My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
37. Surat Perjanjian



Setelah mengantar Riana pulang ke rumahnya, Ethan sudah sampai di rumahnya dan langsung merebahkan tubuhnya. Terasa lelah karena perjalanan jauh, tapi hatinya senang bisa menjemput Riana kembali ke kota. Dia bisa bekerja lagi dengan Riana.


Pikiran Ethan tiba-tiba melayang ketika dia sedang berdiri di kamar mandi di rumah Riana. Dia memikirkan bagaimana tubuh Riana yang putih mulus itu tampak jelas dia lihat. Pikiran lain pun melintas di benaknya, tapi dia pun menggeleng sadar.


"Haish, kenapa aku memikirkan yang lain sih? Apa aku harus menikahi Riana saja ya." ucap Ethan dalam menghapus ingatannya tentang tubuh Riana.


Tapi dia semakin gelisah, entah kenapa. Pikirannya kembali melayang tentang ucapan Riana tadi di warung makan.


"Dia tidak mau pacaran, apa lagi pacaran gaya bebas. Tidak mungkin, dia gadis baik-baik." ucap Ethan lagi.


Sedang memikirkan Riana, pintu kamar di ketuk dari luar. Ethan kaget, dia pun bangkit dan membuka pintu kamarnya. Tampak mamanya berdiri di depan pintu dengan tersenyum.


"Ada apa ma?" tanya Ethan.


"Emm, mama ingin dengar ceritamu tentang kunjunganmu ke kampung Riana." kata nyonya Hana.


"Ngga ada apa-apa ma. Memang kenapa mama tanya begitu?" tanya Ethan.


Dia duduk di ranjangnya, di susul nyonya Hana duduk di sampingnya.


"Soalnya mama kaget aja, kata papa kamu pergi ke kampung Riana. Ada urusan. Urusan apa sayang?" tanya mamanya lagi.


"Cuma urusan pekerjaan ma. Tapi sampai di sana Riana malah mau di bawa kabur sama dukun cabul." kata Ethan lagi.


"Apa? Di culik maksud kamu?"


"Iya. Dia di culik sama dukun yang di anggap sakti di sana. Setiap gadis di sana meminta doa padanya dan dukun itu mendoakannya dengan syarat harus di cabuli lebih dulu sama dia. Kan itu penipuan, Riana mau di doakan dan ya mau di perkosa dengan dalih di doakan. Karena ibunya memaksanya, tapi aku halangi di jalan. Beruntung deh dia selamat dan adiknya juga." kata Ethan lagi.


"Waah, jahat banget ya ibunya."


"Ya, tapi ibunya sudah sadar. Eh, dukun itu yang datang ke rumah."


Nyonya Hana terus bertanya tentang anaknya itu di kampung Riana. Dan Ethan menceritakan semuanya dari kejadian dia menolong Riana dan adiknya. Hingga dia kembali lagi ke rumah.


"Hemm, kayaknya ada yang sedang jatuh cinta nih." kata mamanya.


"Mama ngomong apa sih."


"Hahah! Mama tahu sayang, kata papa kamu sering banget bertengkar dengan Riana. Tapi kalian tetap saja bekerja sama di kantor."


"Ya kan, namanya bos sama bawahan ma. Harus kerja sama dengan baik." kata Ethan mencoba mengelak tebakan mamanya.


"Ya, Riana itu baik sayang. Mama dan papa suka." kata nyonya Hana.


Nyonya Hana pun berdiri, dia pun melangkah untuk keluar. Ethan diam saja, menatap kepergian mamanya dari kamarnya. Tapi dia pun memanggil mamanya.


"Mama!" panggi Ethan.


"Kenapa sayang?"


"Emm, apa aku harus menikah saja ya ma?" tanya Ethan ragu.


"Itu yang mama tunggu sayang, cepatlah menikah. Siapa yang kamu sukai, papa dan mama akan merestui." kata nyonya Hana.


Ethan mengerutkan dahinya, mamanya seperti sudah tahu kalau dia mulai menyukai Riana.


"Kalau yang aku suka bukan Riana?" tanya Ethan mencoba memancing mamanya.


"Ya, tergantung siapa gadis yang kamu suka dan mau kamu nikahi. Papa dan maka akan pertimbangkan."


Ethan tersenyum, dia yakin mama dan papanya setuju kalau dia menyukai sang sekretarisnya.


"Sama-sama sayang."


Nyonya Hana pun keluar, dia senang akhirnya anaknya menyukai Riana. Meski Ethan tadi hanya memancing saja, apakah mereka menyukai gadis selain Riana.


"Oke, aku akan mengejar Riana. Tunggu aku meyakinkan hatiku Riana, kamu pasti akan aku miliki." ucap Ethan dengan senyum mengembang.


Berbagai rencana dia pikirkan untuk kembali menjahili sekretarisnya itu. Wajah senang Ethan kembali bersemi, memikirkan Riana yang manis.


_


Di kantor, Ethan memanggil Riana masuk ke dalam ruangannya. Dia akan meminta kembali Riana jadi asisten pribadinya lagi. Dan tak lama Riana pun masuk ke ruangan Ethan, dia melangkah mendekat. Melihat bosnya itu sedang duduk diam sambil memejamkan matanya, Riana mengerutkan dahinya.


"Ada apa anda memanggilku pak?" tanya Riana membuyarkan lamunan Ethan tadi.


"Oh, kamu sudah masuk. Duduklah." kata Ethan.


Riana pun duduk, dia memperhatikan apa yang di lakukannya itu. Menanda tangani sebuah lembar kertas dan di sana ada juga namanya. Riana mengerutkan dahi.


"Nih, tanda tangani." kata Ethan menyerahkan lembar kertas itu.


Riana menerima lembar kertas itu, dia membaca tiap barisnya. Dan dia mengerutkan dahinya lalu menatap Ethan.


"Ini surat perjanjian?" tanya Riana.


"Ya, surat perjanjian. Kalau kamu akan jadi asisten pribadiku lagi." kata Ethan.


"Tapi, untuk apa? Kan anda sudah ada di umah, sudah ada yang membangunkan ada dan menyiapkan segalanya ketika mau ke kantor. Jadi untuk apa jadi asisten pribadi anda lagi." kata Riana.


"Hanya sebulan Riana, dan itu keuntungannya tertulis di sana. Kamu mau ngga dengan keuntungannya jika menyetujui menjadi asisten pribadiku." kata Ethan lagi.


Riana menghela nafas panjang, dia membaca lagi apa yang tertulis di sana. Keuntungannya jika dia menerima menjadi asisten pribadi Ethan adalah rumahnya di kampung akan di renovasi dan akan di perluas kebun milik ibunya.


Sangat menggiurkan bagi Riana, tapi dia curiga. Kenapa Ethan mau merenovasi rumah ibunya di kampung. Dia ingat dengan kata sesuatu yang belum di ungkapkan Ethan sewaktu di mobil. Dan juga di warung makan, Ethan juga tidak melanjutkan ucapannya itu.


"Sebenarnya, apa yang anda rencanakan pak?" tanya Riana.


"Aku tidak merencanakan apa-apa. Bukankah itu bagus, semua keuntungan besar ada untukmu. Dan kamu hanya menjadi asisten pribadiku selama satu bulan." kata Ethan.


"Tapi ini aneh, dulu anda menjadi asistenmu aku tidak mendapatkan apa-apa. Malah anda selalu membuatku kesal." kata Riana.


"Ya, terus terang memang kali ini berbeda. Tapi jangan berprasangka buruk, aku hanya ingin melakukan itu saja. Bagaimana, kamu setuju?" tanya Ethan.


Kedua tangannya di tangkup dan di tempelkan pada mulutnya sambil menatap Riana. Tatapan berbeda yang Riana tangkap dari mata Ethan, dia menghela nafas panjang.


"Baiklah, hanya sebulan kan?" tanya Riana.


"Ya. Dan kamu harus melakukannya tanpa ada kata terlambat, jika kamu terlambat kamu dapat sanksi dariku." kata Ethan lagi.


"Aku jadi curiga dengan semua ini." ucap Riana menatap datar pada bosnya itu.


Ethan hanya menaikkan alisnya saja. Lalu dia mengambil laptopnya, berpura-pura sibuk agar Riana tidak berpikir curiga padanya. Dia hanya mau Riana lebih dekat lagi padanya, dan selanjutnya akan ada rencana lain.


_


_


**********************