My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
55. Kunjungan Sahabat



Setelah kembali ke kantor, Riana diam saja sejak dia masuk ke dalam mobil Ethan sampai di meja kerjanya. Membuat Etha heran dengan istrinya itu. Dia pun bertanya pada Riana.


"Sayang, kamu kenapa banyak diam sejak di mobil tadi?" tanya Ethan ketika Riana masuk ke dalam ruangannya.


"Aku heran sama pak Rudy itu, dia tadi melihatku kok agak aneh ya." kata Riana.


Saat ini pekerjaan sedang santai, Riana sudah membuat proposal pengajuan kerja sama pada tiga klien. Tinggal pemeriksaan dari Ethan, dia sudah memberikannya untuk di periksa. Tapi Ethan ingin santai dulu dengan istrinya itu.


Ethan duduk di sofa, Riana juga. Dia duduk bersandar di dada suaminya itu sambil memainkan kertas yang di gulung. Tangan Ethan mengapit dada Riana, membuat dia dengan usil mengelus dan memencet bagian yang menonjol di dada Riana itu.


"Aneh bagaimana sayang? Apa dia menyukaimu? Mustahil menurutku." kata Ethan.


"Bukan tatap suka mas, tapi seperti tatapan itu aku kenal. Entahlah, aku ngga mengerti." kata Riana.


Ethan mencium kepala istrinya, lalu turun ke bagian pipi. Di tegakkannya posisi duduk Riana agar sejajar dengannya meski posisinya dia di belakang.


"Mau apa sih?" tanya Riana.


"Mau kamu. Kita main di sini yuk?" tanya Ethan.


"Ya, ini kan di kantor mas. Masa sih di sini, nanti ada yang masul bagaimana?" tanya Riana.


"Kan di kuci, sebentar saja sayang." kata Ethan terus menciumi leher bagian belakang Riana.


"Tapi ini kan masih kerja mas, eeuh." ucap Riana kaget lehernya di hisap dan di gigit.


Dia juga mulai bergairah dengan sentuhan tangan suaminya. Ethan sudah mengunci pintu dan segera menunaikan hajatnya dengan istrinya. Tiba-tiba dia ingin bercinta di kantor dengan Riana.


Sangat mengejutkan bagi Riana, tapi akhirnya dia pun mau. Kini keduanya pun sudah mulai saling menyentuh pada bagian-bagian yang sensitif. Lama kelamaan keduanya saling terbuai, dan terjadilah percintaan panas di kursi sofa itu selama satu jam itu.


_


Esok harinya, Riana dan Ethan berangkat ke kantor seperti biasa. Mereka sangat senang setiap hari selalu berangkat kerja sama-sama. Ethan selalu merasa hidupnya benar-benar sempurna memiliki Riana, meski terkadang istrinya itu cerewet masalah sehari-hari di rumah.


"Hari ini ada jadwal apa lagi sayang?" tanya Ethan.


"Kalau pagi sih di kantor saja, banyak berkas masuk dari bagian administrasi, keuangan dan bagian lainnya. Siangnya bertemu dengan pak Bambang dari perusahaan kontraktor." jawab Riana.


"Oh, ya sudah. Nanti setelah makan siang kita langsung menemui pak Bambang itu saja. Dia minta bertemu di mana?" tanya Ethan.


"Di hotel katanya, dekat kok dari kantor kita." kata Riana.


"Hotel Bintang?"


"Ya, dia menginap di sana."


"Baiklah, semuanya di siapkan. Tinggal nanti pergi makan siang langsung di bawa." kata Ethan.


"Oke."


Ethan melirik Riana, dia melihat istrinya sedang memainkan ponselnya. Melihat apa yang di lihat Riana.


"Kamu sedang lihat apa?" tanya Ethan.


"Lihat tas-tas baru di online shop. Bagus-bagus deh, pengen beli." kata Riana.


"Beli aja langsung sayang." kata Ethan.


"Tapi ini tas import, lama datangnya." kata Riana.


"Ya ngga apa-apa. udah beli aja." kata Ethan.


"Oke suamiku."


Riana menyodorkan kepalanya dan mencium pipi suaminya. Ethan tersenyum senang. Mobil sudah masuk area parkiran khusus di kantor. Setelah terparkir, mereka pun keluar. Ethan menggandeng tangan Riana.


Semua karyawan di kantor Ethan tahu kalau Riana adalah istri sang bos. Bos dan sekretaris sepasang suami istri, jadi tidak ada yang heran jika melihat Ethan dan Riana bergandengan. Apa lagi Ethan memeluk Riana dengan posesif.


Ada yang merasa iri, ada juga yang mengagumi keduanya. Meski keduanya adalah sepasang suami istri, mereka bekerja dengan semangat. Bahkan banyak yang bilang, Riana membawa semangat baru pada sang bos kantor.


"Siapa?" tanya Ethan.


"Saya kurang tahu pak, tapi sepertinya dia orang asing." jawab resepsionis lagi.


"Apa Mr. Patrick jadwalnya datang hari ini sayang?" tanya Ethan pada Riana.


"Ngga sih, setahuku tiga hari dia baru datang. Sesuai jadwal katanya." kata Riana.


"Lalu siapa dia?" tanya Ethan.


"Ya sudah, langsung ke atas saja. Kan nanti tahu sendiri siapa yang datang bertamu." kata Riana.


"Baiklah, terima kasih ya."


"Iya pak Ethan.


Ethan dan Riana pun melangkah menuju lift, pikiran Ethan berkelana. Siapa tamu asing itu. Riana menatap suaminya yang sedang bingung, justru Riana merasa takut jika tamu itu adalah mantan pacar Ethan.


Jika benar, mau apa dia datang menemui suaminya itu?


Pintu lift terbuka, Ethan dan Riana keluar dari dalam lift dan pergi menuju ruangannya. Tangan Ethan masih menggandeng tangan Riana, tapi pikirannya masih penasaran siapa tamu asing itu. Dia pikir tidak mungkin Daby datang ke kantornya.


Sampai di depan ruang kantornya, terdengar suara staf di lantai gedungnya sedang menemani tamu di dalam sebenarnya ruang kantornya tidak sembarangan di masuki jika bukan izin darinya atau Riana.


"Mas, ada orang di dalam." kata Riana.


"Ya, itu staf dan tamu itu sepertinya." kata Ethan.


"Apa aku juga boleh masuk?" tanya Riana.


"Masuk saja, lihat siapa yang datang." kata Ethan.


Ethan masuk ke dalam, di susul oleh Riana. Tampak di sofa duduk pria asing sedang mengobrol. Dan pria asing itu yang membuat Ethan terkejut, bahkan tidak percaya dia akan datang ke kantornya.


Riana sendiri tidak tahu siapa laki-laki itu, hanya Ethan yang tahu. Dan keduanya saling pandang tanpa saling sapa. Staf itu berdiri dan memberi hormat pada Ethan, dia lalu pergi meninggalkan tamu asing Ethan.


Ethan melirik istrinya dan memintanya untuk menyiapkan berkasnya.


"Sayang, siapkan berkas untuk nanti siang. Dan tolong nanti buatkan kopi dua ya." kata Ethan pada istrinya.


"Iya mas, tapi kamu tahu dia siapa?" tanya Riana.


"Dia sahabatku di Inggris dulu." jawab Ethan.


"Ooh, yang itu?"


"Ya."


Riana menatap pada sahabat Ethan yang tak lain adalah Jhonson. Kemudian dia berlalu dan keluar dari ruangan suaminya, meninggalkan rasa penasaran Riana kenapa sahabat suaminya datang menemuinya. Masihkah berani dia datang menemui Ethan setelah apa yang di lakukannya dulu?


Sedangkan Ethan duduk di depan Jhonson, dia diam saja. Dia duduk tegap dan menatap datar pada Jhonson, tangannya bersedekap.


"Ada apa kamu datang menemuiku? Berani sekali ya." kata Ethan dengan tenang.


"Maafkan aku Ethan." ucap Jhonson lirih.


"Maaf tidak ada gunanya. Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Ethan.


Jhonson diam, dia menunduk menarik nafas panjang. Ethan menebak jika Jhonson punya masalah yang mungkin dia tidak bisa menyelesaikannya sendiri.


_


_


********************