My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
48. Isi Kolor



Ethan mencari Riana di mana adanya, sejak tadi juga mamanya belum ketemu dengannya. Akhirnya dia menelepon mamanya, jika menelepon Riana tidak mungkin langsung di jawab karena ponselnya sejak pagi mati dan belum sempat di aktifkan.


"Halo ma, mama sudah menemukan Riana?" tanya Ethan.


"Sudah, dia di tempat makan. Tadi kata ibunya waktu di lift dia hampir jatuh karena sejak datang ke rumah dia ngga makan dulu, mama pikir dia datang sudah sarapan. Jadi langsung di suruh make up aja." kata nyonya Hana.


Ethan tertegun, jadi istrinya itu belum sarapan?


"Aku kesana sekarang. Kasihan banget sih istriku." kata Ethan.


Klik!


Ethan menutup ponselnya, dia langsung masuk ke dalam lift dan segera ingin menemui Riana. Rasanya dia ingin sekali memeluk Riana, merasa kasihan karena sejak pagi belum sarapan. Dia tidak tahu kalau Riana sejak pagi sekali datang ke rumahnya.


Bahkan mamanya tidak memberitahu kalau Riana datang ke rumah. Tapi dia heran, kenapa Riana datang ke rumahnya? Mau dia?


Sampai di lantai dasar, dia bukannya menuju ball room menemui sang penghulu. Dia menuju tempat prasmanan yang di sediakan khusus untuk tamu undangan. Ethan mencari di mana Riana makan dengan mama dan mertuanya.


Tampak dia melihat Riana yang sudah rapi dandanannya sedang makan di suapi oleh ibunya. Ibunya memaksa menyuapi Riana makan, katanya agar dia mengingat itu suapan terakhir setelah dia menikah.


"Riana." kata Ethan.


Riana menoleh pada Ethan, dia mendengus kesal karena sejak pagi niatnya ingin mendamprat suaminya. Tapi justru di tarik oleh mertuanya untuk di dandani.


Ethan duduk di samping Riana, dia melihat pemandangan yang mengharukan sebenarnya, dan dia ingin mengambil alih menyuapi Riana.


"Biar aku saja bu yang menyuapi Riana." kata Ethan.


"Ngga usah, biar ibu saja. Ini menandakan suapan terakhir sama anak ibu yang sudah di sunting oleh suaminya. Nanti setelah tinggal sama nak Ethan, Riana sudah bukan ibu lagi yang suapi." kata bu Sarmi.


Ethan diam, dia hanya menyaksikan peristiwa haru dari istri dan mertuanya. Meski itu mendadak, tapi memang ada kesan mengharukan di sana. Ethan hanya diam, tapi dia kaget juga ketika mamanya ikut menyodorkan makanan ke mulutnya.


"Mama juga mau ikutan, kamu sudah menikah. Nanti tinggal dengan istrimu, istrimu yang akan menyuapi kamu nantinya. Meski hanya simbol saja sih, kamu mau minta suap sama mama juga ngga masalah." kata nyonya Hana.


"Ish, mama ini." ucap Ethan.


Ibu mereka sedang saling menyuapi anaknya masing-masing. Lama mereka menyuapi sang pengantin, hingga pak Wijaya pun menghampiri.


"Hei, kalian itu bagaimana. Itu pak penghulu dan petugas KUA sedang menunggu kalian. Kenapa kalian malah suap-suapan?" tanya pak Wijaya.


"Eh, iya pa. Mama lupa, heheh." kata nyonya Hana tertawa kecil.


"Haish! Mama ini, dan kamu juga Ethan. Kenapa minta makan di suapi mama kamu sih? Bukannya kamu dan Riana tanda tangani surat nikah malah makan di sini." kata pak Wijaya.


"Iya pa. Ya sudah, aku dan Ruana kesana dulu." kata Ethan.


Ethan memegang tangan Riana, dia memapah Riana yang sudah di rias dengan cantik. Tatapan Ethan tanpa beralih dari wajah istrinya itu yang sejak tadi diam saja.


"Kamu cantik sekali." kata Ethan berbisik.


"Mana ada pengantin tidak cantik." kata Riana.


"Setipa hari sebenarnya kamu cantik dan menarik bagiku." kata Ethan lagi.


"Aku masih menyimpan amarah ya sama kamu. Bisa-bisanya menikah mendadak begini, dan lagi tidak memberitahuku waktu datang ke rumah tadi malam." kata Riana dengan nada dinginnya.


"Tenang sayang, nanti di kamar kamu bebas mau marah padaku. Sekarang kita menemui petugas KUA untuk tanda tangan surat nikah. Setelah itu menemui tamu undangan." kata Ethan.


Setelah selesai, mereka berfoto dan kini mereka pun pergi ke tempat resepsi di tengah ball room menemui tamu undangan.


_


Pesta telah usai, kini kedua pengantin baru sudah masuk dalam kamar pengantin. Riana merasa canggung di kamar berdua dengan Ethan. Dia belum melepaskan baju pengantinnya sejak masuk kamarnya, sedangkan Ethan sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi karena di samping lelah, tubuhnya sangat lengket.


Lama Riana diam duduk di tepi ranjangnya, dadanya selalu berdegup kencang karena takut Ethan meminta jatah lebih cepat. Di mainkannya tangannya beberapa kali karena gugup, dan dia mencari ponselnya di dalan tasnya. Mencari kesibukan dengan bermain ponsel.


Ethan keluar dengan hanya memakai handuk saja di pinggang. Seperti dulu sewaktu di kamarnya ketika Riana menjadi asisten pribadinya.


Riana melirik ke arah Ethan yang hanya memakai handuk saja. Dia diam dan menunduk, pura-oura sibuk mengecek ponselnya. Ethan tersenyum dan mendekat pada Riana.


Duduk di sampingnya dan langsung memeluknya. Riana terkejut, dia menoleh dan melihat tubuh Ethan yang terlihat sixtpeck dan berbuku-buku. Dia menoleh ke arah lain, jantungnya berdetak kencang ketika Ethan memeluk lalu mencium pipinya.


"Kenapa belum gantu baju? Atau aku bantu membukakan bajunya? Hem?" tanya Ethan mulai mengendus leger Riana.


Riana merasa geli dan menghindar, dia menggeser duduknya ke samping. Ethan mengikutinya dan kembali memgendus lehernya dengan cepat, di ciuminya leher jenjang Riana kemudian dia menggigitnya.


"Aaaauw!" teriak Riana kaget.


"Apa sih?" tanya Ethan dengan senyum nakalnya.


"Kenapa menggigitku?" tanya Riana.


"Aku gemas sayang, cepat ganti baju dan mandi." kata Ethan masih tersenyum.


"Terus, kalau sudah mandi. Mau apa?" tanya Riana.


"Mau apa? Kamu maunya apa?" tanya Ethan menggoda Riana.


"Aku tidak tahu. Aku mau makan." jawab Riana dengan pipi memerah.


"Kan sebelum masuk kamar, kita makan dulu. Kamu lupa?" tanya Ethan.


"Yaa, aku lapar lagi." jawab Riana gugup.


"Duh, makin gemas aku dengan tingkah kamu. Baiklah, aku pesankan makanan dan di bawa kemari. Sekarang kamu lepaskan bajunya dan cepat mandi. Kalau tidak segera mandi, aku akan ...." kata Ethan kembali menggoda Riana.


"Akan apa?" tanya Riana memundurkan duduknya lagi.


Ethan tersenyum, dia duduk bersandar dan bersedekap. Masih dengan hanya memakai handuk, tonjolan di bagian pahanya terlihat jelas. Dia membiarkan Riana melihatnya.


"Kamu pasti tahu apa yang akan aku lakukan, sekarang ini aku tidak memakai kolor. Sudah pasti isi kolor yang pernah kamu lihat akan menerjangmu." kata Ethan lagi.


Riana bangkit dari duduknya dengan cepat, dia berlari menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Dia akan mandi selama mungkin, agar Ethan tidur dan lupa dengan niatnya untuk malam pertama. Dia tahu setelah menikah itu akan terjadi malam pertama.


"Huh, kenapa aku jadi gugup begini sih? Benar-benar ya, dia selalu menggodaku terus. Apa lagi itu di balik handuknya, ya ampun. Aku ngga bisa membayangkannya, oh Tuhan ...." ucap Riana melepas bajunya untuk segera mandi.


_


_


********************