My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
40. Membuat Cemburu



Sikap Riana semakin kaku dan canggung berdekatan dengan Ethan setelah kejadian dia dengan mata melebar dan jelas melihat kolor Ethan yang terlihat menonjol.


Ya, Ethan lupa menutup restlsetingnya ketika mereka bertemu klien dan Ethan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Beruntungnya klien itu sudah pulang dan mereka langsung naik mobil. Jadi, tidak membuat Ethan malu karena mereka sudah pulang lebih dulu.


Ethan sampai bingung dengan sikap Riana yang tiba-tiba jadi penurut dan tidak banyak bicara dengannya. Seperti pagi ini, dia mengerjakan tugasnya dengan baik. Memakaikan baju dan juga dasi Ethan tanpa banyak bicara.


"Riana, kenapa kamu banyak diam?" tanya Ethan.


"Tidak apa-apa pak." jawab Riana datar saja.


Beberapa kali Ethan bertanya, tapi jawabnya tida apa-apa saja. Membuat dia kesal sekali, sampai di kantor pun Riana banyak diam.


"Dia kenapa sih? Apa karena waktu di mobil itu?" ucap Ethan.


Tok tok tok.


"Masuk!"


Pintu terbuka, Riana masuk dengan wajah datarnya. Ethan menatap dalam Riana dari pintu hingga dia mendekat. Dia bangkit dari duduknya dan mendekat pada Riana.


"Ada apa?" tanya Ethan berdiri di depan Riana dengan bersedekap.


"Ada pertemuan dengan nona Natasya pak." kata Riana.


"Di mana?" tanya Ethan menatap terus pada Riana.


"Di restoran yang dulu pernah bertemu." jawab Riana.


Ethan diam, dia lalu menarik tangan Riana untuk duduk di sofa. Riana diam saja, dia menurut duduk di sofa.


"Riana, kenapa kamu kaku sekali sikapmu padaku?" tanya Ethan.


"Tidak apa-apa pak." jawab Riana.


"Apa kamu bohong?"


"Tidak pak."


Ethan mendengus kasar, dia berpindah duduknya di samping Riana. Menatap gadis itu, tapi Riana malah menunduk. Kini Ethan semakin berani memegang dagu Riana agar gadis itu menatapnya juga.


"Tatap aku." kata Ethan.


Tapi Riana melengos dan berkata dengan datar seperti biasa, " jangan seperti itu, ini kantor."


"Heh, aku penasaran kenapa kamu banyak diam? Apa karena kamu melihat kolorku waktu di mobil?" tanya Ethan, membuat wajah Riana memerah.


"Jangan bahas itu!" ucap Riana.


"Baiklah, kamu tahu. Aku suka sama kamu, tapi sepertinya aku harus bergerak lebih cepat dan tak terduga." kata Ethan.


Dia bangkit dari duduknya dan beralih pada pekerjaannya. Riana diam, dia menoleh ke arah bosnya yang duduk menatap laptopnya. Kini Ethan yang akan bersikap dingin pada Riana. Dan Riana pun bangkit, dia menuju meja kerja Ethan dan mengatakan kembali pada bosnya.


"Jam satu siang pertemuan dengan nona Natasya." kata Riana.


Riana menatap sebentar sang bos, lalu dia pun pergi dari hadapan Ethan. Tidak peduli dengan laki-laki itu yang sedang merajuk.


_


Siang hari, pukul satu kurang sepuluh menit Ethan dan Riana berangkat ke restoran di mana pertemuan dengan Natasya. Seperti hari-hari sebelumnya, mereka banyak diam. Ethan bergelut pikirannya bagaimana menaklukkan Riana dan membuat gadis itu marah.


Sedangkan Riana hanya memikirkan pekerjaan, mengalihkan pikirannya yang mulai terganggu dengan sikap Ethan, perlakuan konyol Ethan dan tatapan laki-laki itu.


Dia ingin bertahan agar tidak tergoda dengan pesona laki-laki itu. Di liriknya Riana ke arah bosnya yang diam saja. Kemudian, sampailah mereka di restoran di mana pertemuan dengan Natasya. Klien yang membuat Riana kesal sebenarnya, tapi Ethan sudah menanda tangani kontrak kerja sama.


Jadi, mau tidak mau sering ada pertemuan dengan gadis itu. Riana menarik nafas panjang, dia tahu harus bagaimana bersikap pada gadis arogan itu. Selain malas berdebat, dia akan diam saja sebelum bosnya memanggilnya.


Ternyata, Natasya belum datang. Ethan dan Riana duduk bersama, Riana sibuk dengan laptopnya dan Ethan sibuk dengan ponselnya. Dia membuka kabar tentang kafe di Inggris bagaimana keadaannya.


Satu yang membuatnya miris tentang kafe itu, ternyata sepi pelanggan. Ethan tersenyum tipis membaca sebuah informasi tentang kafenya dulu di Inggris yang dia kelola dengan Jhonson.


Tak lama, Natasya pun datang. Dia berjalan dengan anggun dan melambaikan tangan ketika Ethan menoleh ke arahnya dengan senyuman lebarnya. Riana melihat itu, tapi dia mencibirnya. Ethan menoleh ke arah Riana. Dia tahu gadis itu tidak suka dengan Natasya, dan dia pun punya ide baru.


"Hai nona Natasya." sapa Ethan langsung berdiri.


"Oh, hai pak Ethan. Senangnya bisa bertemu anda lagi." kata Natasya menyalami laki-laki itu..


"Oh ya? Tentu saja dengan saya juga, ini pertemuan kedua ya dari yang kemarin." kata Ethan menimpali.


Riana kaget dengan sikap Ethan yang sangat ramah pada Natasya, menarikkan kursi untuknya dan duduk di sebelahnya. Seperti tidak mempedulikan dirinya di sebelahnya tadi.


Riana pun pindah duduknya menjauh dari Ethan dan Natasya. Ethan melirik saja, tapi tidak melarang Riana pindah duduk. Kini dia pun beralih kembali dengan Natasya, mengobrol santai dan seolah akrab dengan gadis itu.


Tentu saja membuat Natasya senang, sikap Ethan berbeda dengan pertemuan yang dulu. Dia senang karena Ethan tidak peduli dengan sekretarisnya itu.


"Oke, nona kita langsung bicarakan masalah pekerjaan." kata Ethan.


"Kenapa buru-buru pak Ethan. Aku banyak waktu untuk mengonrol dengan anda." kata Natasya dengan sedikit menggoda.


Tentu saja membuat Riana menoleh dan menatap tajam pada gadis itu. Tapi dia diam saja, menunggu reaksi Ethan, tapi di luar ekspektasi Riana. Ternyata Ethan menanggapinya dengan santai dan hangat.


Riana pun mendengus kesal, dia melanjutkan pekerjaannya tadi. Tapi pikirannya kacau, dia masih mendengarkan percakapan yang tidak ada habisnya dan tidak ada sangkutannya dengan pekerjaan. Dia pun beranjak dan mendekat pada Ethan, mengingatkan laki-laki itu.


"Pak, ada tugas lain. Apa sebaiknya bisa di percepat pertemuannya?" tanya Riana.


"Tunggu sebentar Riana. Kami sedang santai dulu." kata Ethan.


Riana diam, dia pun duduk lagi di kursinya. Tak lama makanan datang dengan pesanan sebelumnya. Mereka makan dan asyik bercengkarama tanpa melihat lagi Riana yang kesal sekali sejak tadi.


_


_


********************