My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
47. Tidak Jadi Marah



"Saya terima nikahnya Riana Dwi Puspita binti Kusnaedi dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Saah!"


Teriakan kata sah menggema di dalam ball room hotel mewah itu. Ethan sudah mempersunting Riana sebagai istrinya di hotel mewah itu, dengan di hadiri keluarga, sahabat dan juga undangan lainnya.


Ethan merasa lega karena dia sudah mengikat Riana sebagai istrinya. Nino, sebagai wali Riana. Dia di wakilkan oleh hakim karena Nino di anggap masih belum baligh.


Ethan tidak sabar ingin melihat istrinya yang sejak tadi bersembunyi di dalam kamar. Ethan meminta pada Riana agar duduk bersama di depan penghulu, agar setelah ijab kabul dia sempurna karena ada dirinya. Tapi Riana tidak mau, dia malu katanya.


Ada-ada saja Riana itu, begitu pikir Ethan. Dia melihat ke arah pintu di mana Riana muncul, tapi kenapa dia tidak juga muncul?


"Ma, Riana kok ngga datang-datang sih?" tanya Ethan mulai gelisah.


"Ngga tahu tuh, mungkin agak susah jalannya." kata nyonya Hana di belakang Ethan.


"Susah gimana? Memang dia pakai baju yang kemarin di pesan kan?" tanya Ethan.


"Iya, dan mama kok yang kasih ke dia. Mama juga lihat dia pakai bajunya, dan pas." kata nyonya Hana lagi.


"Lha, terus. Ini kok ngga datang-datang sih?" kata Ethan sangat gelisah.


Sejak tadi dia ingin melihat istrinya itu, kenapa jadi lama sekali munculnya. Petugas catatan di kantor KUA juga sudah menunggu untuk tanda tangan pihak mempelai wanita.


"Pa Ethan, ini bagaimana? Istrinya harus tanda tangan juga secepatnya." kata petugas itu.


"Iya pak sebentar lagi istriku datang." kata Ethan menenangkan petugas KUA itu.


"Nanti mama yang menyusul Riana ya. Kamu tunggu di sini." kata mamanya.


Nyonya Hana pun beranjak pergi meninggalkan Ethan dan suaminya. Pak Wijaya heran kenapa istrinya itu pergi.


"Mama kamu mau kemana Ethan?" tanya pak Wijaya.


"Menyusul Riana pa, dia kok ngga muncul-muncul sih." kata Ethan masih gelisah karena Riana belum muncul juga.


"Waah, papa curiga nih." kata pak Wijaya.


"Curiga apa pa?" tanya Ethan cemas.


"Jangan-jangan dia kabur." ucap pak Wijaya.


"Jangan bercanda pa! Mana ada kabur." ucap Ethan mulai panik juga mendengar ucapan papanya.


"Ya coba saja kamu bayangkan, masa sejak tadi ngga muncul-muncul juga." kata pak Wijaya dengan tenang.


"Ish! Papa jangan menakutiku. Biar aku susul juga." kata Ethan.


Dia bangkit dari duduknya, dia dengan cepat menuju pintu di mana nanti Riana muncul. Dia tidak sabar dengan istrinya yang baru beberapa menit lalu. Naik ke dalam lift pergi ke kamarnya yang dia sewa.


Mamanya juga tidak datang-datang, dia semakin cemas saja. Tak lama, lift berhenti di lantai yang dia tuju. Berjalan cepat untuk segera sampai di kamarnya, rasa deg-degan muncul di benaknya. Ada apa dengan Riana? Apakah dugaan papanya itu benar, Riana kabur karena tidak mau menikah dengannya?


Mustahil, bahkan tadi malam saja dia ingat Riana sangat senang ketika di beritahu secara mendadak besok mau menikah, meski selalu saja ada keributan lebih dulu.


Ethan masuk ke dalam kamar hotel yang dia sewa, dia tidak melihat mamanya yang tadi menyusul atau pun Riana. Dia bingung, kemana keduanya itu pergi?


"Kemana Riana? Di kamar tidak ada. Mama juga tidak ada." ucap Ethan.


Dia memeriksa sudut kamar dan juga terakhir kamar mandi. Dia semakin cemas dan gelisah, kemana istrinya pergi. Ethan pun kembali lagi ke ball room, dia berharap Riana sudah ada di sana.


_


Riana pagi-pagi sekali pergi menuju rumah Ethan, meski dia hanya mencuci muka saja tanpa mandi lebih dulu. Dia ingin sekali mendamprat calon suaminya itu, semalam Ethan menghubunginya sebentar dan tidak menjelaskan apa-apa padanya.


Jadi, dia memutuskan untuk pergi ke umah pak Wijaya dan istrinya. Dia tidak peduli dengan status calon pengantin tapi berkeliaran pergi ke rumah calon suaminya. Yang ada di pikirannya saat ini dia ingin marah pada Ethan.


"Seenaknya saja dia membuat rencana tanpa aku tahu lebih dulu. Apa karena aku memang kehilangan dia sejak tidak datang ke kantor bahkan rumahnya sepi? Aku akan memarahinya, baru aku puas untuk itu." kata Riana mengumpat sendiri di belakang abang ojolnya.


"Sampai mbak." kata abang ojolnya.


"Ya, ini uangnya. Terima kasih." kata Riana.


"Pagi bener sih mbak pergi mau marah-marah?" kata abang ojol yang kepo sejak tadi Riana mengomel tidak jelas.


"Jangan kepo deh!" ucap Riana ketus.


"Ya ampun, mbak. Semoga sukses marah-marahnya." kata ojolnya.


Dia langsung pergi ketika mendapat tatapan tajam dari Riana. Riana pun melangkah, berdiri di depan pintu gerbang dan mengetuknya. Tampak pak satpam membuka gerbangnya, dia terkejut kenapa sepagi ini Riana sudah ada di rumah majikannya.


"Lho, mbak Riana kan nanti siang mau menikah. Kenapa pagi-pagi ada di sini?" tanya satpam heran.


"Majikanmu ada kan di dalam?" tanya Riana.


"Majikan yang mana mbak? Pak Wijaya, nyonya Hana atau den Ethan?" tanya satpam.


"Anak majikanmu."


"Ya ampun, itu calon suami mbak Riana lho. Yang sopan." kata satpam lagi.


"Huh, aku mau sopan. Tapi aku sedang marah dan kesal. Aku mau ...."


"Eh, Riana datang kesini sayang?" tanya nyonya Hana menghampiri calon menantunya itu.


"Eh, tante Hana. Heheh, ini. Saya mau ada perlu sama pak Ethan." ucap Riana tiba-tiba kalem dan merasa malu.


"Ooh, ada perlu ya. Mendesak banget ya keperluannya?" tanya nyonya Hana.


"Enng, ngga sih tante." jawab Riana semakin gugup.


"Panggil mama sayang, nanti siang kamu sudah jadi menantu mama. Istrinya Ethan." kata nyonya Hana.


"Iya tante, eh mama. Heheh." jawab Riana semakin kaku.


"Ya sudah, berhubung kamu ada di sini. Kamu masuk saja, nanti mama antar kamu ke salon. Atau perias pengantinnya mama panggil aja ya kemari, biar kamu ngga kemana-mana sih." kata nyonya Hana.


"Tapi tante itu ...."


"Udah, nanti ibu dan adikmu di jemput sama supir. Sekalian nanti di dandani, dan Ethan juga akan langsung di dandani lebih dulu agar nanti dia langsung ke hotel ijab kabul. Kamu berangkat sama mama, dan langsung ke kamar hotel aja menunggunya." kata nyonya Hana lagi.


Riana diam, dia menghela nafas panjang. Niatnya mau mendamprat Ethan malah bertemu calon mertuanya. Dia tidak bisa berkutik, nyonya Hana menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah.


Sementara Ethan sendiri baru bangun tidur, dia tidak tahu kalau Riana datang ke rumahnya. Sekalian di rias oleh make up artis untuk acara pernikahannya di hotel.


_


_


********************