My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
51. Natasya Ke Kantor



Pagi hari, setelah mandi bersama. Riana menyiapkan baju kantor suaminya dan dirinya, hari pertama masuk kantor setelah sepuluh hari menikah. Ethan sudah menunggu istrinya mengambil bajunya, dia melihat Riana membawa bajunya dan di letakkan di atas ranjang.


Dia sendiri juga sudah memakai baju kerjanya, tinggal memakaikan dasi pada suaminya. Ethan belum memakai baju dan celana, membuat Riana menarik nafas panjang karena kesal suaminya masih bermain ponsel.


"Kenapa belum memakai baju?" tanya Riana.


"Aku menunggu kamu sayang, pakaikan bajuku." kata Ethan tanpa mengalihkan pandangannya pada Riana.


"Terus, aku juga memakaikan celanamu?" tanya Riana menatap suaminya.


Ethan menoleh lalu tersenyum, dia meletakkan ponselnya di ranjang lalu mengambil celananya dan memakainya.


"Kenapa tidak pakai sendiri sih?" tanya Riana membantu Ethan memakai baju.


"Lebih romantis saja sayang, kalau di pakaikan baju, dasi dan jas. Kamu tahu tidak film India kabhi kushi kabhi gham?" tanya Ethan.


"Apa hubungannya?" tanya Ethan.


"Aku suka adegan ayahnya Rohan dan Rahul itu, di pakaikan jas, baju dan dasi oleh istrinya. Tampak hangat sekali kelihatannya. Aku bisa bermesraan denganmu dengan posisi seperti itu." kata Ethan lagi.


"Kamu sedang menghayal?" tanya Riana.


Meski dia juga suka dengan adegan-adegan mesra dengan suaminya. Berpelukan, bermanja dan bercanda apa lagi di atas tempat tidur. Ethan memperlakukannya dengan lembut, menandakan perasaan cintanya pada istrinya itu.


"Siapa yang menghayal, aku hanya mengingat itu sangat menyenangkan. Dan kemarin kamu jadi asistenku, rasanya ingin sekali aku memeluk dan menciummu." kata Ethan.


Riana tersenyum tatkala mendengar hayalan Ethan tentang film Bollywood itu. Dia memakaikan dasi suaminya, Ethan menatapnya sambil tersenyum. Sesekali dia mengendus di leher Riana, membuat gadis itu merasa geli.


"Aku suka bau tubuhmu, kamu pakai parfum apa?" tanya Ethan.


"Aku belun pakai parfum, hanya sabun mandi saja." jawab Riana.


Dia mendorong dada Ethan agar suaminya itu segera memakai jasnya. Riana mengambil tasnya dan juga milik suaminya, lalu mereka pun segera keluar rumah. Masuk ke dalam mobil setelah mengunci rumah.


"Kamu ngga repot tidak ada pembantu? Atau mbok Sri kita suruh aja kerja di rumah kita, mama pasti setuju." kata Ethan melajukan mobilnya pelan.


"Terserah saja, aku pikir memang butuh pembantu untuk beres-beres rumah." kata Riana.


Riana berdandan di dalam mobil. Hanya merapikan rambut dan juga memakai lipstik lagi, karena tadi di rusak dandanannya oleh suaminya di rumah. Ethan melirik ke arah Riana yang sedang berdandan.


"Aku baru tahu kamu suka dandan di mobil." kata Ethan.


"Tadi aku sudah dandan, tapi kamu merusaknya. Malah lipstikku belepotan kemana-mana." kata Riana.


Ethan tersenyum, dia masih betah melihat Riana dandan di mobil. Karena itu pemandangan langka, biasanya di kamar. Dan memang dia yang membuat dandanan istrinya rusak karena mencumbunya sebelum berangkat ke kantor.


_


Di kantor, Ethan duduk di kursi di ruangannya seperti biasa. Dia memeriksa berkas dan juga laporan di email yang masuk. Sama halnya dengan Riana, selama sepuluh hari dia absen tidak mengecek apa pun. Karena Ethan melarangnya memeriksa apa pun selama mereka libur dari pekerjaan.


Karena pak Wijaya yang mengisi kekosongan pimpinan selama Ethan dan Riana liburan berbulan madu dan pindah rumah. Kini dia juga sibuk memeriksa berkas yang baru masuk dari bagian administrasi dan juga keuangan.


"Riana, masuk ke ruanganku." kata Ethan menghubungi istrinya.


"Baik pak." jawab Riana.


Dia membawa ipad dan juga beberapa berkas yang mendesak harus di periksa oleh Ethan dan juga di setujui beberapa laporan dari bagian administrasi.


Riana masuk ke dalam, dia melihat Ethan sedang melihat laptopnya. Jasnya dia simpan di kapstok yang tersedia, Riana melangkah mendekat. Meletakkan berkas-berkas yang tadi dia bawa.


"Ini harus di periksa pak, karena mendesak sekali. Jadi hari ini harus selesai." kata Riana berdiri di depan meja Ethan.


"Kenapa berdiri di situ? Sini dekat aku." kata Ethan.


Riana pun menurut, dia mendekat ke samping suaminya. Berdiri, tapi Ethan menariknya untuk duduk di pangkuannya. Awalnya Riana menolak, tapi Ethan menahan pinggangnya. Dan akhirnya Riana pun menurut.


"Ini data kok ngga sama sih mas?" tanya Riana.


"Eh, mas?" tanya Ethan menatap Riana yang menutup mulutnya.


Dia memang ingin memanggil suaminya itu mas, tidak enak jika memanggil nama saja. Ethen memposisikan Riana menghadap ke arahnya.


"Emm, jadi kamu merubah panggilanmu?" tanya Ethan.


"Iya, kan kamu suamiku. Lagi pula aku lebih muda kan dari kamu." kata Riana mengalungkan tangannya di leher Ethan.


Mengecup bibir suaminya dan tersenyum malu. Tentu saja balasan Ethan lebih cepat dan rakus, membuat Riana merasa geli dengan serangan suaminya itu.


"Sudah dong mas, geli nih." kata Riana.


"Aku senang dengarnya, jadi tambah gemas dengan sikap manjamu ini. Kenapa ya sewaktu belum nikah kamu jutek banget dan kaku. Berbanding terbalik dengan yang sekarang." kata Ethan.


"Aku perempuan mas, punya sisi lain dari sikapki yang aku tampilkan pada orang lain. Makanya pelajari dulu bahasa tubuh dan gaya bicara seseorang, pasti tahu bagaimana harus bersikap." kata Riana menyisir rambut di atas telinga suaminya.


"Emm, tapi aku kaget ini. Lebih senang melihatmu bersikap manja begini, dari pada Riana sebagai sekretaris di kantor." ucap Ethan.


"Udaha ah, aku mau kerja lagi. Kalau begini terus kapan selesainya pekerjaan yang sedang menumpuk." kata Riana berusaha melepas pelukan suaminya..


"Tunggu dulu, aku belum puas memandangmu. Rasanya selalu merasa kangen sama kamu." kata Ethan.


"Hahah! Gombal."


"Mana ada gombal sama istri, yang ada aku ingin menerkammu terus. Sekarang saja aku ingin menerkammu." kata Ethan meraup bibir Riana lagi.


Mereka sedang asyik saling berciuman mesra, hingga satu ketukan membuat keduanya langsung melepas pagutan bibirnya. Riana bangkit dari duduk di pangkuan suaminya, merapikan bajunya yang hampir terbuka kancingnya.


Dia memeriksa semua bajunya, takut ada yang tertinggal. Sedangkan Ethan bertopang dagu melihat tingkah istrinya. Dan kembali pintu di ketuk, Riana segera berjalan dan membuka pintu tersebut.


Tampak seorang wanita dengan pakaian kantor tapi terlihat seksi itu, berdiri dengan wajah datar menatap Riana. Riana mendengus kesal, tapi dia berusaha bersikap wajar dan sopan.


"Bu Nadia datang sendiri ke kantor kami?" sapa Riana pada wanita klien Ethan.


"Ya, aku sudah janji dengan pak Ethan akan datang sendiri ke kantornya. Jadi saya akan masuk ke dalam ruangan pak Ethan." kata Natasya dengan pongah.


"Ya, saya tahu bu Natasya." kata Riana.


Dia mundur beberapa langkah untuk mempersilakan Natasya masuk ke dalam, Riana melirik suaminya yang sedang sibuk mengetik di laptopnya tanpa peduli dengan Natasya yang masuk ke dalam kantornya.


"Pak Ethan, anda sibuk ya." sapa Natasya.


"Kenapa anda datang kemari?" tanya Ethan tanpa mengalihkan pandangannya pada Natasya.


"Kenapa anda tidak melihatku pak Ethan?" tanya Natasya.


Riana yang masih berdiri di depan pintu pun kesal, Ethan melirik istrinya itu. Kemudian Riana keluar dari ruangan Ethan, meski dia cemburu tapi bersikap profesional di kantor itu harus di lakukan.


Hati Riana sudah tidak karuan, dia duduk di kursinya. Menatap laptopnya, hatinya benar-benar gelisah karena di dalam suaminya sedang rapat dengan Natasya.


"Kenapa ya dia datang ke kantor? Apa mas Ethan memang menyuruh Natasya datang ke kantor sebelum dia menikah?" gumam Riana.


Sedang melamunkan suaminya, ponsel Riana berbunyi. Dia mengambilnya dan tampak pesan singkat dari suaminya yang membuat Riana tersenyum.


'Sabar sayang, aku ngga berbuat macam-macam kok.'


_


_


******************