
Sejak di temukannya di sungai oleh pasangan suami istri pak Sanusi dan bu Rifa. Pak Juli di rawat dan tinggal dengan mereka, kebetulan tidak punya anak dan pak Juli itu di anggapnya anak meski sudah dewasa.
Ingatannya hilang ketika terbentur batu besar yang turun ke bawah ketika longsor itu, dan juga ketika berlari terantuk batu. Sehingga ingatan itu kemungkinan besar tidak akan kembali selamanya.
Hanya sekilas-sekilas dia bisa mengingat akan masa lalu, tetapi tidak bisa mengembalikan ingatan secara permanen, hanya mengingatkan sesuatu saja.
Sejak keluar dari rumah sakit itu juga, dia mempunyai identitas baru sebagai anak pasangan suami istri yang menemukannya. Hingga dua tahun lamanya bersama mereka.
Pertemuan ibu Naimah dan pak Juli, atau dengan identitas baru itu memang tidak terduga. Ayahnya ibu Naimah adalah teman pak Sanusi, dia datang ke rumah temannya itu dan bertemu dengan pak Juli, atau nama barunya pak Rudy.
Saat itu ibu Naimah janda di tinggal suaminya meninggal. Dan berkunjung ke rumah pak Sanusi.
"Jadi, kamu menemukan seorang laki-laki di sungai?" tanya ayah Naimah.
"Ya, dia dalam keadaan terluka dan entah karena apa. Aku membawanya ke rumah sakit dan merawatnya hingga sembuh. Selama dua tahun dia ikut denganku, dia baik sekali dan sering membantuku dalam pekerjaan." kata pak Sanusi.
"Dia berapa usianya?" tanyanya.
"Aku tidak tahu, tapi mungkin lebih tua sedikit dari Naimah." kata pak Sanusi lagi.
"Bagaimana kalau dia dan Naimah kita nikahkan, aku rasa ibu lebih baik. Dia tidak ingat apa pun, keluarganya juga mungkin sudah menganggap tidak ada." kata ayah Naimah.
"Tunggu dulu, aku takut ada keluarganya yang mencari. Aku tidak mau gegabah, meski dia sudah tinggal denganku selama dua tahun dan tidak ada yang mencarinya. Tapi paling tidak nanti saja, atau kamu dekatkan saja dia dengan Naimah."
"Maksud kamu pendekatan?"
"Ya, supaya mereka saling mengenal dan jika cocok. Bisa keduanya kita nikahkan, aku tidak mau ada yang salah. Jika mereka menginginkan pernikahan, kita laksanakan saja." kata pak Sanusi.
"Ya, baiklah. Aku hanya cemas dengan Naimah itu, sejak kepergian suaminya jadi sering melamun. Kamu benar, kita dekatkan keduanya saja dulu. Siapa tahu mereka cocok, lagi pula sama-sama dewasa kan."
"Ya, dan nanti aku akan memberikan pandangan padanya tentang Naimah."
Begitulah pertemuan antara pak Sanusi dan ayah Naimah. Mereka sering melakukan pertemuan dan melibatkan Naimah dan Rudy. Hingga akhirnya dua bulan pendekatan keduanya, mereka pun menikah.
Pak Sanusi dan ayah Naimah sangat senang karena mereka sekarang berbesan. Meski Rudy itu bukan anak kandung pak Sanusi, tapi pak Sanusi merasa senang bisa menikahkan seseorang yang pernah dia impikan selama tidak mempunyai anak.
_
Ethan datang ke rumah pak Rudy dengan istrinya Riana. Ibu Sarmi sudah pulang ke kampungnya dengan Nino setelah pertemuannya dengan suaminya tanpa sengaja di rumah Ethan.
Hingga menggagalkan rencana liburan mereka untuk jalan-jalan. Bu Sarmi memaksa pulang, dan akhirnya Riana mengabulkannya.
Kini, Ethan dan Riana berada di rumah pak Rudy dan bu Naimah. Pak Rudy sedang pergi mengantar barang keluar kota, jadi bu Naimah bebas bercerita tentang pertemuannya dengan pak Rudy itu.
"Memang kami ini bertemu karena orang tua. Pak Sanusi yang ibu anggap adalah mertua, sekarang sudah tidak ada. Sama halnya dengan ayahku, nak Ethan. Ibu hanya di beritahu sama pak Sanusi kalau suami ibu, pak Rudy atau menurut ibunya nak Riana pak Juli. Memang hilang ingatan, dan kata dokter tidak akan bisa mengingat masa lalu lagi." kata bu Naimah.
"Ibu yakin tentang cerita pak Sanusi atau mertua ibu itu. Kalau pak Rudy tidak bisa mengingat lagi." tanya Ethan.
"Entahlah, ibu waktu itu khawatir karena laki-laki dewasa seperti pak Rudy belum punya istri. Jadi pada saat itu, ibu sempat meragukannya. Tapi pak Sanusi dan ayahku terus membujuknya, akhirnya ibu mau menikah dengan pak Rudy. Hingga sebelas tahun pernikahan ibu dengan pak Rudy memang tidak ada yang mencarinya. Jadi ibu yakin kalau pak Rudy memang tidak ada keluarga atau pun istri yang mencarinya lagi. Dan kemarin di mall itu ...." ucap bu Naimah.
"Kejadian di mall itu, aku juga tidak tahu bu. Ibuku sejak pulang dari mall selalu diam dan sering mengurung diri di kamar. Mungkin kaget melihat pak Rudy itu di kira bapakku. Aku pikir mungkin ibu hanya salah orang dan mirip saja." kata Riana.
"Emm, maaf lho bu. Kalau dari cerita ibu dan menyambung dari cerita mertuaku itu sepertinya cocok kalau pak Rudy itu benar bapaknya Riana. Apa sebaiknya pak Rudy di periksa saja lagi ke dokter, ya ini hanya sebagai untuk meyakinkan saja kalau memang pak Rudy tidak bisa mengingat kembal tentang masa lalu, jangan di paksakan. Nantinya pak Rudy akan semakin sakit, biar saja seperti itu." kata Ethan menyela.
"Tapi kata dokter, pak Rudy itu sudah tidak bisa mengembalikan ingatannya lagi. Jika di paksakan akan fatal pada ingatannya nanti, karena benturan di kepalanya itu sangat keras. Jadi, sangat riskan sekali kalau untuk terus di paksa mengingat masa lalu itu." kata bu Naimah.
"Saya bukan memaksa pak Rudy mengingat kembali masa lalunya dulu, tapi hanya mau memastikan saja." kata Ethan lagi.
"Memastikan apa?" tanya bu Naimah.
Ethan diam, dia ragu mengatakannya. Riana juga penasaran, maksud dari suaminya itu apa.
"Kamu mau memastikan apa mas?" tanya Riana.
"Kalau memang benar pak Rudy adalah bapak kamu, sayang. Atau hanya salah orang saja, itu tidak masalah. Berarti masalahnya sudah beres dan jelas kan sayang."
"Mau mengetes DNAku dan pak Rudy?" tanya Riana.
"Iya, itu bisa membuktikan kalau pak Rudy dan kamu ada hubungan. Dan nanti selanjutnya terserah pak Rudy." kata Ethan.
Ibu Naimah yang diam, dia terkejut dengan usulan Ethan itu. Sesuatu itu memang harus jelas dan harus di buktikan. Tapi, rasanya dia tidak rela jika memang suaminya itu benar ayah Riana. Apa mungkin akan kembali pada istrinya?
Bu Naimah menunduk, menarik nafas panjang. Dia berat mengizinkannya, tapi tidak boleh egois juga. Karena peristiwanya itu saling berkaitan. Riana melihat bu Naimah jadi sedih, dia tahu sangat berat dengan usulan dari suaminya.
"Bu Naimah, pak Rudy baik-baik saja kan?" tanya Riana, bu Naimah mendongak lalu tersenyum.
"Maksudnya nak Riana bagaimana?" tanya bu Naimah.
"Sejak pulang dari rumahku, apa pak Rudy baik-baik saja? Karena sewaktu melihat ibuku, pak Rudy mencoba mengingat dan kepalanya sakit. Apa sejak itu pak Rudy baik-baik saja?" tanya Riana.
"Ya, memang pak Rudy kesakitan. Tapi ibu merasa kasihan, jadi ibu menenangkannya agar tidak perlu mengingatnya lagi. Sesuatu yang sudah berlalu tidak perlu di ingat lagi jika memang bisa membuat sakit. Itu yang selalu ibu ingatkan pada bapak, karena menyangkut kesehatannya juga. Jadi ibu selalu menjaga dan mengingatkannya agar jangan lagi mengingat yang tidak perlu." kata bu Naimah.
Riana tertegun, apa benar pak Rudy itu tidak bisa ingat tentang masa lalu? Masa di mana kejadian longsor di kampungnya enam belas tahun itu?
_
_
*******************