My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
52. Image



Riana mendapat pesan singkat itu jadi senang. Tapi bagaimana pun, dia tetap saja merasa khawatir. Meski Ethan memberitahunya dia kalau suaminya itu tidak macam-macam di dalam.


Satu jam sudah berlalu, Riana masih tenang. Tapi hampir dua jam, dia mulai gelisah lagi. Matanya selalu menatap ke pintu ruang kantor Ethan, melirik lagi ke jam tangannya. Ingin dia masuk, tapi Ethan tidak memanggilnya. Jadi dia serba salah untuk masuk atau tidak.


Tak lama, pintu terbuka, Riana berdiri. Dia melihat Natasya berdiri di depan pintu sambil bicara dengan Ethan.


"Jadi, tolong di perbaiki lagi pak Ethan, saya akan datang lagi kemari." kata Natasya.


"Ya bu Natasya, saya akan menyuruh sekretaris untuk memperbaiki surat perjanjian itu." kata Ethan.


Natasya melirik jam di tangannya, dia melirik juga ke arah Riaba dengan sinis. Lalu bicara lagi pada Ethan.


"Pak Ethan, ini sudah waktunya jam makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama di restoran?" kata Natasya mengajak Ethan.


"Maaf bu Natasya, saya sudah ada janji makan siang dengan seseorang." kata Ethan menolak ajakan Nataysa.


"Waah, sayang sekali ya. Tapi lain kali bisa kan kita makan siang berdua saja, tanpa anda mengajak sekretarisnya." kata Natasya.


"Saya pikirkan nanti ya bu Natasya." kata Ethan.


Tentu saja membuat Riana kesal, kenapa suaminya mengatakan seperti itu. Pastinya Natasya akan menagihnya terus dengan ucapan Ethan itu.


Natasya melirik Riana, dia melihat gadis itu seperti tidak suka padanya. Kemudian dia pun berpamitan pergi dari hadapan Ethan, tanpa menoleh atau bicara pada Riana.


Riana diam, dia mendengus kesal. Ethan tersenyum, dia masuk ke dalam ruangannya. Lalu di kejar oleh Riana. Dia masuk ke dalam ruangan itu, mendorong pintunya dan berdiri di depan pintu. Dia tidak melihat suaminya di kursinya, bingung. Kemana Ethan?


Saat berbalik, Ethan memeluk dari belakang lalu menciumi tengkuk Riana. Riana diam, dia menarik nafas panjang dan berbalik menatap suaminya.


"Kenapa? Masih cemburu juga?" tanya Ethan.


"Tadi bicara apa?" tanya Riana.


"Bicara apa? Yang mana?" tanya Ethan merapikan rambut poni Riana.


"Ish, pura-pura lupa lagi." kata Riana.


"Emm, aku ngga tahu ucapan yang mana sayang. Kan tadi bicaranya banyak sama Natasya, pembicaraan yang mana? Hemm?" tanya Ethan lagi.


"Itu, dia meminta makan siang bareng cuma berdua. Kamu jawab apa? Nanti di pikirkan lagi?" tanya Riana menyelidik.


"Ooh, itu. Kan biar enak ngomongnya, kalau menolak secara langsung kan ngga enak sayang. Lagi pula, dia sengaja mengulur waktu untuk tanda tangan kontrak. Jadi nanti aku pikirkan dan menegaskan padanya, jika masih saja mengulur waktu. Aku akan menyudahi perjanjiannya." kata Ethan mencium bibir Riana dengan lembut.


Riana terdiam, dia membalas ciuman suaminya itu. Dia juga merasa lega dan juga senang karena Ethan punya pikiran lain. Setelah merasa cukup, kini keduanya bersiap untuk makan siang bersama.


"Di mana makan siangnya mas?" tanya Riana.


"Emm, di restoran Jepang mau?" tanya Riana.


"Boleh." jawab Riana.


"Ya sudah, ayo kita berangkat. Di restoran terdekat aja, biar nanti kita teruskan pekerjaannya setelah makan siang. Papa ngga membereskan pekerjaanku selama menggantikan, hanya memeriksa saja. Jadi, kita harus kerja ekstra sekarang sayang." kata Ethan.


"Ya udah, nanti kalau belum selesai di bawa pulang saja." usul Riana.


"Oke. Ayo kita pergi."


_


Natasya menagih janji makan siang pada Ethan, dia mengirimi pesan atau meneleponnya. Terkadang Ethan menjawabnya, tapi juga dia mengabaikannya. Dia risih Natasya selalu menagih janjinya untuk makan berdua, hingga akhirnya Ethan pun mau menerim ajakan Natasya itu.


Tentu saja Natasya sangat senang, dia juga sengaja mengulur waktu menyepakati perjanjian dan penanda tanganan kerja sama. Membuat Ethan kesal juga, dan dia memutuskan akan menegaskan jika kerja sama itu akan di lanjutkan atau tidak.


Kini dia bingung harus meminta izin pada Riana tentang makan siang dengan Natasya tanpa dirinya.


"Mas, kamu sedang apa?" tanya Riana.


"Sedang bingung sayang." jawab Ethan.


"Bingung kenapa?" tanya Riana semakin heran.


"Bingung bagaimana meminta izin sama istriku untuk makan siang berdua dengan Natasya. Dia memintaku terus, sedangkan aku tahu istriku pasti cemburu besar sama dia." kata Ethan seperti menceritakan isi hatinya pada orang lain.


Riana diam, dia lalu tertawa kecil. Merasa lucu cara izin padanya agar dia tidak marah. Ethan menatap istrinya, heran kenapa Riana justru tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Ethan.


"Entahlah, kamu lucu." jawab Riana.


"Kok lucu, aku lagi bingung minta izin sama istriku. Kamu malah bilang lucu." kata Ethan lagi.


"Ya ya, kamu silakan saja makan siang dengan Natasya hanya berdua, silakan mas. Aku tidak marah, aku percaya kok sama kamu." kata Riana.


Ethan melebarkan matanya, dia tidak percaya dengan ucapan Riana itu. Dia mendekat lalu berjongkok di depan istrinya itu.


"Yakin kamu mengizinkan aku pergi makan siang berdua saja dengan Natasya?" tanya Ethan memastikan.


"Iya."


"Tapi, jatahku tetap jalan kan?" tanya Ethan lagi.


"Jatah apa?" tanya Riana heran.


"Jatah darimu sayang. Kamu tidak menolaknya kan kalau aku minta jatah?" tanya Ethan lagi.


"Emm ngga tahu."


"Ish, tuh kan. Aku takutnya begitu." kata Ethan lagi.


"Tapi kamu sudah jawab kan sama Natasya kalau kamu bersedia makan siang dengannya saja?" kata Riana.


"Iya."


"Terus, aku harus bilang waw gitu?"


"Heheh, kamu kok begitu sih. Aku memang sudah menyetujuinya makan siang sama dia, aku pusing setiap kali dia menanyakannya. Menelepon terus dengan alasan pekerjaan, kamu tahu sendiri kan. Lagi pula, aku mau menegaskan dia tentang kerja sama itu." kata Ethan lagi.


"Mau memutuskannya?"


"Ya, bisa jadi. Orang seperti itu tidak profesional, pekerjaan sampai di ulur-ulur hanya karena ingin dekat denganku. Aku tidak suka orang seperti itu." kata Ethan.


"Jadi, kamu mengakuinya?"


"Dari dulu aku mengakui kalau dia itu tidak beres, tapi aku coba bersikap profesional saja. Jadi kuputuskan nanti waktu makan siang dengannya. Kamu tidak marah kan?" tanya Ethan.


"Ngga, kamu tenang saja. Aku mengembalikan imageku sebagai gadis yang jutek dan cuek." kata Riana.


"Ya ampun, aku kok jadi khawatir ya." ucap Ethan.


Riana bangkit dari duduknya, dia pergi menuju kamar mandi. Ethan hanya menatap kepergian istrinya yang masuk ke dalam kamar mandi.


_


_


********************