My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
63. Drama In Dosiar



"Riana, jam berapa kita jalan-jalannya?" tanya bu Sarmi melangkah mendekat le ruang tamu.


Di ruang tamu itu semua tatapan mata mengarah pada bu Sarmi yang kini sudah berdiri agak jauh dari posisi Riana dan Ethan. Dia tidak tahu ada tamu di ruang tamu itu. Matanya mengarah pada laki-laki tua yang kemarin dia temui di mall.


Wajah bu Sarmi pucat, matanya masih menatap nanar ke arah laki-laki itu. Sejenak dia sadar dan memperhatikan pelipisnya, dia semakin penasaran dan mendekat pada laki-laki tua itu.


"Juli, kamuuu Juli kan?" tanya bu Sarmi dengan tatapan tidak percaya dan bingung juga.


"Juli? Siapa dia?" tanya laki-laki itu heran.


Bu Sarmi menutup mulutnya, matanya berair membuat laki-laki tua itu dan istrinya heran. Ada apa dengan ibunya Riana itu?


Sedangkan Riana juga kaget, begitu juga dengan Ethan. Kenapa mertuanya jadi syok melihat laki-laki yang sedang bertamu itu. Yang tak lain adalah pak Rudy, teman yang dia kenal di pesawat.


Sementara Riana, kaget tak terkira. Memandang ibunya dan pak Rudy secara bergantian. Dia mendekati ibunya dan memegang lengannya, menyadarkan ibunya yang masih syok dan tegang itu.


"Bu, dia bulan bapak. Tapi pak Rudy." kata Riana memastikan ibunya hanya berhalusinasi.


"Tidak Riana, itu pelipisnya. Ibu ingat betul dan mengenalnya, dia mas Juli. Dia itu, .... Hik hik hik." ucap bu Sarmi dengan menagis terisak.


Semua yang ada di sana semakin bingung dengan bu Sarmi yang menangis terisak, Riana yang tahu akan cerita ibunya itu pun mengerti keadaan ibunya.


"Bu, sadarlah. Itu pak Rudy, bukan bapak." kata Riana lagi.


"Tidak Riana, dia bapakmu. Ibu tahu itu." kata bu Sarmi lagi.


"Tapi bapak sudah meninggal bu, tertimbun longsor." kata Riana lagi.


"Mungkin saja bapakmu selamat dan di selamatkan oleh orang lain. Dan dia hilang ingatan Riana, hik hik hik." ucap bu Sarmi.


Pak Rudy yang sejak tadi jadi tokoh utama dalam drama itu pun ikut bingung. Tapi dia merasa mengenal bu Sarmi, dia melihat bu Sarmi yang menangis dan bicara pada Riana itu kalau dirinya adalah bapaknya Riana.


Istri pak Rudy pun ikut heran, dia mendekat pada suaminya dan bertanya pada suaminya itu.


"Mas, bukankah perempuan itu yang beberapa hari lalu ketemu di mall?" tanya istrinya bernama Naimah.


"Iya, aku pikir begitu. Tapi aku juga seperti mengenal dia, tapi entah juga." kata pak Rudy.


Dia berpikir keras tentang bu Sarmi dan Riana. Semakin di pikir semakin sakit kepalanya. Sedangkan Riana menenangkan ibunya yang menangis tersedu.


Ethan, dia justru berpikir lain. Dia melihat pak Rudy sedang kesakitan, dia bingung. Ethan mendekat pada pak Rudy, dia heran kenapa pak Rudy jadi kesakitan.


"Pak Rudy, ada apa?" tanya Ethan.


"Dia sedang mengingat sesuatu nak Ethan, entah apa. Kalau mengingat sesuatu pasti sakit kepalanya." kata bu Naimah istrinya.


Ethan diam, dia menoleh pada Riana yang sedang menenangkan ibunya. Bingung Ethan dengan kejadian yang secara bersamaan di tempatnya itu.


"Sayang, coba kamu bawa dulu ibu ke kamarnya. Tenangkan beliau dulu ya." kata Ethan pada Riana.


"Iya." ucap Riana.


Riana pun membawa ibunya ke kamar, menenangkan perempuan tua itu karena syok harus bertemu lagi dengan orang yang sudah dua hari membingungkan Riana dan Ethan.


"Ibu salah sama kamu, Riana. Sejak peristiwa longsor itu, foto-foto bapak kamu ibu buang semua. Karena ibu tidak mau mengingat kejadian longsor tanah itu yang merenggut nyawa bapakmu. Tapi, apa mungkin bapakmu selamat dalam musibah longsor tersebut?" tanya bu Sarmi dengan isakan tangisnya.


"Ya, memang bisa saja bu, bapak di kabarkan hilang tertimbun tanah longsor itu, sedangkan jasadnya tidak di temukan. Atau mungkin bapak di selamatkan oleh orang lain dalam keadaan pingsan dan hilang ingatan. Itu bisa saja, tapi kan sekarang bapak itu pak Rudy punya istri bu. Jadi, kemungkinan juga pak Rudy hanya mirip sama bapak." kata Riana mencoba untuk meyakinkan kalau pak Rudy itu bukan bapaknya.


Nino, yang sejak tadi bingung dengan ibunya itu kini mengerti. Ternyata drama nangis ibunya dan laki-laki di depan itu yang di sangka bapaknya.


"Ibu tidak tahu lagi, Riana. Ibu hanya ingat saja, tidak ingin mengakui kalau laki-laki itu suami ibu yang terkena longsor. Hik hik hik, hanya saja ibu mau menunjukkan kalau bapakmu seperti dia." kata bu Sarmi.


"Bu, jika benar pak Rudy adalah bapakku dan Nino. Itu juga sudah tidak mungki untuk bersatu, beliau punya istri, dan tentu saja istrinya sekarang yang akan jadi istri sah bapak." kata Riana.


"Ibu tidak meminta dia mengakuinya, ibu sudah katakan. Sudahlah, lupakan saja. Ibu memang tidak ingin mengingat kejadian itu, anggap saja benar bapakmu hilang tertimbun longsor." kata bu Sarmi lagi.


Riana diam, dia menarik tubuh ibunya. Rasanya memang sedih dia tumbuh tanpa seorang ayah, hanya ibunya saja yang membesarkannya dan Nino. Tapi dia bisa menjalaninya dengan baik.


"Ibu ingin pulang Riana." kata bu Sarmi.


"Kita jalan-jalan dulu ya bu, besok ibu sama Nino pulang." kata Riana.


"Untuk apa jalan-jalan Riana, hati ibu jadi tidak tenang. Lebih baik ibu pulang sekarang saja, kalau Nino mau jalan-jalan ya silakan saja. Kamu nanti antarkan Nino pulang ke kampung." kata ibunya lagi.


"Ngga bu, Nino ikut pulang sama ibu." kata Nino mendekat pada ibunya.


Ketiganya berpelukan, menangis bersama. Meski Nino dan Riana tidak mengerti tentang peristiwa longsor itu, tapi jika tiba-tiba ibunya mengatakan bapaknya itu mirip sekali atau memang benar pak Rudy adalah bapaknya yang hilang ingatan, mestinya ada cerita rahasia yang pak Rudy miliki dalam hidupnya.


Biarlah nanti itu urusan sauminya itu, jika dia ingin meluruskan kejadian sekarang ini. Mungkin akan mencari tahu pada pak Rudy.


Sementara itu, di ruang tamu. Pak Rudy masih kesakitan di kepalanya, istrinya menenangkan suaminya itu untuk tidak mengingat-ingat sesuatu.


"Bu Naimah, kenapa pak Rudy seperti ini? Maksudnya apa sakit di kepalanya itu sering?" tanya Ethan.


"Ya, jika sedang mengingat sesuatu pasti sakit kepalanya." kata bu Naimah.


"Emm, sejak kapan pak Rudy seperti ini bu?" tanya Ethan lagi.


"Beberapa tahun belakangan, dia sering mengingat sesuatu. Dan kadang di tengah malam terbangun dan berteriak entah kenapa, dia bermimpi katanya." kata bu Naimah lagi.


"Jadi, karena mengingat sesuatu ya."


"Ya, saya juga heran. Kata dokter, suamiku pernah mengalami trauma jadi dia sering sakit kepala."


"Trauma di kepala? Atau pernah kena benturan?"


"Bisa jadi, karena sewaktu menikah dulu mertuaku mengatakan dia pernah mengalami trauma." kata bu Naimah lagi.


Ethan diam, dia menyambungkan cerita bu Naimah dan cerita Riana tentang ibunya. Ada kejanggalan di sana, dia ingin mencoba untuk menyambungkan semua kejadian itu dan nantinya dia akan memastikan semua peristiwa itu, dan membicarakannya dengan Riana.


_


_


*****************