My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
43. Menghilangnya Sang Bos



Hari ini hari terakhir Riana jadi asisten pribadi Ethan, dia semakin gelisah jika sudah berada di rumah sang bos. Pasalnya, setiap kali datang ke rumah itu. Semuanya menyapanya dengan hormat dan sopan. Bahkan nyonya Hana dan pak Wijaya seolah sudah biasa dan menganggap kedatangannya itu di anggap sebagai istri Ethan menantu mereka.


Selesai melayani Ethan, seperti biasa Riana ikut duduk di kursi meja makan untuk sarapan pagi. Dia canggung dengan sikap pak Wijaya dan nyonya Hana.


"Riana, Ethan tidak turun?" tanya nyonya Hana.


"Tadi sih katanya sebentar lagi turun, tante." jawab Riana.


"Hemm, jadi ngga sih dia ajak mama pergi kesana." ucap nyonya Hana menatap ke arah tangga.


Ethan tidak juga turun, sedangkan Riana tidak mengerti apa yang di bicarakan nyonya Hana. Sedangkan pak Wijaya sarapan dengan santai dan tanpa bersuara seperti biasanya. Dia tahu Riana canggung jika harus makan bersamanya dan istrinya, maka dari itu dia duduk santai dan tanpa banyak bicara.


"Tenang aja sih ma, dia kalau berencana pasti di laksanakan. Apa lagi ini tentang dirinya sendiri." kata pak Wijaya.


"Iya sih, mama khawatir aja. Dia jadi kebablasan, untung aja orangnya kuat dan tahan juga. Mama marahin nanti kalau sampai kejadian pa." kata nyonya Hana melirik pada Riana.


Pembicaraan itu sangat membingungkan Riana, apa yang mereka bicarakan. Di saat kebingungan Riana, Ethan turun ke bawah dengan setelan jas yang sudah di pilihkan oleh Riana tadi.


Riana melirik pada Ethan, sedangkan laki-laki itu tanpa menoleh ke arahnya dan langsung duduk di kursi makannya di samping Riana.


"Jadi kan sayang?" tanya mamanya.


"Jadi ma, mama sabar aja. Tunggu waktunya, aku mau sarapan dulu. Lapar. Siapkan Riana." kata Ethan.


Riana pun menyiapkannya tanpa banyak bicara, di samping dia memikirkan apa rencana Ethan dan mamanya itu. Enthalah, Riana jadi tidak fokus menyiapkan makanan untuk sang bos.


"Riana, kamu kenapa?" tanya Ethan.


"Oh, tidak apa-apa pak." jawab Riana gugup.


Nyonya Hana dan pak Wijaya menatap Riana yang sedang gugup. Tapi kemudian mereka selesai sarapan pagi dan meninggalkan Ethan dan Riana.


"Kamu gugup? Apa yang membuatmu gugup." tanya Ethan menyuap makanannya ke dalam mulut.


"Siapa yang gugup? Aku tidak gugup." jawab Riana.


Dia mengelak, tapi Ethan tahu Riana gugup. Dia mencoba santai, melirik ke arah sekretarisnya itu. Riana menoleh lalu melanjutkan makannya, karena rasanya dia benar-benar jadi lebih gugup lagi duduk berdua dengan Ethan di rumahnya.


Setelah selesai sarapan, Ethan dan Riana berangkat ke kantor. Tak ada pembicaraan di antara mereka, dari selesai sarapan hingga di dalam mobil tidak ada pembicaraan sama sekali. Sampai di kantor pun mereka turun dan langsung masuk gedung.


Ethan menyapa karyawan yang berpapasan dengannya dan Riana. Ada juga bisik-bisik para karyawan tentang keduanya.


"Serasi ya pak Ethan sama mbak Riana." kata salah satu karyawan.


"Ya, tapi sepertinya mbak Riana lebih jutek sih." ucap yang lainnya.


"Masa?"


"Coba lihat mukanya, tuh dia diamnya beda lho." katanya lagi.


Satu temannya memperhatikan dari dekat. Karena mereka akan masuk lift bersama. Ethan yang mendengar bisik-bisik karyawannya itu hanya tersenyum saja. Sedangkan Riana mendengus sebal, dia menoleh pada Ethan yang terlihat senang dengan pergunjingan itu.


"Anda senang ya di bicarakan seperti itu sama karyawan." kata Riana sinis.


Riana diam, dia mendengus kasar. Ethan menoleh padanya dan menarik tangan Riana untuk segera masuk ke dalam lift.


_


Hari terakhir Riana jadi asisten pribadi Ethan, dia sudah ada di depan rumah Ethan. Tapi rumah itu tampak sepi, satpam pun tidak ada. Biasanya sudah ada di depan dan pintu gerbang terbuka, dia heran pintunya masih tutup.


"Kemana satpam itu, kok pintu masih tutup dan terkunci." ucap Riana.


Dia menggedor pintu gerbang agar satpam membukakan pintunya, tapi tak di jawab. Berteriak memanggil satpam. Tetap sama tidak ada jawaban. Akhirnya Riana mengambil ponselnya dan menghubungi Ethan, meski akan lama di jawabnya karena masih tidur. Riana tetap menghubungi Ethan, tapi anehnya ponselnya mati.


"Ck, kenapa tidak aktif sih?" ucap Riana.


Dia menunggu di depan pintu gerbang rumah besar itu. Berharap ada mbok Sri yang baru pulang dari pasar, menunggu beberapa menit tetap tidak ada pintu di buka dan mbok Sri tidak ada juga.


"Ya sudahlah, aku berangkat ke kantor lebih dulu. Salah siapa rumahnya di tutup dan satpam tidak juga keluar." ucap Riana.


Dia menunggu taksi lewat, dan tak lama taksi lewat. Riana menghentikannya dan langsung naik, mmenita ke perusahaan Wijaya Corp. Semua pengemudi taksi tahu di mana perusahaan itu.


Dalam pikiran Riana, dia masih bingung kenapa sepi rumah itu. Dan sampai di kantor, Riana segera menaiki lift dan bekerja cepat. Karena hari ini memang banyak pekerjaannya sendiri. Menyusun jadwal Ethan untuk satu minggu ke depan.


Sampai di meja kerjanya, Riana meletakkan tasnya dan pergi ke ruang kantor Ethan. Membukanya lalu merapikan ruangan tersebut, meski sebenarnya ada cleaning servis yang melakukan itu. Tapi da yang membereskan berkas di meja agar tidak tertukar dan ada yang salah.


"Kok sudah jam delapan lebih pak Ethan belum datang ya? Kemana dia?" gumam Riana.


Dia keluar lagi dari ruangan Ethan, mengambil ponselnya dan menghubungi sang bos. Tetap masih tidak aktif, beberapa kali Riana menelepon Ethan. Tetap tidak aktif, hingga dia kesal sendiri jadinya.


"Ck, kenapa dia kumat lagi. Tidak aktif ponselnya dan sekarang tidak datang juga." ucap Riana dengan kesal.


Kesal menunggu bosnya datang, tapi sampai sekarang belum juga datang. Satu notif masuk ke ponselnya, dia melihat siapa yang kirim pesan.


'Aku tidak masuk hari ini.'


Riana mengerutkan dahinya, siapa yang mengirim pesan itu padanya. Dan tanpa pikir panjang, Riana menghubungi nomor tak di kenal itu. Tapi sialnya langsung tidak aktif.


"Aaargh! Siapa sih? Kemana bos yang seenaknya kerja itu. Di hubungi tidak aktif ponselnya, malah ada pesan masuk. Siapa dia?" ucap Riana kesal sendiri.


Dia duduk di kursinya, mencoba untuk sabar dengan keadaan. Sejak dari rumah Ethan, moodnya langsung berubah. Tapi kini dia berusaha tetap tenang dengan semuanya.


Sampai tiga hari keadaan tetap sama, Ethan tidak masuk kerja dan di hubungi tetap tidak aktif ponselnya. Hingga Riana jadi malas untuk bekerja, memang pekerjaan selama Ethan tidak masuk tidak terlalu banyak. Jadwal sudah di susun rapi untuk satu minggu ke depan, dan sekarang hari Sabtu.


Jam kantor lebih cepat tutup, jadi rencananya dia akan ke apartemen Ethan. Dia berpikir mungkin di apartemen Ethan berada.


"Menghilang kemana dia, sampai tiga hari ini tidak ada kabar apa pun darinya." gumam Riana.


Tangannya bermain kursor kesana kemari. Tidak jelas apa yang di kerjakan Riana, karena semua berkas sudah dia periksa dan beres. Akhirnya menunggu waktu pulang dia bermain-main saja dengan laptopnya dengan malas.


_


_


**********************