
Saat itu, di kampung Riana terjadi hujan besar selama lima hari berturut-turut tanpa henti. Warga kampung itu merasa khawatir akan terjadi longsor. Di bukit belakang rumah mereka, karena bukit itu sudah mulai jarang pohonnya banyak di tebang oleh warga kampung itu dan warga tetangga kampung.
Bu Sarmi dan pak Juli, kedua suami istri itu baru saja mempunyai anak kedua. Sedangkan anak pertama mereka, Riana masih kecil. Pak Juli sangat khawatir dengan ladangnya di pinggiran bukit akan tertimpa longsor itu.
"Pak, nanti kalau longsor ladang kita ketutup ya?" tanya bu Sarmi sedang menyusui anaknya yang baru lahir kemarin.
"Kemungkinan bu, bapak juga khawatir. Mana satu bulan lagi panen itu sayuran, kalau panen kita dapat uang lebih. Sayurannya bagus-bagus, sudah pasti juragan Munir senang dengan sayuran bagus di ladang bapak, kalau hujan terus-terusn begini sih bisa rusak sayuran bapak bu." kata pak Juli.
"Ya sudah, kalau hujan reda di tengok saja." kata bu Sarmi.
"Di panen lebih awal ngga apa-apalah bu, biar kita dapat uang juga. Lagi pula cuma tunggu satu bulan saja, sayurannya sudah bagus kok. Takutnya nanti kena lonsgor malah jadi rusak dan tertimbun, kita juga yang rugi." kata pak Juli lagi.
"Tapi kalau di panen cepat, kan bapak bagaimana. Ibu takut nanti bapak yang kena, ngga usah lah pak. Biar saja, ibu takut lho." kata bu Sarmi lagi.
"Kalau ngga di panen cepat, kita dapat uang dari mana? Nino butuh vitamin banyak, Riana juga sedang tumbuh dengan baik. Sudah ibu jangan khawatir, nanti bapak besok kalau ngga hujan mau ke ladang. Kalau tanahnya masih bisa di pijak ya bapak kesana sekalian panen sayura." kata pak Juli.
Bu Sarmi diam saja. Malam itu sebenarnya dia gelisah karena sudah lima hari berturut-turut hujan deras dan malam ini juga hujan. Tapi tidak sederas kemarin itu, hanya saja hujan tidak berhenti-berhenti.
Warga kampung yang lainnya juga merasakan kegelisahan yang sama. Mereka punya ladang jagung, padi dan ada juga sayuran seperti ladang pak Juli, suami bu Sarmi.
_
Esok harinya, hujan benar-benar reda. Warga kampung pun senang hujan sudah berhenti, banyak yang mengingatkan kalau hujan seperti itu, akan ada longsor nantinya. Jadi semua warga di himbau oleh kepala kampung untuk berhati-hati, terutama yang akan pergi ke ladang.
Mereka tidak langsung pergi ke ladang di pagi hari. Karena mengantisipasi longsor terjadi, menjelang siang tidak terjadi juga longsor itu. Mereka pun lega, kini ada beberapa yang berani pergi ke ladang.
"Pak Samin, hati-hati. Jangan lama-lama di ladangnya." kata perangkat desa yang kebetulan berpapasan dengan tetangga bu Sarmi itu.
Pak Juli, yang melihat pak Samin bersiap pergi ke ladang pun dia bergegas masuk ke dalam rumah mengambil alat pertaniannya. Bu Sarmi pun melihat suaminya bersiap pergi ke ladang.
"Pak, mau ke ladang?" tanya bu Sarmi.
"Iya bu, tadi bapak lihat pak Samin juga pergi ke ladang kok. Jadi di sana ada temannya juga ke ladang." kata pak Juli.
"Jangan sekarang lho pak, besok saja. Takutnya longsor sore hari di sana." kata bu Sarmi.
"Ngga kok bu, ibu tenang saja. Jaga anak-anak ya, dan itu Riana jangan sampai main ke ladang." kata pak Juli.
"Bapak maksa sih."
"Sudah, jangan khawatir. Nanti kalau ada suara gemuruh, bapak langsung lari dan pulang." kata pak Juli.
Bu Sarmi diam saja, hatinya semakin gelisah ketika pak Juli sudah keluar dari rumahnya. Dia benar-benar khawatir dengan suaminya itu, tapi dia tidak bisa mencegah suaminya untuk tidak pergi ke ladang.
Ada juga beberapa orang ikut pergi ke ladang siang itu. Hingga sore pukul tiga tidak ada tanda-tanda akan longsor, semua merasa lega. Ada yang sudah pulang, ada juga yang masih di ladang. Anak-anak juga ada yang ikut pergi ke ladang.
Sampai sore hari, beberapa belum pulang dari ladang. Termasuk suaminya bu Sarmi, dia gelisah kenapa suaminya belum juga pulang.
"Riana, kamj jaga Nino ya. Ibu mau menengok bapak di ladang." kata bu Sarmi.
"Lho, nanti dek Nino nangis gimana bu?" tanya Riana.
"Sudah, tidur Ninonya. Kamu jangan kemana-mana, di rumah saja." kata bu Sarmi..
Sampai di tepi jalan di mana ladang itu berada, karena ladang pak Juli memang agak naik ke bukit. Bu Sarmi hendak naik bukit, tapi kemudian dia ragu dan turun lagi.
Orang-orang sudah pada pulang, tapi kenapa suaminya tidak pulang-pulang juga.
"Pak Dodo, suamiku kok belum pulang juga. Sedang apa di sana pak?" tanya bu Sarmi.
"Oh, sedang membungkus sayuran bu. Sebentar lagi pulang kok, lumayan dapat banyak pak Juli sayurannya." kata pa Dodo yang di sapa bu Sarmi tadi.
"Tapi ini sudah sore kok belum pulang juga sih, saya jadi khawatir." kata bu Sarmi.
Baru berucap seperti itu, suara gemuruh tanah yang ambruk terdengar kencang dan cepat. Bu Sarmi dan pak Dodo kaget, bu Sarmi hendak menuju ke ladang menyusul suaminya. Tapi di tarik oleh pak Dodo agar jangan menyusul ke saja.
"Bu Sarmi, jangan kesana!" teriak pak Dodo.
"Suami saya pak Dodo, dia belum pulang!"
"Nanti pulang bu."
"Tapi suara tanah dan itu pada berjatuhan pak, saya khawatir dengan suami saya."
"Tunggu saja di sini."
Bu Sarmi menurut, dia menunggu dengan pak Dodo. Dan suara tanah ambruk pun terdengar, banyak yang segera berlari menghindar tanaha mulai turun, bu Sarmi semakin panik kenapa dia tidak melihat suaminya berlarian seperti yang lain.
Bruk! Bruk! Bruk!
Beberapa kali tanah turun ke bawah dan menimpa orang-orang itu. Bu Sarmi menjerit, dia tidak melihat suaminya sama sekali yang berlairan.
"Suamiku, pak! Pak! Kemana suami saya."
"Toloong! Tolong!
Begitulah kejadian longsor di kampung, banyak juga yang tertimbun. Beberapa bantuan dari pemerintah untuk mencari korban longsor. Bu Sarmi menangis terus karena suaminya belum juga pulang.
Anak bayinya juga selalu menangis, menambah kebingungan bu Sarmi. Dia bingung dan takut suaminya belum di temukan. Para tetangga datang ke rumah bu Sarmi menghiburnya.
"Tenang bu Sarmi, nanti pak Juli di temukan. Di sana lagi ada pencarian warga yang tertimbun juga." kata tetangga lainnya.
"Iya bu Sarmi, harus tegar ya demi anak-anak yang masih kecil." kata tetangga lain lagi.
Bu Sarmi hanya mengangguk, dia berdoa semoga suaminya di temukan. Memang baru satu hari, jika memang suaminya di temukan meninggal pun tetap dia menunggunya. Karena ada warga yang di temukan sudah meninggal.
Bu Sarmi takut suaminya itu meninggal juga. Dia harus bagaimana menghadapi semuanya sendirian. Anak-anaknya masih kecil-kecil, perasaan sedih karena suaminya belum di temukan dan anak-anaknya yang masih kecil. Bagaimana menghadapi mereka semua sendirian nanti.
_
_
*******************