My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
56. Masalah Daby



Jhonson masih diam, dia bingung harus mengatakan apa pada Ethan. Karena sahabatnya, bukan mantan sahabatnya lebih tepatnya sudah bersikap apatis padanya. Dari sikap dan cara bicaranya sudah berbeda ketika bicara dengannya.


"Ethan, aku dan Daby sekarang tinggal bersama. Kami memutuskan tinggal bersama, dan entah kapan akan menikah." kata Jhonson.


"Lalu, apa aku harus mengucapkan selamat?" tanya Ethan.


Karena hidup di negara barat dan bebas aturan tanpa menikah pun bisa hidup bersama selamanya tanpa menikah atau pada akhirnya menikah. Jika Ethan melakukan itu, maka kedua orang tuanya yang pertama menentang kehidupan barat yang serba bebas tanpa ada aturan harus menikah ketika merek hidup bersama dalam satu atap rumah.


"Daby hamil anakku dan kami merasa ...." kata Jhonson tidak meneruskan ucapannya.


"Jhonson, aku datang ke Inggris waktu itu memang tepat sekali. Awalnya aku sangat antusias ingin melamar Daby dan langsung menikahinya. Tapi aku justru mendapat kejutan yang tak terduga oleh kalian berdua. Dan kamu datang kemari? Mau apa?" tanya Ethan mencibir.


Jhonson diam, dia memang salah. Menemui Ethan itu adalah menanggalkan harga dirinya sebagai laki-laki dan juga seorang pecundang yang tidak tahu malu. Tapi dia tidak punya pilihan lain selain mendatangi Ethan untuk meminta bantuannya.


Kafenya bangkrut karena kebakaran dan tidak bisa mengembalikan modal awalnya. Modal terbesar sudah di kembalikan pada Ethan, karena dia yang mempunyai modal besar untuk membuat kafe dengan Jhonson.


Dia salah, jika saja dia tidak tergoda. Mungkin tidak seperti itu jalan cerita dan kehidupannya saat ini. Ethan menatap Jhonson yang menunduk dalam, untuk mengatakan apa pun atau membantah ucapa Ethan saja dia tidak berani.


"Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja aku menerimamu kembali karena kita dulu pernah jadi sahabat. Apa yang kamu inginkan dariku, Jhonson?" tanya Ethan dengan tegas.


"Memang sebenarnya aku malu, Ethan. Tapi aku tidak punya pilihan. Daby hamil dan dia di vonis dokter jika dia melahirkan akan meninggal. Jika bayi kami yang di selamatkan, maka Daby yang akan meninggal. Tapi Daby yang kami selamatkan, bayi kami yang akan meninggal. Aku tidak tahu harus memilih siapa, sedangkan Daby memginginkan bayinya." kata Jhonson.


"Lalu? Aku bukan dokter yang harus menolong keduanya kan Jhonson? Kamu salah datang padaku. Datang pada dokter atau pergi ke tempat ibadah, mungkin Tuhan akan mengampunimu dan juga memberikan jalan keluar untukmu." kata Ethan lagi.


"Solusimu memang benar, tapi masalahnya aku dapat solusi datang padamu meminta bantuanmu." kata Jhonson lagi.


"Kamu butuh uang?" tanya Ethan.


Jhonson diam, menatap Ethan datar. Dia menelisik apakah ucapan itu sebuah ejekan untuknya? Tidak. Memang Ethan pantas mengejeknya, Jhonson pun menunduk kemudian dia mengangguk pelan.


"Oke, aku kirim uang untukmu." kata Ethan.


Jhonson mendongak, dia tidak percaya Ethan akan mengabulkan permintaannya. Tapi, dia kembali ragu. Apakah Ethan akan memberikannta uang yang dia butuhkan?


"Terlalu besar uang yang aku butuhkan Ethan." kata Jhonson lirih.


"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Ethan lagi.


Lagi-lagi Jhonson mendongak, menatap Ethan tidak percaya. Benarkan sahabatnya itu mau membantunya? Atau dia ada maksud lain?


"Kamu terlalu cepat untuk memberikan keputusan Ethan. Apa bantuanmu akan meminta sesuatu dariku?" tanya Jhonson ragu.


"Hahah! Itulah piciknya kamu Jhonson. Aku menawarkan bantuan karena kamu memintanya, lalu kamu mencurigaiku ada maksud dengan tawaranku? Heh! Lucu, apa kamu pikir aku akan merebut kekasihmu itu?" tanya Ethan dengan tawa sinisnya.


Jhonson tersenyum tipis, dia memang berpikir seperti itu. Tapi kemudian dia merasa lega karena sepertinya Ethan tidak meminta Daby kembali padanya.


"Istriku bahkan lebih cantik dan manis dari pada kekasihmu itu." kata Ethan menegaskan.


Tentu saja Jhonson kaget dengan pernyataan Ethan itu. Apa dia semudah itu melupakan Daby?


Ah ya, hampir satu tahun kejadian itu. Tentu saja Ethan melupakan semuanya, dan dia sepertinya sedang bahagia.


"Kamu bahagia Ethan?" tanya Jhonson.


"Ya, lebih bahagia dari pada dulu bersama dengan Daby." jawab Ethan.


"Ya tentu, kamu harus bahagia. Dan istrimu itu yang membuatmu bahagia kan?" tanya Jhonson.


"Tentu saja, jika bukan istriku yang mmebahagiakanku. Tidak ada hal yang bisa membahagiakanku selain istriku." kata Ethan lagi.


"Ya, aku ikut senang kamu bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang." kata Jhonson.


Pembicaraan mereka terus saja bergulir, hingga waktunya untuk rapat dengan klien. Ethan menegaskan pada Jhonson.


"Ya." jawab Jhonson singkat.


"Berapa kamu butuh?"


"Berapa pun kamu memberikannya, tapi aku butuh untuk operasi Daby dan bayinya." kata Jhonson.


Ethan diam, dia lalu mengambil ponselnya. Menanyakan nomor rekening Jhonson. Dia mau menolong itu bukan karena mantan pacarnya sedang kesulitan, tapi hanya sebatas sahabat yang berjiwa lapang dan Jhonson dengan menanggalkan harga dirinya meminta bantuan padanya, tentu saja Ethan tahu itu.


Dia tahu Jhonson itu seperti apa dulunya, hanya karena cinta yang membuatnya jadi seperti itu.


"Sudah kukirim ke rekeningmu dengan dollar. Kamu bisa cek sendiri. Dan sekali lagi, ini aku lakukan hanya sebatas sahabat. Jika kamu ada uang lebih, tolong kembalikan. Aku meminjamkanmu bukan memberimu secara cuma-cuma." kata Ethan.


"Ya, aku tahu. Akan aku ingat ini, aku punya hutang pada sahabatku. Aku janji akan mengembalikannya jika sudah kumiliki banyak uang." kata Jhonson dengan senang hati.


Ethan tersenyum, kini Jhonson pun pamit untuk kembali lagi malam nanti ke Inggris. Sebenarnya bisa saja dia menghubungi Ethan melalui telepon. Tapi untuk menceritakan tentang keadaan Daby sendiri dia yang harus bertemu dengan Ethan.


Kini Ethan duduk diam di kursi kerjanya. Memikirkan apa yang di katakan Jhonson, kasihan. Itu yang di pikirkan Ethan tentang Daby.


"Kamu memikirkan apa mas?" tanya Riana tiba-tiba sudah ada di depannya.


"Eh, sayang. Kamu kok bikin kaget aja sih?" tanya Ethan.


"Siapa dia?" tanya Riana.


"Yang tadi itu?"


"Iya."


"Sahabatku yang dulu berselingkuh dengan pacarku." jawab Ethan.


Dia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Riana. Menarik pinggangnya dan duduk di sofa.


"Mau apa dia datang kesini?" tanya Riana penasaran.


"Dia meminta bantuanku, pacarnya mau melahirkan dan ada masalah dengannya. Dia tidak punya uang banyak, kafenya bangkrut. Jadi dia memilih meminjam uang padaku." kata Ethan.


Tangannya merapikan rambut poni Riana dan mengecup bibirnya. Tersenyum pada istrinya itu yang masih diam, diam karena rasa penasaran kenapa suaminya mau membantu orang yang telah berhianat padanya.


"Kamu penasaran denganku kenapa aku mau membantunya?" tanya Ethan.


"Ya, kupikir kamu mau membantu kekasih sahabatmu karena masih peduli dan masih punya hati pada mantanmu itu." kata Riana dengan ketus.


"Hahah! Kamu cemburu?"


"Tentu saja."


"Duh, aku senang istriku ini cemburu. Cup. Dengar ya, aku tidak ada hati lagi atau apa pun. Aku merasa bahagia saat ini denganmu, aku membantunya karena tahu Jhonson itu kehidupannya tidak baik-baik saja dulu. Hanya karena godaan sesaat, dia seperti itu. Aku membantu sahabatku, buka mantan pacarku. Kamu mengerti?" tanya Ethan dengan senyum du bibirnya.


"Yakin hanya itu?" tanya Riana memastikan.


"Ya, aku yakin. Dan aku tidak ada lagi rasa apa pun sejak dia berhianat, jadi jangan cemburu lagi padaku. Oke sayang?" kata Ethan.


Dia kembali mencium Riana penuh cinta dan kelembutan. Di hatinya dia meyakinkan diri kalau Riana adalah kebahagiaannya saat ini dan selamanya.


_


_


*********************