit tanpa membawa istrinya.


Karena dia takut nanti istrinya syok jika hasil tes DNA itu tidak sesuai apa yang di inginkan oleh Riana.


"Jadi bagaimana dengan hasilnya dokter?" tanya Ethan.


"Bapak lihat saja hasilnya, semua keterangan sudah ada di sana." kata dokter di bagian lab.


"Oh ya, terima kasih dokter."


Dia datang ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari rumah sakit itu. Dia sangat antisias untuk mengetahui hasilnya, dan dia akan memberitahu Riana setelah kehamilannya menginjak empat bulan.


Lagi pula, sepertinya Riana lupa dengan tes DNA itu karena dia antusias dengan kehamilannya. Baru menginjak delapan bulan pernikahan, dia di karunia hamil anak pertama dengan Ethan.


Kini Ethan keluar dari ruang lab itu, dia tidak sabar ingin melihat hasil tes DNA milik Riana dan pak Rudy itu.


Di bukanya amplop putih bertuliskan rumah sakit tersebut, di ambil lembaran suratnya dan membacanya secara seksama. Dia pun tertegun, lalu senyumnya mengembang. Di lipatnya surat itu dan di masukkannya ke dalam amplop.


Dia bergegas pulang ke rumah, karena rasanya sangat rindu sekali pada istrinya. Sudah setengah bulan dia bekerja tanpa di temani Riana, jadi setiap sore Ethan langsung pulang secepatnya untuk bertemu istrinya tercinta.


Surat hasil tes DNA itu dia masukkan ke dalam tasnya. Secepat kilat dia melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


"Tenanglah sayang, semuanya akan jelas setelah usia kandunganmu sudah empat bulanan. Jadi, aku minta maaf untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu hasil tes DNAnya."


Begitu yang di ucapkan Ethan sepanjang jalan menuju rumahnya. Senyumnya mengembang membayangkan istrinya datang menyambutnya di depan pintu seperti biasanya.


_


_


******************