My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
73. Emir Syahban Wijaya



Setelah melahirkan, Riana di bawa ke kamar inap. Ethan masih menunggui anaknya yang masih di bersihkan oleh suster. Setelah selesai, suster membawa anaknya yang berjenis kelamin laki-laki itu.


Sebelumnya, dia sudah memberitahu kedua orang tuanya kalau Riana sudah melahirkan. Tentu saja nyonya Hana marah karena dia tidak di beritahu sebelumnya. Tapi kemudian pak Wijaya dan nyonya Hana datang juga ke rumah sakit untuk melihat cucu pertama mereka.


"Hati-hati ya pak, dia masih rentan penyakit. Kalau bapak perokok, lebih baih jangan menciumnya dulu." kata suster memberikan anak Ethan.


"Tidak suster, saya bukan perokok. Tenang saja." kata Ethan.


Kini dia mengazani dan iqomah anak laki-lakinya itu secara bergantian. Lalu dia pun menimang anaknya, menatapnya dan membelai pipinya yang halus itu.


"Aku tak percaya sudah hadir kamu nak, rasanya bahagia sekali." kata Ethan dengan suara terbata karena terharu.


Sedang memandangi anaknya itu, suara panggilan namanya dari jauh membuat Ethan kaget dan menoleh.


"Ethan!"


"Ma, pa?"


"Kamu ini bagaimana, kenapa mama ngga di kasih tahu lebih dulu?" tanya nyonya Hana.


"Maaf ma, tadi Riana ketubannya pecah di mobil. Jadi tadi di mobil itu aku panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Mana sempat aku kabarin mama, aku sudah panik duluan. Jadi langsung ke rumah sakit, dan sebelum masuk ruang bersalin bayiku sudaj lahir lebih dulu." kata Ethan menjelaskan.


Suster mengambil alih bayi laki-laki itu, agar jangan sampai kedua orang yang baru datang itu memegang langsung bayi yang baru lahir.


"Eh, suster. Saya mau lihat cucu saya." kata nyonya Hana.


"Nanti ya bu, ibu baru datang dan takutnya membawa virus dan kuman. Mohon maaf ibu, bayinya masih rentan penyakit. Nanti saya bawa ke ibu bayinya di ruangan inap ya." kata suster itu.


"Baiklah." kata nyonya Hana dengan kecewa.


"Kita ke kamar Riana saja ma, aku belum tahu di mana kamar istriku di rawat." kata Ethan.


Mereka pun kini menuju ruang bersalin, bertanya pada suster di mana kamar inap Riana di tempatkan. Sesampainya di kamar Riana, nyonya Hana memeluk menantu kesayangannya itu. Dia sangat senang sekali telah menjadi nenek dari cucu laki-laki.


"Terima kasih ya sayang, kamu benar-benar hebat. Nanti mama bantu asuh anak kamu." kata nyonya Hana.


"Iya ma, saya masih belum bisa kalau pertama mengurus anakku." kata Riana.


"Emm, mama juga berharap kamu tidak hanya memiliki satu anak. Jangan seperti mama, dulu mama menyesal kenapa ngga memiliki anak dua atau tiga. Sekarang mama sih berharap kamu nanti mau hamil lagi setelah anak pertama ini berusia lima tahun." kata nyonya Hana.


"Ya, terserah mas Ethan aja ma. Tapi, rasanya ngilu banget kalau harus berpikir hamil lagi saat ini." kata Riana.


"Mama ini, kenapa harus membicarakan hamil lagi? Baru juga melahirkan, pasti rasanya kapok tuh kalau mau hamil lagi." kata pak Wijaya.


"Heheh, ya kan agar Riana mengingatnya pa."


"Bagaimana mau mengingatnya, yang dia ingat pasti rasa sakitnya melahirkan. Mama aja sampai bilang kapok hamil dan langsung di tutup rahimnya. Dan sekarang menyesal cuma punya satu anak." kata pak Wijaya.


"Ya kan waktu itu mama pikirnya ngga panjang pa, ternyata setelah Ethan besar. Mama yang kesepian, kalau ada anak lagi kan bisa bergantian mengurusnya. Dan lagi kenapa papa waktu itu langsung menyetujuinya?" kata nyonya Hana lagi.


"Kalau papa sih terserah mama, mama waktu itu bilang nggak mau hamil lagi sambil nangis-nangis. Siapa yang ngga tega melihat istrinya jadi orang nggak sadar bilang begitu." kata pak Wijaya.


Riana hanya tersenyum saja, dia memang mempunyai rencana setelah anak pertamanya besar dia mau hamil lagi.


Sedang asyik mengobrol, suster yang membawa bayi Riana pun masuk. Dia mendekati Riana dan memberikan bayinya dalam keadaan rapi.


"Ini bayinya ya bu, silakan di susui untuk pertama kalinya. Asi pertama itu bagus bagi bayi, jadi jangan sia-siakan ya bu, agar bayinya juga latihan mencari makan sendiri. Bukan hanya sewaktu di dalam perut saja" kata susternya.


"Iya suster, terima kasih." ucap Riana.


"Saya permisi dulu."


Riana mengangguk, nyonya Hana pun maju lebih dekat dengan Riana. Menatap bayi mungil itu yang sedang mencari sesuatu di dekat mulutnya. Riana mencoba memasukkan puttingnya pada mulut bayinya. Dan bayi laki-laki itu menghisapnya dengan cepat dan kuat.


"Mungkin karena dia laki-laki, jadi cepat lapar." ucap nyonya Hana.


"Kamu sudah menyiapkan nama, Ethan?" tanya papanya.


"Sudah pa." jawab Ethan.


"Siapa nama anakmu?" tanya pak Wijaya lagi.


"Emir Syahban Wijaya pa." jawab Ethan dengan bangganya.


Satu bulan dia mempersiapkan dan memikirkan nama itu. Hingga diskusi dengan Riana, apakah nama itu bagus untuk anaknya. Dan akhirnya dia memantapkan untuk menggunakan nama Emir tersebut.


"Waah bagus juga. Mama suka namanya." kata nyonya Hana.


Nyonya Hana tidak sabar ingin menggendong cucunya itu. Tapi bayi laki-laki itu belum juga melepas asinya, meski pun sudah berpindah asi di sebelahnya.


"Dia lapar banget ya sayang?" tanya Ethan.


"Ngga tahu mas, tapi dia ngga mau lepas ini. Mama mau pegang dia dan tadi di lepas malah nangis." kata Riana.


"Ya udah lanjutin aja, jangan paksa di lepas. Apa asi kamu sudah langsung keluar?"


"Tadi sebelum Emir di bawa kemari sih udah keluar aja ma, merembes." kata Riana.


"Waah, bagus itu. Dulu waktu Ethan lahir, asi mama belum keluar selama tiga hari. Akhirnya pakai susu formula dulu selama tiga hari itu, setelah asi keluar mama langsung beri asi." kata nyonya Hana.


Kini dia sudah bisa menggendong Emir, dia sangat senang sekali dengan cucu pertamanya itu. Menimangnya dan mencium dengan pelan beberapa kali.


"Ibu Riana sudah kamu kasih tahu Ethan?" tanya pak Wijaya.


"Sudah pa. Tapi katanya nanti datangnya, tunggu Nino libur dulu." jawab Ethan.


"Kalau pak Juli? Bapaknya Riana?"


"Belum."


"Kenapa belum?"


"Aku masih bingung, nanti kalau bapaknya Riana kemari dan ibunya juga kesini. Apa nanti tidak ada drama seperti dulu?"


"Ya, memang. Kita tidak bisa mengatur apakah mereka akan terjadwal datangnya. Besok bapaknya Riana atau besoknya lagi ibu Sarmi."


"Itu dia pa. Apa lagi Riana sudah akrab dengan istrinya bu Naimah." kata Ethan.


"Tapi, ada baiknya kamu kasih tahu dulu. Kan mertuamu katanya datangnya nanti." kata pak Wijaya lagi.


"Iya sih. Terus, apa aku kasih tahu pak Rudy. Maksudnya bapak Riana?"


"Ya, harus. Secepatnya juga, karena kan mereka ada di kota yang sama. Sedangkan ibunya Riana di kampung, pasti butuh waktu lama untuk kesini." kata pak Wijaya lagi.


"Iya pa. Aku akan kasih tahu bapaknya Riana." ucap Ethan.


Dia lalu mengambil ponselnya, menghubungi oak Rudy untuk memberitahu kalau Riana sudah melahirkan.


"Halo?"


_


_


*******************